Sukimin Radja (1), Polisi Berprestasi, Bersahaja, Berakhlak Mulia

0
114
Sukimin (berseragam polisi) berfoto bersama dengan satuan

Selalu ada tantangan dalam menjalani kehidupan. Harapan kadang berbalik. Sukimin, seorang AKBP (Purn) Polisi adalah sosok yang mampu mengahadapi titik balik itu. Harapan menikahi perempuan pujaan hatinya untuk selalu bahagia sepanjang masa, ternyata diuji tidak lama setelah menikah. Di usia pernikahan tiga bulanan, ujiannya datang. Si pujaan hatinya mengalami sakit dan Sukimin ternyata tidak bergeming. Dia tetap seorang polisi yang setia meskipun peluang poligami mungkin saja bisa dilakukan. Kesetiaan adalah modal dari kemauan untuk tetap jujur dalam kemanusiaan.

KampusDesa — Jujur, pekerja keras, kreatif, professional, dan percaya diri. Inilah lima jatidiri yang paling tepat di dalam menggambarkan AKBP (Purn) Sukimin Radja SHI. Sosok polisi ideal ini kehadirannya senantiasa ri Uddani (dirindukan) keluarga dan ri Purennu (dipercaya) masyarakat. Tujuan hidupnya teramat mulia. Hidup penuh keberkahan dan bermanfaat bagi umat.

Terlahir dari seorang ibu rumah tangga dan petani, Sukimin bertekad membaktikan dirinya demi kejayaan negeri. Menjadi polisi. Inilah caranya mengabdikan diri kepada ibu pertiwi.

Menjadi polisi memang menjadi cita-cita Sukimin sejak kecil. Alasannya, polisi itu gagah dan berani. “Sejak kecil polisi juga selalu ada di dekat rumah. Namanya, polisi Bimmas (polisi Pembina masyarakat – red),” ujarnya ramah.

Saat ditanya dukungan orangtua, pria pria yang memiliki saudara kandung bernama Syamsuddin Raja dan Sukaedah, S. Pd ini menjelaskan kalau kedua orangtuanya mendukung dirinya. Hal itu dibuktikan dengan perhatian orangtua saat ia mendaftar. Orangtua ikut menemani, membantu, dan mengurusinya saat mendaftar. “Alhamdulillah atas dukungan dan doa kedua orang tua, saya dinyatakan LULUS, lalu mengikuti pendidikan selama sembilan bulan di SPN BATUA pada periode tahun 1981-1982,” jelasnya.

Simulakra Kehidupan

Kamis, 27 Februari 1960. Desa Caramming menjadi saksi bisu atas lahirnya Sukimin Radja. Desa itu terletak di Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kedua orangtuanya telah mengasuhnya sejak kecil, anak-anak, hingga remaja.

Pria yang terlahir dari pasangan Radjanung dan Djintang ini benar-benar memperhatikan aspek pendidikan. Ia giat dan rajin menimba ilmu. Jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, dan SMA dilaluinya dengan semangat dan penuh perjuangan. Sukimin menempuh jenjang pendidikan dasar di SD Lamanda (1966-1972), melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah di SMEP Bonto Tiro (1973-1976), meneruskan ke jenjang pendidikan atas di SMAN 1 Bulukumba (1977-1980). Jenjang pendidikan sarjana strata pertama (S-1), ditempuh Sukimin di STAI YAPNAS Jeneponto (2002-2006).

Adapun jenjang pendidikan Kepolisian, Sukimin menempuh Seba Wamil di SPN Batua Makassar (tahun 1991-1992), melanjutkan ke Setukpa POLRI di Sukabumi (tahun 1997-1998), meneruskan di Dikjur Polri Bimmas Polri di Airud Polri Jakarta (tahun 1984-1985), kemudian mengikuti Peningkatan Kemampuan Gadik di Kinasi Bogor Jawa Barat (tahun 2014). Semangat belajar dan memperoleh pengetahuan ini terus berlanjut hingga kini.

Ada momentum yang amat dikenang Sukimin hingga kini. Masa inspiratif itu adalah saat bersekolah di SMA. Seorang guru Kimianya, Husain Malle, selalu menginspirasi murid-muridnya untuk menjadi anak bangsa yang baik, jujur, bekerja dengan ikhlas dan penuh integritas saat mengabdikan diri kepada bangsa dan negara.

Kerasnya kehidupan benar-benar mendewasakan Sukimin. Di masa remaja, ia telah membantu kedua orangtuanya berdagang kacang tanah dan jagung. Rasa gengsi tidak menghalanginya untuk menaklukkan kehidupan.

Kerasnya kehidupan benar-benar mendewasakan Sukimin. Di masa remaja, ia telah membantu kedua orangtuanya berdagang kacang tanah dan jagung. Rasa gengsi tidak menghalanginya untuk menaklukkan kehidupan. Ia rela menyewa truk Binaraya, lalu  mengemudikannya menuju Makassar. Jauhnya perjalanan selama tiga hari tiga malam tidak melunturkan semangatnya. Tidak masuk sekolah selama sepekan sudah merupakan hal biasa baginya. Itu dilakukan demi menunjukkan baktinya kepada kedua orangtuanya. Bagi Sukimin, Cintakasih dan perhatian kedua orangtuanya merupakan kenangan terindah di dalam hidup dan kehidupannya.

Candradimuka Asmara

Kehidupan romansa Sukimin cukup unik. Penggemar kuliner ikan bakar dan jus buah ini mengaku tidak mengenal dan tidak pernah berpacaran. Setelah wisuda, ia telah dijodohkan oleh orangtua dengan sepupu. Sepupu itu sedang berkuliah di Makassar. Rupanya takdir berkata lain. Allah telah mempersiapkan perempuan lain yang lebih baik bagi Sukimin.

Kali kedua ini juga dijodohkan. Uniknya, perempuan itu juga belum begitu kenal. Karena sudah berjodoh, rumah tangga Sukimin hingga sekarang tetap harmonis. Allah telah menyatukan keduanya dalam Cintakasih nan abadi hingga akhir hayat.

Asmara itu ibarat logam mulia. Ditempa dengan api barulah menjadi emas. Seperti itulah ujian asmara. Romantika cinta di dalam berumah tangga telah menempa Sukimin Radja menjadi pria sesungguhnya.

Betapa tidak? Istrinya, St Yarni, yang semula bagai bidadari surga, dalam waktu tiga bulan usai menikah, mendadak memiliki muka yang saat dipandang cenderung kurang menyenangkan. Terlebih lagi, bagi wanita, muka ibarat mahkota.

Puluhan tahun, penyakit tanpa penyebab dan solusi pasti itu terus diderita. Hanya kekuatan doa, cinta, kesetiaan, dan tahajudlah yang membuat St Yarni masih mampu bertahan hingga kini.

Sukimin tetaplah pria setia. Tak terbersit sedikitpun keinginan di benaknya untuk menikah lagi. Padahal saat itu, kalaulah dirinya mau, banyak sekali wanita jelita yang siap untuk dimadu atau dinikahi resmi.

Berbagai upaya telah dicoba. Mulai dari sistem pengobatan tradisional, modern, hingga spiritual. Banyak ahli juga telah didatangi, namun semuanya angkat tangan. Ada yang menduga, istrinya terkena guna-guna. Diuji demikian, Sukimin tetaplah pria setia. Tak terbersit sedikitpun keinginan di benaknya untuk menikah lagi. Padahal saat itu, kalaulah dirinya mau, banyak sekali wanita jelita yang siap untuk dimadu atau dinikahi resmi.

“Dulu aku bertemu denganmu dalam kondisi cantik jelita. Kini ketika kecantikanmu memudar akibat penyakit yang kau derita, diriku tetap setia.” Begitulah semboyan setia ala polisi Sukimin. Ia tidak merasa malu saat pergi menghadiri acara resmi bersama istrinya. Begitulah memang lika-liku laki-laki di dalam kehidupan berumah tangga (bersambung).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here