Subuh yang Kelabu

0
255

Mati tak mengenal situasi. Yang tahu hanya Allah dan malaikat pencabut nyawa. Situasi menegangkan justru terjadi saat semuanya sedang menghadapi musibah. Semua tak menyangka jika kematian itu hadir saat dalam duka.

Kampusdesa.or.id–“Eh udah subuh ya?” Tanya seorang teman sejawat yang sedari tadi sibuk dengan layarnya.

“Lah udah dari tadi.” Kataku sambil menertawakan.

Tiba-tiba terdengar keramaian dari ruang inap 2B, diikuti dengan suara langkah yang begitu cepat dan semakin dekat. Kami berdiri dan menghampiri.

“Ada apa ya?” Tanyaku pada mereka. Mataku tertuju pada ibu yang tidak bukan keluarga pasien yang sedang kami rawat. Ketiga lelaki yang mengawalnya di kanan-kiri dan juga belakang terdiam, sedangkan ibu itu ingin berbicara tapi tak kuasa menahan sesak di dadanya. Dua dari ketiga lelaki dewasa itu adalah tetangganya, sedangkan lelaki yang satunya adalah anak kandungnya.

“Ada apa ini?” Temanku kembali bertanya.

“Barusan papa saya meninggal, Sus.”

Sepontan kami berdua berkata, “Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun”

“Ba’da subuh tadi, belum lama. Sekarang saya mau jemput Mama, titip adik saya sebentar ya. Jangan beritahu kalau papa meninggal ya, Sus.” Pintanya

“Yang sabar ya, Bu.” Kataku dengan penuh empati sambil menepuk-nepuk pundaknya. Begitupun yang diucapkan rekanku. Ibu itu hanya mengangguk dengan mata penuh isyarat permohonan untuk tetap merawat anaknya dengan baik.

***

Di ruang obat yang berukuran 2×2 meter. Aku dan rekan sejawatku berbincang-bincang tentang perasaan di waktu subuh. Dinding ruangan yang serba putih dan bau obat-obatan yang khas menjadi saksi bisu.

“Aku lemes ih jadinya. Aku ga bisa bayangin kalau aku ada di posisi dia. Itu kapan ya keluarganya akan ngasih tau dia? Aduh, pokoknya sedih banget ini, ampe lemes aku.”

“Iya yah kasian, ya Allah. Kalau aku pasti langsung minta pulang dan pergi ke makam papaku.”

“Ga mungkin ah, kan kondisinya masih sakit. Makanya, keluarganya membiarkan dia tetap dirawat dan tidak mengajak dia pulang.”

“Iya sih, tapi gak mungkin juga kalau dia tetep tidur pulas saat ibunya dibawa pulang. Kan itu rame juga loh. Masa seberisik itu tidak bangun. Aku yakin dia bangun tapi pura-pura tidur.”

“Ah kamu ini, sudah-sudah. Ayo kembali bekerja.” Kataku sambil berjalan mempersiakan alat untuk tindakan.

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).