Studiomini Kampus Desa, Memecah Kreatifitas Konvensi Pendidikan

0
353
Crew Studio Mini Kampus Desa Indonesia bersama beberapa Nara Sumber di Konvensi Pendidikan ke-9 Blitar, 5 Januari 2020

0Shares
0

Baru berjalan sembilan kali, baru sadar jika kerja videografi menjadi penting bagi digitalisasi keragaman hasil Konvensi Pendidikan. Ketika banyak praktisi pendidikan bergerak bersama, sibuk dengan aneka persiapan, Kampus Desa Indonesia juga hanyut dengan kesibukan mengatur jadwal, mengawal diskusi kelompok menjadi sentral belajar, dan beberapa lainnya. Ada yang luput, yakni kerja millennial yang belum tersentuh. Studio Mini Kampus Desa hadir sebagai kesadaran baru, rekaman pengetahuan perlu dilakukan untuk merawat pengalaman baik di dunia pendidikan.

Kampusdesa.or.od–Konvensi Pendidikan terselelenggara sudah ke-9. Konvensi ini dapat menjadi daya tawar perubahan pendidikan. Terbukti sejumlah tokoh nasional regional memiliki kemauan untuk datang ke area konvensi. Jangan tanya kalau seputar praktisi pendidikan. Setiap agenda konvensi mesti dihadiri lebih dari 100 orang persemester.

Ada aneka alternatif pengalaman baik yang bisa dituturkan untuk yang lain sebagai ilmu baru di kelompok-kelompok diskusi di areal konvensi. Ada menejemen pendidikan, pengelolaan kelas inklusi, pendidikan luar sekolah, pembelajaran kreatif-inovatif, seputar pendidikan anak usia dini. Ada banyak pengalaman yang memesona pada setiap sesi. Pengalaman itu berujud temuan kreatif di lapangan yang sudah berhasil dilakukan, lantas dituturkan ulang di kelompok diskusi sesuai dengan tema.

Ada sajian pengalaman baik mendongeng di kelompok diskusi PAUD, ada teknik menulis cepat dan menghasilkan tulisan seputar PAUD, beberapa pengalaman mengajar positif (jejak pembelajaran) dipaparkan juga di konvensi pendidikan. Keragaman ini menunjukkan jika para pelaku pendidikan telah melampaui batas-batas politik administratif pendidikan menuju ke penghargaan kekuatan dominan pada pembelajarnya, maka aneka karya dapat lahir dari habitus (pembiasaan) pendidikan. Birokasi administratif telah menjadi perangkap nyata yang menggeser fokus guru (pelaku pendidikan) tertuju pada kerja-kerja administratif, sedemikian melupakan arah dan dialog intesif dengan siswa.

Habitus ini yang menjadikan jembatan dialog guru pembelajar tidak begitu mendapatkan wadahnya. Konvensi pendidikan, mengajak para praktisi pendidikan untuk hadir dalam kerangka menyeritakan pengalaman baiknya bagaimana mereka telah mewakili momentum dialog-dialog positif dengan siswanya sehingga melahirkan karya yang bisa menjadi contoh baik bagi pelaku pendidikan yang lain. Di konvesi inilah praktik baik itu kemudian dibagikan secara suka rela.

Mengenali aset menginisiasi Studio Mini Kampus Desa di Konvensi Pendidikan.

Saya menukilkan secuil pengalaman mengapa di Konvensi Pendidikan ada studio mini Kampus Desa Indonesia? Al-kisah, saya berkumpul dengan seorang penggila teknisi multimedia yang paham dunia elektronik, videografi, fotografi, dan seputar itu. Kegetolannya otak-atik komputer dan perangkat elektronik menjadikan sosok ini orang yang super detil. Bahkan saking detilnya, saya sering diprotes hal-hal yang saya anggap sudah tidak berguna. Termasuk dunia videografi. Kalau hal-hal sederhana bisa disulap menjadi karya yang setara atau minimalis untuk produksi video, mengapa tidak difungsikan dengan baik. Namun sayang, kegemaran dia mengendap sedemikian lama dan menjadi permainan individu di rumah saja. Saking getolnya, rumahnya selalu ditumpuki aneka barang elektronik dan berbagai bekas instalasi teknik. Bahkan, dia seperti seorang autis pengangguran yang kerjanya hanya otak-atik komputer.

Banyak orang yang sudah melakukan sesuatu, kok kita hanya jagongan terlalu lama, membakar ide hingga melambung ke langit tanpa jejak. Di konvensi, Siti Nur Imamah telah melakukan berbagai perubahan penting. Kita mau apa?

Sosok ini saya kenal di Senam Kecerdasan. Bahkan pernah saya ajak hadir pada konvensi pendidikan ke-8 di Desa Wisata Petungwulung Nganjuk. Ini menjadi gambaran perkenalan saya sudah cukup bagi proses pertukaran kompetensi, namun tetap saja tak melahirkan inisiatif baru. Dia sosok yang tetap saja pasif. Bisa jadi karena saya berprofesi sebagai dosen, dan dia “pengangguran,” karena bisnisnya sudah berjalan sendiri (passive income). Ini saya simpulkan dari cletukan saat ngobrol dengannya dan dia sering bilang, “mohon maaf pak, saya ini bukan apa-apa, jadi ya begini ini kalau bicara, tidak seperti orang kampusan.” Setelah dari konvensi pendidikan ke-8 Nganjuk, dia terhentak dan mengatakan, “banyak orang yang sudah melakukan sesuatu, kok kita hanya jagongan terlalu lama, membakar ide hingga melambung ke langit tanpa jejak. Di konvensi, sosok seperti Siti Nur Imamah telah melakukan berbagai perubahan penting. Kita mau apa?” Celetuknya kesekian kali, saat jagongan dengan saya dan sejumlah orang yang terlibat di Kampus Desa.

Dialog ngalor-ngidul sering terjadi. Tibalah pada suatu kebuntuan mengenai kehadiran Kampus Desa di Konvensi Pendidikan ke-9. Saya mencoba bertanya seputar online di media sosial. Tentu ada banyak dialog diisi pembicaraan di seputar dunia digital. Dia, lantas memasuki pembicaraan seputar jaringan, digital, dan potensi yang pernah dia kerjakan, termasuk pekerjaannya sebelum dia benar-benar menjadi “autis,” dengan kesukaannya.

Der. Saya pun bicara mengenai peluang livestreaming dalam kegiatan konvensi pendidikan. Syahdan, sentilan saya ini disahut dengan aneka ide dan rancang bangun jaringan digital. Saya mulai menyerah karena ketidaktahuan saya. Dus, akhirnya kami bersepakat untuk merancang peluang menawarkan konsep Studio Mini Kampus Desa Indonesia pada Konvensi Pendidikan ke-9 di Blitar. Saya hanya paham livestreaming ala HP saja. Sesederhana itu. Bagi saya ini akan lebih baik dilakukan agar konten konvensi bisa dokumentatif seketika, tidak hanya tulisan yang bernilai super terbatas saja penggemarnya.

Dialog setara saling menyodorkan potensi memberikan ruang kesadaran bersama untuk beranjak dari argumen-argumen langit.

Dialog setara saling menyodorkan potensi memberikan ruang kesadaran bersama untuk beranjak dari argumen-argumen langit. Dialog setara saling menguji seberapa potensi masing-masing orang bisa dikolaborasikan. Di sinilah Mini Studi Kampus Desa kemudian bisa hadir memecah kebekuan forum di Konvensi Pendidikan. Ini juga terbentur oleh pemikiran Kampus Desa, kita mau berbuat apa di Konvensi. Toh para orang hebat sudah berbondong hadir dan berbagai pengalaman baik ke para pelaku pendidikan. Mau membikin pameran, kami belum punya produk non-literasi. Kegoncangan ini akhirnya sampai pada menggeser konsep pameran menjadi layanan. Yah, layanan dokumentasi ilmu pengetahuan (stored knowledge). Jarang yang bersedia dan mau mengambil peran ini. Kecuali parsial dari kamera telpon pintar dalam swafoto dan dokumen pribadi.

Kami akhirnya bergeser dari livestreaming ke membuat saja Studio Mini sebagai bentul layanan baru di Konvensi Pendidikan. Pertimbangannya agar sebagian pengalaman baik tersebut dapat direkam dengan baik dan dapat disajikan lebih tertata stored knowledge-nya (pengetahuan yang terekam). Alasan lain, aneka aset yang sudah melimpah di konvensi pendidikan butuh dirawat dengan peralatan digital dan ditransformasi menjadi sumber rekaman ilmu pengetahuan. Di sini kami akhirnya mencoba melakukan penawaran untuk menghadirkan Studio Mini Kampus Desa ke Lukman Hakim sebagai modal bagi proses penyimpanan ilmu pengetahuan secara ringkas yang dapat dengan mudah dijadikan sumber belajar peserta konvensi atau yang belum sempat hadir.


Desk video yang berhasil diciptakan dari peralatan yang seadanya dapat dikunjungi di laman youtube Kampus Desa Indonesia dengan link sebagai berikut;


Penciptaan Mini Studio Kampus Desa di Konvensi Pendidikan ke-9 menjadi semangat baru peran Kampus Desa sebagai Desk Ilmu Pengetahuan yang lahir dari kemerdekaan berdialog antara saya, tim, dan seorang yang memang bakatnya di jaringan, elektronika, komputer, dan fotografi-videografi. Seorang ini bernama Sonny HC yang membikin jabatannya sendiri sebagai Sutradara dan Editing di Studio Mini Kampus Desa Indonesia.

Jikalau kita bisa memanfaatkan alat sederhana dan kemudian bisa berkarya, itulah kemerdekaan belajar. Sebaliknya, jika menunggu peralatan dan ketersediaan alat yang mewah tetapi tidak jua berangkat berkarya, apalah artinya. Justru kita tidak merdeka” (Sonny HC).

Suasana Laboratorium Studi Mini Kampus Desa Indonesia. Sebuah cikal bakal yang lahir dari tangan kreatif Sonnya HC (Tengah Berkaos Biru Abu-abu)

Bagi saya, proses perjumpaan ini bagian dari dialog merdeka, khususnya bagi Sonny HC. Kami mencoba mengapresiasi bakat tersebut agar setara diantara kemauan bersama. Kemerdekaan ini pada akhirnya menjadikan kami bisa saling mendukung berkarya. Apakah karya ini baik dan sempurna? Tidak. Menurut Sonny HC, justru kita bermakna berkarya jika dari peralatan yang ada kita mampu menciptakan berbagai kebutuhan yang sama di antara orang-orang yang memiliki peralatan yang canggih. Menurutnya, sudah biasa kalau punya alat yang canggih dan mampu berproduksi atau berkarya. Bagi Sonny HC, dia mengatakan, “jikalau kita bisa memanfaatkan alat sederhana dan kemudian bisa berkarya, itulah kemerdekaan belajar. Sebaliknya, jika menunggu peralatan dan ketersediaan alat yang mewah tetapi tidak jua berangkat berkarya, apalah artinya. Justru kita tidak merdeka.”

Terima kasih Sonny HC. Si Sutradara dan Editor Studio Mini Kampus Desa Indonesia. Kolaborasi dengan Anda, menjadi Konvensi Pendidikan mampu mengabadikan ilmu pengetahuan yang berserak menjadi berguna untuk orang banyak. Konvensi Pendidikan menjadi forum yang pecah, mencair, dan lebih bercitra positif untuk perubahan pendidikan, berkat semesta dari perjumpaan membumikan senam kecerdasan.

Malang, 24 Februari 2020