Simalakama Papua: Catatan Perjalanan Dokter Pejuang HIV/AIDS

0
151
Foto: Istimewa

0Shares
0

Beruntung semangat para dokter dan sebagian tenaga medis untuk terus belajar tetap ada. Sayangnya, sarana dan prasarana untuk mengikuti simposium masih langka dan terkendala dana. Begitulah sedikit kisah perjalanan dari Biak Papua selama dua hari. Selalu ada sekuntum asa di balik sejuta simalakama yang menerpa.

Papua-Kampusdesa.or.id–Potensi pelbagai destinasi wisata di Biak Papua amat besar bila dikelola dengan baik. Hal itu dirasakan oleh DR dr Muchlis AU Sofro SpPD KPTI FINASIM, dokter pejuang penyakit infeksi, saat menjadi pembicara di forum ilmiah the First Papua Internal Medicine, Biak Papua, 14-15 Desember 2019. “Daerah wisata, seperti: pantai, air terjun belum dikelola secara optimal. Padahal potensinya mendatangkan turis lokal atau asing bagus sekali. Seandainya dikembangkan, pastilah luar biasa untuk menambah pendapatan asli daerah,” jelas Muchlis. “Jika ada dokter yang bersedia mengabdi di Papua, maka sudah sepantasnyalah memperoleh apresiasi khusus dari pemerintah daerah dan pusat,” lanjutnya ramah.

Dari perspektif sumber daya manusia (SDM), masih perlu pencerahan dan dukungan. “Bila tenaga medis mau ikut seminar atau workshop di luar pulau, biayanya sangat mahal. Belum lagi pengaturan jadwal jaga di Puskesmas atau jadwal bertugas di RS. Berbicara SDM perawat, belum semuanya menjalankan tupoksi yang telah ditentukan atau disepakati bersama. Seringkali program dokter, seperti: pasang NGT atau kateter urin, belum dapat dijalankan, karena menunggu perawat yang berkompeten untuk melakukan. Ironisnya, perawat yang belum berkompeten, belum mau belajar dari yang sudah bisa,” jelas dokter yang sudah mengunjungi lebih dari 45 negara ini.Catat

Dari perspektif manajemen keuangan, insentif Pemda belum teratur diterima oleh tenaga medis. Terkadang, harus protes dahulu barulah dana dicairkan. Seringkali pencairan dana juga dirapel tidak menentu. Berbicara jasa medis dari BPJS, tenaga medis mengaku menerima jasa pelayanan medis bulan Mei. Ironisnya, tidak ada RS swasta yang secara otomatis monoloyalitas. Terlebih lagi, tidak semua pasien memiliki Kartu Papua Sehat atau BPJS. Meskipun demikian, tenaga medis dituntut tetap melayani demi kemanusiaan. Persoalan menjadi semakin rumit tatkala siapa yang membayar malah menjadi piutang RS. Tidak mungkin tertagih lagi.

3 Quotes: Quotation Marks Clipart Clipart Suggest

Sejumlah obat standar untuk serangan jantung, misalnya ISDN, seringkali tidak tersedia. Acapkali dokter membeli obat sendiri dengan dana pribadi saat berkunjung ke Jawa atas nama kemanusiaan.

Muchlis yang juga dosen senior di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro ini berhasil menemukan fakta unik dan menarik terkait ketersediaan obat di sejumlah RS dan Puskesmas di Biak, Papua. Sejumlah obat standar untuk serangan jantung, misalnya ISDN, seringkali tidak tersedia. Acapkali dokter membeli obat sendiri dengan dana pribadi saat berkunjung ke Jawa atas nama kemanusiaan. Seringkali antibiotik injeksi terkadang tidak ada. Persediaan obat-obat penangkal malaria malah melampaui kebutuhan. Infus Dextrose menumpuk dan kedaluwarsa, padahal yang diperlukan dalam jumlah besar adalah infus RL atau NaCl 0.9%.

3 Quotes: Quotation Marks Clipart Clipart SuggestTerlebih lagi, pengaruh dari pihak internal keluarga pria sangat disegani. Bila salah satu pihak dari keluarga pria mengatakan tidak perlu berobat teratur, maka saran dokter tidak berlaku.

Penulis buku “The Art of Infectious Diseases: Praktis dan Jitu Atasi Penyakit, Infeksi, dan Problematika Kesehatan” ini juga menjelaskan “simalakama proses” di Biak, Papua. Maksudnya, jarak rumah pasien dari RS atau Puskesmas seringkali sangat jauh. Akibatnya, pasien yang harus berobat rutin, seperti sejumlah kasus HIV-AIDS, susah untuk patuh. Terlebih lagi, pengaruh dari pihak internal keluarga pria sangat disegani. Bila salah satu pihak dari keluarga pria mengatakan tidak perlu berobat teratur, maka saran dokter tidak berlaku.

Ironis memang. Belum lagi upaya pencegahan penularan infeksi menular seksual tidak ada. Upaya sirkumsisi (sunat) sebagai pencegahan penularan HIV AIDS memang mulai digalakkan. Namun, mitos “jika sudah sunat, maka aman tertular HIV AIDS” seolah melekat dan mendarah daging di pikiran penduduk Papua. Mereka dengan mudahnya berhubungan seks tanpa beban setelah sunat. Hal itu (kegiatan seks bebas-red) bahkan dilakukan tanpa perlu pengaman dan bisa dengan berbagai pasangan.

Beruntung semangat para dokter dan sebagian tenaga medis untuk terus belajar tetap ada. Sayangnya, sarana dan prasarana untuk mengikuti simposium masih langka dan terkendala dana. Begitulah sedikit kisah perjalanan dari Biak Papua selama dua hari. Selalu ada sekuntum asa di balik sejuta simalakama yang menerpa.

 

*Tulisan ini dimuat ulang di https://www.sukma.co/simalakama-papua-catatan-perjalanan-dokter-pejuang-hiv-aids/