Si Kecil ; Batas Pertumbuhan Anak-anak Desa dan Kota

1
261

Bertempat tinggal di pinggiran kota bukan berarti tanpa pilihan. Menjadi masyarakat yang sedikit jauh dari kota bukan berarti tertinggal segala berita. Kita bisa menyebutnya dengan desa, satu wilayah yang menjadi tanah kerinduan bagi sebagian besar orang yang merindukan kedamaian.  Memilih tinggal di kota juga bukan berarti akan dapat melakukan segalanya, kedua tempat inilah yang menjadi pilihan tersendiri, selalu ada kesenjangan diantara keduanya.

Ketika mulai membahas masalah desa selalu dengan hal-hal yang berlatar belakang terdahulu, namun jika sudah masuk dengan kata kota hampir sebagian besar yang terdepan. Memang tidak bisa dipungkiri padatnya area perkotaan membuat pesatnya kemajuan-kemajuan yang ditunjukkan. Pada umumnya dalam hal perkembangan masyarakat desa jauh lebih tenang dalam menanggapi kehidupan.

Entah dimulai dari kapan pemikiran mengenai jenjang antara kota dan desa itu terjadi namun sampai saat ini kita masih sering menjumpai dan merasakannya. Misalkan saja dalam hal pengembangan sumber daya manusia, lebih dekat lagi mengenai hal pengasuhan orang tua pada anaknya. Orang tua desa dengan orang tua kota tidak kalah sibuknya, bukan berarti yang di kota akan jauh lebih sibuk dibandingkan yang di desa, namun bedanya sibuknya orang tua kota tetap ditunjang dengan pengetahuan terbaru yang dimilikinya, namun orang tua desa mengasuh anaknya masih dengan pengalaman yang dimilikinya di masa lalunya atau pengalaman yang di sekitarnya.

Si kecil masih belum sepenuhnya mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan, kalau yang kita tau kasih sayang lebih besar diberikan pada anak namun tidak bisa dipungkiri juga masih banyak anak yang tidak mendapatkan hal itu meskipun mereka juga tetap tinggal di desa. Target perbaikan ekonomi mereka jauh lebih diperdulikan dibandingkan berada lebih dekat dengan si kecil, hal ini lah yang kadang dilupakan oleh para orang tua.

Terlepas dari perbandingan desa dengan kota, pengasuhan yang diberikan oleh orang tua desa lebih santai daripada yang seharusnya, pemahaman mengenai beberapa tahap pekembangan si kecil juga belum diterima secara penuh, ini yang menjadi kekhawatiran berkepanjangan. Karena pengasuhan terlihat lebih santai, anak menjadi berkembang seperlunya. Tidak ditekankan pada bagaimana anak harus bertindak dan bertingkah laku untuk kebaikan hidup si kecil selanjutnya.

Karena kurangnya pemahaman mengenai tumbuh kembang anak, orang tua masyarakat desa menjadi sangat bangga ketika anak melakukan sesuatu yang pada dasarnya malah berdampak kurang baik. Anak dianggap cerdas luar biasa ketika ia mampu melakukan hal yang lebih dari kemampuan anak-anak sebayanya, padahal belum  saatnya dia baik melakukan hal tersebut. Menjadi hal yang sering terlewatkan mengenai perilaku-perilaku menarik yang si kecil tunjukkan.

Jika dibandingkan, jumlah anak desa lebih banyak dibandingkan jumlah anak yang dimiliki orang tua di kota, namun banyaknya jumlah anak ini belum menjadikan pemahaman pengasuhan anak menjadi lebih baik, ini disebabkan karena lemahnya mengetahui potensi si kecil sejak dini. Orang tua menjadi kurang begitu peduli disebabkan banyaknya hal yang harus ia kerjakan disamping banyaknya anak yang harus dibesarkan.

Kalau dilihat dari sisi kepribadiannya, anak desa seharusnya akan jauh lebih baik dibandingkan dengan anak kota, hidup di kota dengan latar belakang individualis dan apatis menjadikan sikap kreatif anak menjadi terpendam, karena kebutuhannya terpenuhi secara praktis, sedangkan kehidupan di desa justru membantu dalam meningkatkan sisi kreatif anak dengan belajar berpetualang langsung dalam lingkungan sekitar, dengan permainan-permainan yang secara langsung melatih kemandirian, kecerdasan, keberanian dan juga kekreatifan anak, namun karena kurangnya pemahaman orang tua dalam mendampingi anak sehingga anak kurang dapat mengeksplor dan menekuni kemampuannya.

Satu hal yang menjadi problem besar bagi anak desa  adalah karena kurangnya orang tua dalam memberikan pengetahuan bersikap asertif pada anak. Orang desa lebih menekankan pada asas kekeluargaan, kasih sayang yang besar dan sikap tidak tega yang berlebih sehingga membuat anak belajar juga untuk tidak asertif (tegas) dalam berbuat. Anak tumbuh menjadi pribadi yang malu dan cenderung tidak menampakkan dirinya, karena kebanyakan orang tua desa bersikap lebih tidak tega untuk mengarahkan ketika anaknya melakukan hal yang kurang benar, selagi itu tidak membahayakan banyak orang orang tua desa lebih memilih untuk diam.

Padahal apabila sikap empati yang telah diterapkan orang tua di masyarakat desa dalam pengasuhannya dibarengi dengan kesungguhan untuk melatih anak menjadi anak yang tegas dalam bersikap, anak akan dengan mudah untuk tumbuh menjadi pribadi yang ideal, tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang tekun dan cerdas namun juga menjadi pribadi yang tegas yang membawa perubahan besar dengan sikap-sikap yang tidak mudah ditemukan pada anak daerah kota.

Kita memang tidak akan menemukan aktifitas-aktifitas secara mudah pada kehidupan yang ada di desa, namun kemudahan yang diberikan pada kehidupan kota yang serba praktis akan melemahkan anak dalam membentuk kepribadian yang baik. Akan tetapi dimanapun tempat tinggal kita ketika kita mampu mengarahkan kepribadian anak dengan baik maka porsi ideal dari si kecil yang sedang tumbuh dan berkembang tidak akan terlewatkan. 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here