Seri Bisnis 1 : MEMBANGUN ASET, Menyiapkan Menjadi Kaya dengan Pemasukan Pasif

3
251

“Orang miskin mencari uang, orang kaya membangun aset. Orang miskin mencari pekerjaan, orang kaya membangun jaringan.” Jargon itu sudah sangat sering kita dengar, baik dari buku maupun dari para motivator keuangan.

Tahun 2009 saya merenovasi rumah sakit dan rumah tinggal menjadi hotel. Ada 30 tukang dengan berbagai tingkatan terlibat. Mulai kepala tukang, tukang ahli, tukang batu biasa, tukang ahli bambu, sampai pembantu tukang. Sayapun ikut bekerja keras bersama mereka. Jika mereka fokus pada bangunannya, saya fokus ke mebelernya karena disitu keahlian saya.

Sejak dulu saya sudah terbiasa membuat perabotan sendiri. Semua tempat tidur dan meja untuk ruang pertemuan di hotel itu saya buat sendiri. Dan saya bekerja lebih keras dibanding mereka. Tetangga sebelah sdh hafal, jika setelah maghrib masih ada gergaji listrik yang bunyi, itu pasti bosnya yang bekerja. Tentu saya menghindari pemakaian mesin serut (pasrah) setelah maghrib, karena suaranya akan sangat mengganggu tetangga.

Setelah beberapa bulan bekerja keras, akhirnya hotel itu jadi. Kami mengadakan selamatan, setiap pekerja saya beri kenang kenangan golok. Kemudian mereka bubar. Hanya saya yang tetap tinggal di sana.

Mengapa mereka bubar sedang saya tetap tinggal ? Karena setelah jadi aset itu milik saya. Kami sama sama membangun aset yaitu hotel. Bedanya, mereka para pekerja itu mendapat uangnya pada saat PROSES MEMBANGUN ASET. Sedangkan saya baru mendapat uangnya setelah ASETNYA JADI.

Sama sama “membangun aset”, tetapi itulah bedanya antara pekerja dan pemilik. Pekerja sudah mendapat uang pada saat proses membangun aset, sedang pemilik baru mendapat uangnya setelah asetnya jadi. Siapa orang kayanya ? Mereka yang sudah mendapat uang pada saat proses membangun ? Atau yang baru dapat setelah asetnya jadi ? Anda tahu sendiri jawabannya.

Hal ini juga berlaku di bisnis apapun yang nampaknya membangun aset. Misal di bisnis jaringan atau asuransi atau perbankan atau saham atau apapun. Asetnya apa ? Asetnya adalah konsumen atau nasabah. Pemilik sebenarnya dari aset itu adalah SIAPA YG MENDAPAT UANGNYA SETELAH ASETNYA TERBENTUK. Jika dalam proses membentuk kelompok konsumen itu Anda sudah menikmati uangnya. Bisa dipastikan posisi Anda adalah PEKERJA. Tetapi jika Anda baru mendapat uangnya setelah kelompok konsumen itu terbentuk, maka Andalah pemilik aset yang sebenarnya.

Mungkin Anda saat membangun sudah mendapat uang, kemudian ditambah dengan “passive income” (pemasukan pasif) sebagai pembagian keuntungan, maka hati hati, Anda tetap pegawai yang mendapat bonus keuntungan perusahaan di akhir tahun. Pemilik aset yang sebenarnya tetap mendapat jauh lebih banyak. Yang pasti itu bukan Anda karena Anda sudah mendapat saat proses membangunnya.

Contoh di money game (memutar uang), investasi abal abal dan lain lain, sudah jelas Anda hanya pekerja karena Anda sudah dapat uangnya pada saat proses membangunnya. Pemiliknya adalah pihak manajemen. Jika suatu saat tidak ada lagi orang baru yang masuk, atau proses pembangunan berhenti, maka penghasilan Anda akan hilang atau tinggal sedikit.

Ini berbeda dg Bisnis Networking atau MLM yang sebenarnya. Anda adalah pemilik aset karena Anda baru mendapat uang ya setelah para anggota itu belanja. Pada saat pembentukan kelompok konsumen, Anda belum mendapat apa apa. Jika suatu saat tidak ada orang baru yang masuk, penghasilan Anda akan tetap karena mereka yang di grup akan tetap belanja. Itulah bisnis kuadran kanan yang sebenarnya, yang nantinya akan memberi Anda penghasilan pasif dari aset.

Semoga bermanfaat 🙏

Ditulis oleh dr. Sigit Setyawadi. Pensiunan dokter kandungan yang pensiun dini beralih profesi menjadi pewirausaha. Mengubah klinik kandungan menjadi hotel. Tinggal di Surabaya. Tulisan ini diposting seijin beliau.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here