Sepakat Mewajarkan Penyimpangan: Refleksi Pendidikan Nilai

0
218

Anak-anak, bahkan mahasiswa yang sedang menempuh pendidkan untuk menjadikan dia bermartabat, akhirnya berjuang hanya untuk mendapatkan nilai. Untuk itu, mereka akan mengejar nilai, bahkan dengan cara hedonis. Apa yang salah dalam pendidikan kita ?


SIANG ini (11/4), saya kembali berdecak heran, miris, sedih, sekaligus bercampur tergelitik dengan kelas yang saya ajar. Kelas ini beranggotakan 34 mahasiswa. Keheranan, kemirisan, kesedihan, dan ketergelitikan saya disebabkan oleh respon yang mereka berikan atas pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan.

Saya mengajukan beberapa pertanyaan dan meminta mereka menjawab dengan sejujur-jujurnya, tanpa berusaha menutup-nutupi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:
1. Siapa yang ketika mengerjakan UTS dan UAS browsing di internet?
2. Siapa yang ketika mengerjakan UTS dan UAS melihat catatan?
3. Siapa yang ketika mengerjakan UTS dan UAS melihat catatan teman?
4. Siapa yang ketika mengerjakan UTS dan UAS bertanya kepada teman?

Serempak mereka semua mengangkat tangan untuk setiap pertanyaan saya. Kemudian saya ajukan lagi pertanyaan berikutnya, “Apakah Anda mengetahui dan sadar sepenuhnya bahwa apa yang Anda lakukan itu salah?” Serentak mereka menjawab “iya pak” sambil cengar-cengir. Sebagai pamungkas, saya ajukan pertanyaan terakhir, “kalau sudah tahu salah, kenapa masih dilakukan?” Mereka tambah cengar-cengir. Beragam alasan dan argumen mereka utarakan untuk menjawab pertanyaan terakhir saya ini. Jika dirangkum kurang lebih begini:

  • Untuk mendapatkan nilai yang bagus. Meski upaya-upaya yang dilakukan menyimpang, mereka tak ambil pusing, yang penting jawaban UTS dan UAS benar sehingga mereka bisa mendapatkan nilai yang bagus dan tidak perlu mengulang matakuliah yang sama.
  • Sudah terlanjur membudaya. Mencontek menurut mereka sudah biasa dan wajar sejak masih di bangku sekolah. Terutama jika pengawasnya tidak terlalu “killer”.
  • Terpepet waktu ujian. Sebagian dari mereka menyatakan di menit-menit awal mereka tidak mencontek, namun ketika memasuki menit-menit akhir dan masih ada soal yang belum terjawab, sementara mereka sendiri tidak mampu menjawab maka alternatifnya adalah mencontek.
  • Sungkan dengan teman. Ketika semua teman yang ada di kelas ramai-ramai mencontek, mereka merasa sungkan karena takut dikira sok pintar jika mengerjakan sendiri tanpa mencontek dan bertanya kepada teman.

Betapa perbuatan yang sekalipun salah, namun karena sudah membudaya dan dibiasakan secara tidak sadar dengan sendirinya dibenarkan dan dianggap wajar.

Bertolak dari sini, mari kita tarik kasus mahasiswa saya ini ke konteks kehidupan yang lebih luas. Betapa perbuatan yang sekalipun salah, namun karena sudah membudaya dan dibiasakan secara tidak sadar dengan sendirinya dibenarkan dan dianggap wajar. Ironisnya, tidak ada rasa malu akan hal ini karena memang telah menjadi kenyataan yang wajar. Hasilnya bisa kita saksikan, orang-orang yang berlaku culas, curang, korup, dan sebagainya di sekitar kita bukanlah orang-orang bodoh yang tidak paham dan mengerti bahwa perbuatan mereka salah dan merugikan orang lain. Mereka sadar sepenuhnya bahwa perbuatan mereka salah. Perntanyaannya sama, mengapa masih dilakukan jika tahu bahwa semua itu salah?.

Dari konteks ini dapat kita simpulkan bahwa, pendidikan nilai yang kita peroleh selama ini hanya berhenti pada pemahaman konsep. Nilai sama halnya dengan rumus fisika, kimia, konsep sejarah, serta berbagai konsep-konsep lainnya. Nilai hanyalah teori. Kita semua mengerti dan paham bahwa berbohong, curang, korupsi, iri, dengki dan sebagainya adalah perbuatan negatif dan tidak terpuji. Kita semua juga mengerti dan paham bahwa jujur, bertanggungjawab, berintegritas, dan sebagainya adalah perbuatan positif dan terpuji. Permasalahannya adalah bagaimana kita bersikap tehadap nilai-nilai tersebut.

Pendidikan nilai kita telah gagal menginternalisasikan dan mematrikan nilai-nilai positif ke dalam diri peserta didik.

Pendidikan nilai kita telah gagal menginternalisasikan dan mematrikan nilai-nilai positif ke dalam diri peserta didik. Ada aspek-aspek sentral yang belum terpenuhi dalam pendidikan nilai kita. Aspek-aspek tersebut adalah; pertama, keteladanan. Pendidikan nilai akan efektif apabila si pendidik juga memberikan teladan bagaimana menerapkan konsep nilai positif yang diajarkan. Perilaku pendidik selaras dengan nilai-nilai yang diajarkannya kepada peserta didik. Jangan sampai kita menyuruh siswa disiplin, datang tepat waktu, tetapi kita justru sering telat dan molor.

Kedua, habituasi atau pembiasaan. Karena keteladanan dari pendidik yang kurang maka berimbas pada tidak adanya proses habituasi nilai kepada peserta didik. Pendidikan nilai berhenti sampai di kelas saja. Keluar kelas, menguap begitu saja. Kesadaran pendidik akan posisinya sebagai scond parents, role model, hero, dan friends bagi siswa masih kurang.

Ketiga, fungsi dan hakikat evaluasi. Orientasi evaluasi kita sampai dengan saat ini masih terpaku pada deretan angka. Siswa dianggap pintar, cerdas, dan berbakat jika nilai akademiknya tinggi. Sehingga tolok ukur evaluasinya adalah serba angka. Bagaimana sikap mereka sehari-hari, tidak menjadi bahan acuan. Akibatnya, peserta didik berlomba-lomba mengejar nilai tinggi dan tak segan menempuh segala macam cara termasuk yang dilakukan mahasiswa saya di atas. Mereka menjadi pragmatis dan oportunis.

Keempat, sinergi antara sekolah dan keluarga. Sebagus apapun program penanaman nilai di sekolah jika tidak disambut hangat oleh keluarga maka tidak akan dapat berjalan optimal. Keluarga adalah lembaga pendidikan yang peranannya justru lebih besar dari sekolah dalam hal pendidikan niai.

Seyogyanya kita bisa belajar dari krisis moral yang sedang kita hadapi hari ini. Dengan jujur dan penuh kesadaran sebaiknya kita akui bahwa kebobrokan moral yang menjangkiti bangsa ini adalah buah dari pendidikan nilai kita yang belum berada pada track yang benar.

Kita tidak mencari tahu dan mempelajari nilai-nilai apa yang bisa membuat mereka sedemikian maju dari kita. Kita teralu terpaku pada keindahan rumah, tapi melupakan pondasi yang menyokongnya.

Kita juga belum belajar kepada bangsa-bangsa lain yang telah lebih maju dari kita. Yang kita lihat dari mereka hanyalah hingar bingar kemajuan perekonomian, teknologi, dan kesejahteraan ekonomi. Kita tidak mencari tahu dan mempelajari nilai-nilai apa yang bisa membuat mereka sedemikian maju dari kita. Kita teralu terpaku pada keindahan rumah, tapi melupakan pondasi yang menyokongnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here