Seni Budaya Pedesaan di Era Milenial

0
148

Desa pada masa lalu kaya dengan aneka suguhan kesenian lokal. Seni ini akan ramai dan terbuka ditonton orang. Kehadiran telivisi semakin menjadikan seni lokal surut, dan gempuran kepunahan barangkali akan semakin terjal saat sajian seni sudah sangat privat dinikmati. Melalui gengaman tangan, setiap orang bisa menikmati produk kesenian tanpa membeli tiket. Cukup mempunyai paket data dan wifi, setiap orang lebih leluasa mengakses pertunjukan seni. Lalu, bagaimana nasib kesenian desa ?

Seni-budaya kerakyatan!”—begitu kami menyebutnya. Ialah budaya yang partisipatif. Salah satu karakternya adalah rakyat banyak terdiri dari pribadi-pribadi yang kreatif dan suka mencipta, bukan hanya penikmat atau ‘consumer’ semata. Rakyat banyak menciptakan karyanya, berkarya, tampil, dengan produk-produk seninya, lagu, puisi, gerak tari, karya indah lainnya.

Cita-cita itu selama ini masih jauh panggang dari api. Selama ini rakyat banyak hanya mendengarkan dan melihat. Seni-budaya hanya sebagai hiburan di mana rakyat banyak yang hanya sebagai penonton dan penikmat itu dilenakan dengan ideologi seni yang membuat mereka tidak bisa bangun untuk merubah nasibnya, dan bahkan justru berada sebagai korban yang terlena, terhibur, terhipnotis, hingga keadaannya yang tertindas dan tak terberdayakan terus stagnan.

Rakyat pedesaan yang berada dalam situasi terdominasi seni-budaya borjuis dengan pelaku utama (artis) adalah kaum selebritis itu selama ini menjadi korban dari situasi kemuduran dan keterbelakangan budaya. Rakyat pedesaan hanya menjadi penikmat produksi kesenian dari kota (metropolis) karena media dan alat produksi kebudayaan memang telah dikuasai oleh kaum modal di kota.

Rumah-rumah produksi yang berada di kota (Jakarta) menyerang rakyat desa dengan acara-acara sinetron. Dan kita tahu kenapa ibu-ibu di desa rajin duduk di depan TV sehabis magrib, acara yang paling disukai adalah sinetron dan audisi dangdut. Pernahkah kamu mencari tahu kenapa sinetron adalah acara yang paling membuat mereka sulit bergeser dari depan TV? Selain itu adalah cerita seri (bersambung) yang membuat ia akan kehilangan cerita jika tak mengikuti seri berikutnya, kira-kira apa sebabnya?

Apa sisi baik kisah-kisah sinetron? Apa sisi buruk kisah-kisah sinetron? Oh, saya mau komentar, tapi kok hampir tak pernah melihat sinetron akhir-akhir ini. Bahkan judul sinetron yang akhir-akhir ini tayang, saya kok gak tahu. Terakhir, mungkin tahun lalu atau tahun sebelumnya, judul yang pernah saya dengar adalah “ANAK JALANAN” atau “GANTENG-GANTENG SRIGALA”.

Tentu saja masa kecil saya (sebagai orang desa) menjadikan sinetron sebagai tontonan utama juga. Sebab waktu itu keluarga saya belum punya TV dan ketika sudah punya TV saya sudah sekolah di luar kecamatan, lalu keluar kota. Waktu itu, kami nonton TV di rumah tetangga yang juga saudara. Semua orang, sehabis magrib, ngantri nonton TV, sinetron yang tak berhenti kami ikuti adalah BELLA VISTA, lalu TERSANJUNG.

Kehadiran TV itulah yang membuat kami sebagai orang desa kemudian dijajah oleh artis-selebritis dari ibu kota. Gaya glamour para selebritis yang dilihat rakyat desa adalah salah satu gambaran yang menunjukkan bahwa segala sesuatu nampak sebagai keindahan hidup, meskipun rakyat tak mampu melakukan gaya hidup yang sama

Kehadiran TV itulah yang membuat kami sebagai orang desa kemudian dijajah oleh artis-selebritis dari ibu kota. Gaya glamour para selebritis yang dilihat rakyat desa adalah salah satu gambaran yang menunjukkan bahwa segala sesuatu nampak sebagai keindahan hidup, meskipun rakyat tak mampu melakukan gaya hidup yang sama. Inilah yang disebut “estetisasi kehidupan sehari-hari”—suatu kondisi dimana seni terus-terusan hadir bersamaan dengan kepentingan modal yang menungganginya. Tetapi yang terjadi bukan demokratisasi seni-budaya. Sebab, posisi rakyat adalah terhipnotis oleh budaya massa berbasis kepentingan iklan kapitalis. Situasi ini mengingatkan kita pada apa yang dikatakan Jean Baudrillard dalam bukunya “Simulations” (1983: 151): “Kita hidup di mana saja selalu dalam halusinasi realitas yang bersifat estetis.”

Dalam budaya yang sifatnya kapitalistik, media-media kapitalis terus-menerus mem-propagandakan gaya hidup dan tampilan mewah, seakan-akan rakyat miskin menjadi bagian dari estetika budaya kemewahan itu. Dengan sekuat tenaga individu-individu dalam masyarakat (terutama remaja) berusaha meniru gaya hidup para artis-selebritis. Mereka merasa telah terlibat dalam dunia kemewahan yang estetik yang dipancarkan media yang dipenuhi cara pandang kelas borjuis dan kaum selebritis hanya dengan cara meniru ucapannya, tindakannya, tergantung pada kemampuannya untuk mengonsumsi (membeli dengan uang).

Kembali ke acara sinetron tadi. Jika saya mencoba membaca perasaan saya ketika nonton sinetron waktu itu, tentu ada semacam ilusi-ilusi atau obsesi-obsesi yang dibawa karena kisahnya. Lalu saya membayangkan bagaimana perasaan ibu-ibu pemuja sinetron. Apakah mereka menyesali masa-masa muda atau remajanya yang tak pernah pacaran, misal ibu yang sudah berumur 50 tahun ke atas.

Mereka pasti terbawa bayangan, dari kisah intrik meraih cinta. Pro pada seorang gadis yang dicintai laki-laki kaya, dan benci pada orang-orang yang menjahatinya. Bayangan ketika ia baik hati, pasrah, tidak jahat, beruntung, lalu lelaki kaya itu menolongnya. Sedangkan ada orang yang menjahatinya sedemikian dramatisnya…

Rumah-rumah mewah, kisah yang diperankan oleh perempuan yang cantik-cantik dan laki-laki yang tampan. Tentu adalah wajar jika semua orang ingin bisa hidup berkecukupan. Jika tidak, maka seharusnya ada satu atau orang yang baik hati yang mengangkat derajatnya. Salah satunya adalah ditolong laki-laki kaya. Kisah seperti ini bahkan yang paling obsesif bagi perempuan. Entahlah… Tentu tidak semua sinetron kisahnya seperti itu. Setidaknya ada wajah culas yang memerankan tokoh licik. Lalu ada si pasrah yang baik hati, yang biasanya pasti ada adegan sedang meratap berdoa pada Tuhan. Pasti tak ketinggalan adegan ini.

Si jahat dan si baik dibuat kontras, meski dalam kehidupan sehari-hari seringkali tak tampak seperti itu. Sebab dalam kehidupan nyata, semua orang merasa baik, dan tidak menyadari bahwa perilakunya menyakiti orang lain. Sedang dalam sinetron, kisah harus dramatis. Mikin, suara, efek narasi musik, maupun jeda iklan yang menghentikan adegannya sejenak. Perasaan penonton dipermainkan, penonton tidak kritis adalah sasaran bagi Ram Punjabi.

Sanggar Seni Budaya Desa

Saat ini, harus kita sadari sudah banyak yang berubah. Sebab TV bukan hanya satu-satunya media budaya di era milenial. Di dalam rumah saya sendiru, TV hanya bisa menayangkan Si Tayo, Legend Hero yang ganti Ultraman, Robocarpoli, dan lain-lain. Karena TV diputar menurut selera anak-anak (yang masih balita). Sisanya nonton Youtube!

Media sosial bisa menjadi ajang kontestasi budaya yang lebih demokratis, membuka ruang bagi banyak orang untuk menayangkan karyanya.

Media sosial datang. Praktis tak ada lagi dominasi kepemilikan media budaya yang didominasi modal besar. TV yang menjadi ruang eksistensi seniman selebritis tak lagi dominan juga. Media sosial bisa menjadi ajang kontestasi budaya yang lebih demokratis, membuka ruang bagi banyak orang untuk menayangkan karyanya. Orang cantik dan ganteng tak lagi bisa hanya dilihat di TV karena mereka selebritis. Siapapun bisa mengunggah fotonya, videonya, tulisannya, dan karya-karyanya.

Ketika peluang untuk mendapatkan akses ke media (sosial) kian besar, masalahnya sekarang adalah kemampuan memproduksi atau berkarya. Ini yang kemudian harus dijawab dengan membangun daya cipta (creative force) yang meluas di kalangan masyarakat pedesaan. Peluang berupa ruang untuk menyuguhkan karya secara luas lewat media sosial sudah terbuka. Jika masyarakat desa masih belum punya suatu karya cipta seni yang bisa ditampilkan, tetap saja nantinya akan tetap menjadi konsumen pasif.

Pemerintah desa dengan anggaran besar dari dana desa bisa “mengintervensi” upaya membangkitkan gairah berkesenian melalui sanggar-sanggar seni budaya. Balai desa dengan pendopo dan aula yang ada bisa menjadi tempat latihan menari, melukis, seni-sastra, lagu dan musik, tetembangan, dan berbagai bidang kesenian yang lain.

Membangun kemampuan mencipta butuh daya dorong yang serius. Ini harus disadari oleh para pimpinan di masyarakat pedesaan. Pemerintah desa dengan anggaran besar dari dana desa bisa “mengintervensi” upaya membangkitkan gairah berkesenian melalui sanggar-sanggar seni budaya. Balai desa dengan pendopo dan aula yang ada bisa menjadi tempat latihan menari, melukis, seni-sastra, lagu dan musik, tetembangan, dan berbagai bidang kesenian yang lain.

Menciptakan ruang-ruang untuk tampil seperti pentas seni desa, pameran karya warga desa, festival-festival seni-budaya desa, menjadi agenda yang harus rutin dilakukan. Workshop seni-budaya dan pemberian ruang untuk pentas adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Selanjutnya adalah mengemas karya seni-budaya dan menyambungkannya dalam “pasar budaya” yang menggunakan media sosial.

Hal itu harus disegerakan. Sebab pasar budaya di media sosial juga berjalan cepat. Tampilan dan karya dari berbagai belahan dunia bisa dikonsumsi lewat fasilitas internet. Harus digali hal-hal yang unik dari desa, untuk disuguhkan ke pasar kebudayaan yang ada. Maukah pemerintah desa dan semua tokoh, aktivis, dan para seniman-Budayawan yang ada di desa memulai hal ini? Entahlah…!!!*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here