Semarakkan Ramadhan dengan Literasi Keuangan Syariah

0
207

Tidak semua orang bisa mengakses keuangan dalam jumlah lebih besar, terutama untuk kegiatan pengembangan wirausaha desa. Berbagai peraturan jaminan kadang menjadikan masyarakat tidak mampu mengakses permodalan. Bahkan, ibu-ibu dan orang berkebutuhan khusus, punya keahlian tetapi tidak bisa berkembang menjadi pewirausaha oleh karena terbatas modal. Bisakah keuangan syari’ah menjawab persoalan tersebut ? Barangkali keuangan inklusif adalah jawabannya.

Makassar-KDI – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah [FEB Unismuh] Makassar bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan [OJK] dan industri keuangan syariah mengadakan kegiatan literasi keuangan syariah bertajuk Ramadhan Islamic Health Economy Literacy 2018 di OJK Regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua Jalan Sultan Hasanuddin No. 3-5 Makassar pada 21-22 Mei 2018. Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 230 peserta dan 15 tamu undangan [dari kalangan dosen FEB Unismuh] ini diapresiasi oleh banyak kalangan, termasuk para akademisi dan praktisi keuangan syariah.

Dekan FEB Unismuh Makassar, Ismail Rasulong, S.E., M.M., dalam pembukaan menyambut gembira kegiatan yang diinisiasi oleh dosen FEB Unismuh, Agusdiwana Suarni,S.E.,M.Acc., Sahrul.,SE.,M.AK dan Abdul Khaliq.,SE.,M.Ak.serta dr. Dito Anurogo,M.Sc.

”Semua peserta yang hadir ini adalah agen edukasi sampai ke pelosok desa yang akan memberikan pencerahan apa itu keuangan syariah di masyarakat,” ujarnya mantab. Terlebih lagi, mahasiswa FEB Unismuh memang sebagian besar perempuan. Nah, nantinya menjadi seorang ibu. Ibu berperan penting sebagai ”manajer keuangan” di rumah tangga, terutama dalam hal menabung dan investasi.

Kegiatan kolaboratif nan komprehensif ini menghadirkan sebelas pembicara. Para pembicara berasal dari berbagai mitra, lembaga, dan industri keuangan syariah, seperti Fahmin Amirullah dan Achmad Irfan dari Bursa Efek Indonesia KP Makassar, Jaidin Abdullah dari PT Asuransi Takaful Keluarga Cabang Makassar, Nurfitri S Katili dari PT Pegadaian Syariah Makassar [PERSERO], Yudi dari Pegadaian Syariah, DR. Mukhlis Sufri, S.E., M.Si. selaku Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Sulawesi Selatan dari Dewan Pengawas Syariah [DPS] Bank Sulselbar Syariah, Hadidjah Samad selaku Branch Manager [Kepala Cabang] Makassar dari PT Bank Muamalat KC Makassar, Miftah Farid, S.E.,M.M., selaku Financing Head dari PT Bank Panin Dubai Syariah Cabang Makassar TbK, Budi Cahaya Nusantara selaku Head Marketing dari PT Al Ijarah Indonesia Finance Cabang Makassar, Jones Sutanto Bubun selaku Staf Bagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen dari OJK Regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta dr. Dito Anurogo, M.Sc. selaku pengurus Indonesia Marketing Association [IMA] Chapter Makassar dan dokter literasi digital.

Berbicara literasi keuangan syariah, Jones Sutanto Bubun melalui presentasi berjudul ‘’Pengenalan Otoritas Jasa Keuangan dan Waspada Investasi’’ menyebutkan bahwa indeks literasi keuangan konvensional [28,36 persen] lebih tinggi dibandingkan indeks literasi keuangan syariah [6,18 persen]. ‘’Perlu edukasi terhadap lembaga, produk, dan layanan jasa keuangan syariah,’’ ujarnya ramah. Data lain menunjukkan bahwa indeks inklusi keuangan konvensional [68 persen] lebih tinggi jika dibandingkan dengan indeks inklusi keuangan syariah [14,55 persen]. ‘’Selain literasi keuangan syariah, inklusi keuangan terhadap produk dan layanan jasa keuangan syariah perlu ditingkatkan,’’ lanjutnya.

Di tempat terpisah, saat dikonfirmasi, penggagas kegiatan ini, Dito Anurogo, menyatakan bahwa Ramadhan Islamic Health Economy Literacy 2018 merupakan kegiatan literasi ilmiah yang mengandung nilai-nilai Islami, holistik, integratif, inovatif, berfokus pemberdayaan ekonomi syariah-kerakyatan, bertujuan mencerahkan, memberdayakan, menyehatkan dan menyejahterakan masyarakat, serta edukasi keuangan dan ekonomi syariah.

Ketika ditanya tentang tujuan, penulis 20 buku yang sering dijuluki dokter literasi digital itu menyatakan bahwa kegiatan ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, memberikan edukasi tentang Literasi Kesehatan dan Keuangan Syariah [LKKS], sehingga pemahaman mahasiswa meningkat. Kedua, pemahaman mendalam akan LKKS berpotensi meningkatkan pendapatan mahasiswa, sehingga secara tidak langsung kesejahteraan juga meningkat. Ketiga, menyadarkan mahasiswa akan pentingnya faktor kesehatan dalam mencerdaskan masyarakat. Keempat, menumbuhkembangkan kecintaan mahasiswa dan masyarakat kepada dunia literasi sekaligus membiasakan membaca dan menulis. Kelima, membudayakan literasi sehat sebagai pondasi dasar ekonomi kerakyatan dan salah satu pilar demokrasi demi mewujudkan Indonesia jaya. Keenam, menanamkan nilai-nilai integritas dan profesionalitas di semua lini dan kalangan. Ketujuh, membentuk passion, kecintaan mendalam terhadap literasi sehat, ekonomi syariah, riset Islami. Kedelapan, membentuk jejaring kerjasama yang berkesinambungan multi-lintasdisipliner. Kesembilan, menumbuhkembangkan kesadaran akan literasi, ekonomi syariah, kesehatan sejak dini. Kesepuluh, digitalisasi literasi dan medikonomi syariah [kedokteran dan ekonomi berbasis Islam].

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diakhiri dengan sarasehan dan diskusi interaktif tentang literasi kesehatan dan keuangan syariah yang disampaikan oleh Dito Anurogo, dilanjutkan dengan berdoa dan berbuka puasa bersama. Para mahasiswa sangat berantusias mengikuti kegiatan ini . Tampak wajah-wajah cerah, ceria, dan bersemangat, terlebih usai menunaikan ibadah salat Maghrib berjamaah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here