Selikuran Modern

0
55

Tradisi Barokahan adalah tradisi dimana umat Islam, anggota jama’ah, membawa nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauknya ke masjid atau musholla. Seiring perjalanan waktu, dengan perkembangan zaman, tradisi barokahan ini juga mengalami perkembangan. Walaupun ada beberapa perbedaan tradisi dahulu dengan sekarang, utamanya segi tempat nasi, namun hakikatnya tetap sama. Bagi Masyarakat yang melestarikan tradisi Selikuran ini yang penting adalah niatnya.

KampusDesa–Malam ini, sabtu malam minggu, 25 Mei 2019 adalah malam istimewa bagi umat Islam. Malam ini adalah awal malam 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Malam ini bertepatan dengan malam puasa tanggal 21 Ramadhan. Jumhur(mayoritas) ulama sepakat bahwa malam 10 hari terakhir adalah kemungkinan besar turunnya malam yang paling mulia, yaitu malam Lailatul Qodar. Malam itu kemungkinan datangnya dimulai pada malam tanggal 21 Ramadhan.

Segala sesuatu mempunyai waktu dan tempatnya (Ahli Hikmah).

Bagi sebagian masyarakat Muslim Jawa, termasuk di wilayah penulis, malam tanggal 21 Ramadhan juga merupakan malam spesial. Kedatangannya sangat dirindukan dan dinantikan. Ketika malam itu datang disambut dengan suka cita dan penuh semangat. Diantara kesukacitaan dan semangat itu diwujudkan dalam bentuk tradisi “Selikuran”. Dalam tradisi ini ada kegiatan khusus yang dilakukan yaitu “Barokahan”.

Tradisi Barokahan adalah tradisi dimana umat Islam, anggota jama’ah, membawa nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauknya ke masjid atau musholla. Sesudah pelaksanaan sholat Tarawih dan Witir, nasi lengkap itu dimakan bersama atau kenduri. Jika nasi dan lauk ada sisa, jama’ah yang berkenan bisa membawa pulang sebagai “Berkat”.

Dari waktu ke waktu ternyata ada pergeseran dalam tradisi Barokahan.

Berdasarkan pengamatan penulis, dari waktu ke waktu ternyata ada pergeseran dalam tradisi Barokahan ini. Perubahan itu dalam hal alat yang digunakan untuk membawa nasi Barokahan. Dulu waktu penulis masih usia anak-anak, anggota jama’ah membawa nasi ke masjid atau musholla menggunakan “encek”. Encek adalah tempat nasi dan perlengkapannya yang terbuat dari pelepah pisang atau kulit batangnya.

Teknis pembuatan encek ialah, pelepah atau kulit batang itu dibentuk segi empat dan di rakit dengan rautan bambu. Besar kecilnya disesuaikan dengan sedikit banyaknya nasi yang akan dibawa. Lalu, diatas encek di tutup dengan daun pisang yang ditata menutupi encek.  Kemudian nasi ditaruh diatas daun pisang itu. Diatas nasi ditutup lagi dengan daun pisang yang lebih kecil sebagai pembatas. Diatas daun pembatas itu sebagai tempat aneka lauk pauk. Diatas lauk pauk diberi lagi daun pisang merata dan menutupi seluruh nasi, bahkan lebih luas dari encek, sebagai penutup encek. Adakalanya, seluruhnya tidak menggunakan daun pisang, namun menggunakan daun pohon jati. Agar daun encek tidak jatuh maka setiap sudut encek “ditubles” atau ditusuk dengan potongan lidi daun kelapa atau “Bithing” yang dibuat runcing.

Cara makan nasi barokahanpun terbilang unik. Mengambil nasi dan lauk ke dalam encek tanpa menggunakan alat(enthong) namun langsung menggunakan tangan. Makanpun juga tanpa menggunakan sendok. Bahkan kadang juga tanpa cuci tangan.

Seiring perjalanan waktu, dengan perkembangan zaman, tradisi barokahan ini juga mengalami perkembangan. Untuk cara makan jama’ah tidak banyak mengalami perubahan, hanya tempat nasi atau encek yang berubah. Kini jama’ah membawa nasi barokahan dengan tempat yang berbeda-beda.

Dalam beberapa tahun terakhir sudah tidak ada lagi yang membawa encek berbahan pelepah daun pisang atau kulit batangnya. Mayoritas sudah menggunakan panci baik itu bentuk “manci” atau “lengser” terbuat dari logam. Sebagian lagi menggunakan manci atau talam yang berbahan plastik. Adapula yang menggunakan kotak nasi dari kertas atau kotak berbahan foom. Untuk jenis yang terakhir ini biasanya hanya satu dua orang saja. Dari perbedaan tersebut ternyata masih ada yang tetap yaitu alas yang digunakan dan penutup atas. Mayoritas masih menggunakan daun pisang. Namun sebagian sudah menggunakan kertas minyak.

Adalagi yang lebih unik, kadang kala jama’ah tidak membawa nasi barokahan namun membawa kue kering atau kue basah. Bahkan kadang juga ditemui jama’ah yang membawa roti atau jenis jajanan yang lain. Hal ini biasanya dilakukan karena tidak sempat memasak atau tahu informasi barokahan secara mendadak sehingga cari mudahnya dengan membeli makanan jadi untuk barokahan.

Bagi Masyarakat yang melestarikan tradisi Selikuran ini yang penting adalah niatnya.

Walaupun ada beberapa perbedaan tradisi dahulu dengan sekarang, utamanya segi tempat nasi, namun hakikatnya tetap sama. Bagi Masyarakat yang melestarikan tradisi Selikuran ini yang penting adalah niatnya. Niatnya adalah saling berbagi dan bersedekah. Disamping itu nilai kebersamaan juga menjadi tujuan utama. Adapun masalah perbedaan tempat nasi atau encek itu menurut penulis hanya karena perbedaan kesempatan dan kemampuan saja. Disamping itu dengan menggunakan bahan jadi bentuk panci logam, plastik atau kotak kertas dan foom, waktu lebih efisien dari pada masih harus membuat dari pelepah dan kulit batang pisang. Sehingga jama’ah waktunya lebih hemat. Wallahu A’lam.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here