Seksualitas Tanah Haram

0
413
Sumber : ilustrasi dari cnnindonesia.com

Di sebuah tanah yang disucikan, kita membayangkan semua orang masuk dalam zona suci. Seperti saat berada di tanah haram, kehadiran kita selalu dipandu oleh keyakinan mengenai ketuhanan, keberagamaan dan spiritualitas. Apakah demikian halnya dengan Anda? Boleh jadi iya dan boleh jadi ada pengecualian. Perjalanan ke tanah haram ternyata juga membelalakkan mata saya tentang kisah-kisah tabu seks. Di sela-sela semangat penuh mendekatkan diri pada Tuhan, tersela sebuah kisah tentang seksualitas yang terekspresi dari interaksi dengan orang-orang di seputaran haramain dan kisah dibalik pengalaman seorang tenaga kerja Indonesia yang disekap oleh penjaga keamanan di sebuah mobil untuk pemuasan seksnya.

Kampusdesa.or.id – Seksualitas menjadi kebutuhan yang laten bagi manusia. Bahkan Sigmund Freud, bapak Psikoanalisis menempatkan dorongan seksual menjadi pusat pembentukan kepribadian manusia yang disebut libido. Porsi pembahasan seksualitas juga dikembangkan dalam narasi-narasi keagamaan. Bahkan yang sering disebut dalam pembahasan keagamaan tersebut masuk dalam narasi mesum, tetapi sangat dihindari untuk dibuka menjadi bagian dari kejujuran narasi besar. Narasi besar itu harus ditutup rapat agar kebesaran seksualitas tidak menjadi ancaman, apalagi ancaman kekuasaan, atau yoni keagamaan. Apakah sebenarnya memang seksualitas menjadi daya ungkit yang memorakporandakan kemapanan agama dan kekuasaan. Entahlah. Barangkali Sigmund Fruedlah yang merdeka menarik garis tegas bahwa libido adalah dorongan vital ekspresi kemanusiaan yang ditutupi atau terbuka.

Konon menjadi rahasia umum, kalau seorang perempuan yang sedang umroh atau haji, kemudian naik taksi, mereka perlu hati-hati. Para perempuan ini sebaiknya menghindari bepergian sendirian.

Saat berada di tanah haram, narasi seksualitas itu lirih-lirih saya dengarkan dari seorang yang lama tinggal di sana. Konon menjadi rahasia umum, kalau seorang perempuan yang sedang umroh atau haji, kemudian naik taksi, mereka perlu hati-hati. Para perempuan ini sebaiknya menghindari bepergian sendirian. Konon ada berita pernah ada seorang perempuan yang bepergian naik taksi kemudian hilang dan ditemukan terbunuh di sebuah padang pasir. Ada tips juga, kalau perempuan dan laki-laki naik taksi, maka yang masuk taksi lebih dulu harus laki-laki. Cara ini mengantisipasi bentuk kejahatan penculikan perempuan. Karena kalau yang masuk perempuan lebih dulu, sopirnya bisa menarik pedal gas dan melaju sehingga laki-lakinya tidak sempat masuk taksi. Jadi kalau mau naik taksi, maka laki-laki disarankan masuk dulu di mobil, baru menyusul perempuan sehingga peluang dilarikan kecil. Sebaliknya kalau keluar, perempuan lebih dulu dari laki-laki. Konon perempuan yang dilarikan itu akan diperkosa dan bahkan dihabisi nyawanya.

Kisah sumir lainnya, ada seorang teman laki-laki yang sudah tinggal lama di tanah haram, punya pengalaman diperlakukan sebsgai obyek seks oleh seorang petugas keamanan. Alkisah, dia waktu awal di Arab, tinggal bersama bibinya. Dia akan keluar untuk jalan-jalan. Bibinya mengingatkan agar tidak menyukur jenggot dan memakai parfum. Tapi saran itu diabaikan. Wajarlah kalau di Indonesia, ketika kita hendak keluar maka menjaga penampilan adalah bagian dari upaya meningkatkan daya tarik sosial. Namun, di Arab tidak sama dengan penampilan publik di sini. Daya tarik publik bisa menjadi daya tarik seksual (sexual appeal). Daya tarik seksual diartikan oleh mariam webster sebagai ketertarikan personal atau ketertarikan tubuh yang khusus mengarah pada kemenonjolan anggota seks. Secara lebih luas bisa tanda tubuh atau gaya tubuh yang secara seksual dilihat menimbulkan daya tarik (godaan birahi). Nah, laki-laki teman saya tadi bisa disebut penampilan mlipisnya (rapi) menimbulkan daya tarik seksual pada petugas sejumlah orang.

Daya tarik seksual ini telah memancing birahi seorang petugas keamanan. Saat dia di jalan, dia dipanggil oleh petugas yang sedang patroli. Agar dia mau menurut, dia dipanggil seolah sedang ada pelanggaran, entah surat menyuratnya sebagai imigran atau yang lainnya, pikirnya. Maka dia mendekat dan kemudian disuruh masuk mobil petugas. Apa yang terjadi kemudian? Dia tidak ditanya seputar surat menyurat, tetapi dia diminta untuk memuaskan birahi petugas.

Lah dalah. Petugas itu laki-laki dan dia juga laki-laki. Terjadilah adegan kilat seks ala sesama laki-laki. Teman saya tadi tidak bisa melawan karena memang dia dalam ancaman sebagai pendatang dan sebagai orang yang akan diadukan status dirinya ketika melawan. Krik, krik, krik, woles bro…. Tidak butuh waktu lama, ejakulasilah pelaku itu. Teman saya itu cekikan dan membuka rahasia yang hampir menjadi mitos. Orang arab itu anggapan kita besar-besar tubuhnya, termasuk alat kelaminnya. Sambil agak bergunjing, dia mengatakan, “haduh, ternyata mereka tidak tahan berereksi terlalu lama, alias segera mendapatkan ejakulasi.” Disebut dini atau tidak, ya tergantung kepada nilai kepuasannya. Realitas ini tentu menjadi fakta kasuistik. Tidak perlu dipikir secara generalis, fakta yang terjadi obyektif pada kasus yang lebih banyak.

Ada lagi kisah sarkasme seksual. Suatu kali, saya mengantar istri berbelanja di pusat perbelanjaan di haramain. Dia diajak berjabat tangan oleh pelayan dan bilang khoir-khoir. Agak kaget saya. Saya kira semua orang di haramain tidak boleh berjabat tangan, utamanya laki-laki dan perempuan. Sembari transaksi menawar harga yang cocok, terjadi komunikasi bahasa Indonesia dan sesekali bahasa Arab. Para penjaga ini memang super-aktif merayu calon pembeli. Bahkan terkesan memaksa. Pada suatu pembicaraan yang agak sensitif, penjaga ini bertanya pada istri saya, apakah masih gadis. Istri saya menjawab, wow sudah punya anak. Sembari bergurau dan melihat-lihat barang pilihan kami. Pada suatu kalimat, penjaga itu berseloroh, “kamu mau saya nikahi.” Bawa saja anak-anakmu ke sini. Tema ini muncul disela tawar menawar sehingga terkesan seperti guaruan. “Kamu cantik,” katanya. Si istri juga kurang menanggapi serius dan direspon bergurau juga. Yah, memang begitulah gayanya.

Seloroh si pelayan dilanjut, namun agak vulgar kali ini, “punya orang Arab itu besar-besar, punya orang Indonesia kecil,” pungkasnya dengan logat bahasa Indonesia yang kaku. Meski tidak terlalu ditanggapi, tetapi selorohan dalam bergurau tersebut implisit menunjukkan ekspresi seksual orang arab memiliki ruangnya sendiri. Bahkan ekspresi tersebut, kalau menurut kacamata psikoanalisis merupakan penampakan kebutuhan ego yang dirasionalkan melalui pilihan kata-kata tersebut, yang artinya pembaca tahu sendiri kan. Penis orang Arab lebih besar daripada orang Indonesia.

Melengkapi fenomena tentang ekspresi verbal seksual orang Arab pun saya dapati sendiri. Peristiwanya juga saat saya berbelanja dengan istri. Saya dihampiri pelayan toko. Saya juga bersama istri untuk melihat aneka kebutuhan belanja oleh-oleh. Saya dihampiri pelayan itu dan dirangkul dengan tanpa beban. Bahkan saya dikatakan seperri orang Arab. Hidungsaya dicomot-comot dan tangan saya dipegang sambil berkata ini dan itu. Saya berkesimpulan bahwa cara itu tidak lain dari upaya memikat pelanggan. Saya pun biasa. Saya menjadi tidak biasa dan kemudian agak risih ketika sudah mendapat cerita dari teman saya tadi yang pernah menjadi korban seorang petugas keamanan.

Saya risih bukan melampaui gaya pelayan yang SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) hanya untuk kepentingan memikat pelanggan. Saya risih karena pikiran saya sudah masuk dalam skema ekspresi seksual. Selain merangkul, memegangi hidung saya dan memegangi tangan saya, saya merasa menjadi obyek seksual ditengah-tengah relasi tawar menawar barang. Batangkali saya terlalu lebay berpikir kedalam ranah obyeks seksual. Pendekatan ini sepertinya wajar tetapi bagi saya yang Indonesia (terutama yang kurang familier) menjadi kurang nyaman. Padahal sebelum saya diceritai teman saya mengenai penyanderaan seksual oleh petugas keamanan laki-laki, saya biasa saja dirangkul dan dipegang-pegang tangan saya. Setelah cerita itu, saya kemudian menjadi tidak nyaman.

Bagi orang yang lebih terkendali oleh tatanan (super-ego), ekspresi seksual akan direpresi (ditekan) dan dapat diganti dengan model ekspresi yang lebih lazim.

Ekspresi seksual merupakan perilaku yang selalu muncul di mana saja saat stimulasi seksual hadir. Bagi orang yang lebih terkendali oleh tatanan (super-ego), ekspresi seksual akan direpresi (ditekan) dan dapat diganti dengan model ekspresi yang lebih lazim. Barangkali, ekspresi tersebut sebagaimana cerita saya di tempat perbelanjaan adalah ekspresi yang lazim di ruang publik, meski jika dilihat secara lebih privat, telah melanggar hak-hak seksual orang lain karena ada nuansa melecehkan tubuh. Namun, tatkala ditempatkan lebih tersembunyi, seperti contoh petugas keamanan tadi, menunjukkan bahwa ekspresi seksual orang Arab mengambil ruang di luar hegemoni atas nama klaim kemusliman.

Seksualitas Arab selalu berhadap-hadapan antara kebutuhan seksual dan represi kekuasaan untuk mengatur aneka kepentingan seksualitas yang pada akhirnya meminggirkan hak-hak seksualitas privat.

Jika menggunakan kacamata Shereen El Feki (terj. 2013), dalam sebuah buku, Seks dan Hijab, gairah dan intimitas di dunia Arab yang berubah, seksualitas Arab selalu berhadap-hadapan antara kebutuhan seksual dan represi kekuasaan untuk mengatur aneka kepentingan seksualitas yang pada akhirnya meminggirkan hak-hak seksualitas privat. Oleh karena itu, ekspresi-ekspresi yang saya ceritakan tadi tidak lain adalah kondisi berseberangan bagaimana seksualitas warga berusaha mencari ruang-ruang yang menguntungkan dan menjawab kebutuhan seksual yang terbatasi oleh kekuatan atasnama agama atau kekuasaan, bahkan batas-batas ekspresi seksualitas yang terlalu diatur, diseragamkan dan penuh pelarangan di sana-sini sampai pada wilayat privat akan menciptakan model pilihan seksual yang keluar dari norma yang ada.

Hal ini terjadi karena orang-orang sudah kelelahan menahan dorongan seksual dari berbagai aturan dan larangan, atau sebenarnya ekspresi seksual selalu ada momen yang bisa diperoleh oleh setiap orang. Bahkan, teman saya itu pun sempat bekerja di sebuah rumah yang mana seorang suaminya berprofesi sebagai penerbang sehingga jarang ke rumah. Tidak bisa dipungkiri, teman saya pun didekati oleh majikan perempuannya yang diduga akan mengarah ke hubungan seksual. Seksualitas membutuhkan ekpresinya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa seksualitas Arab merupakan ekpresi yang tidak bisa terbantahkan, bahkan dia telah memasuki imperialisme pada pendatang. Kondisi ini mencerminkan kemungkinan bahwa patriakhi (berpusat pada lak-laki) Arab menjadikan seks sebagai bagian dari pembuktian dominasi kelelakian, baik dalam konteks hetero atau homo. Hal ini membuktikan ekspresi seksual melintasi normatifitas. Bahkan, jika normatifitas itu banyak mengekang seksualitas, justru seksualitas akan semakin menunjukkan kejujurannya mengambil ruang ekspresi, meskipun tersembunyi atau disembunyikan.

Ketika normatifitas terlalu banyak mengekang ekspresi seksual, aneka perlawanan atau ekspresi seksual biasanya berujung pada gaya perlawanan, ada yang tersembunyi ada yang terang-terangan, apakah dalam bentuk koersi, pelecehan dan imperialisme seksual pada jenis kelamin atau ras tertentu

Ketika normatifitas terlalu banyak mengekang ekspresi seksual, aneka perlawanan atau ekspresi seksual biasanya berujung pada gaya perlawanan, ada yang tersembunyi ada yang terang-terangan, apakah dalam bentuk koersi, pelecehan dan imperialisme seksual pada jenis kelamin atau ras tertentu. Atau sebaliknya, dia akan menjadi model perlawanan untuk mengambil inisiatif pembebasan. Nampaknya gejala perlawanan menuju pembebasan ini sudah dimulai dari wilayah yang lebih terbuka, yakni perempuan diperbolehkan mengemudi di Arab Saudi.

Perubahan kebijakan ini merefleksikan hadirnya perlawanan dan membuka lahirnya respon terhadap keterbukaan terhadap perempuan. Sebelum semua menjadi terbuka dalam kejujuran dan itu akan lebih mengguncang kekuasaan, maka memberi ruang kemerdekaan seksual sepertinya akan menjadi kekuatan baru bagi lahirnya demokratisasi seksual, ketimbang cerita-cerita saya tadi yang menjadikan ekpresi seksual lebih sebagai bentuk koersi (kekerasan), pelecehan atau imperialisme tubuh atas nama kepuasan seksual.

Ketika kemudian seksualitas berbicara atas nama kejujuran, sekali dia diangkat ke permukaan, dia akan menggunjang kemapanan.

Oleh karena itu, dalam konteks kebudayaan dan demokratisasi Arab, relasi seksual yang lebih memberi ruang bagi keterbukaan hubungan yang adil akan memberikan perubahan penting bagi khasanah seksualitas dalam kebudayaan yang syarat dengan kekuatan keagamaan. Shereen El Feki mengungkap aneka kebangkrutan praktik seksual akibat supremasi keagamaan menjadikan seksualitas dianggap sebagai ketabuan, bukan sebagai kejujuran meniscayakan kebudayaan yang bertumpu pada seksualitas hanya akan menjadi ancaman kemapanan, ketika realitas itu terbuka dengan sendirinya. Alasannya, karena kemapanan tersebut hanya akan melahirkan penindasan dan ketimpangan ekspresi seksual karena wicara seksualitas selalu dijinakkan atasnama norma atau kekuasaan. Ketika kemudian seksualitas berbicara atas nama kejujuran, sekali dia diangkat ke permukaan, dia akan menggunjang kemapanan. Contohnya tentang pelecehan seksual, sekali dia diwicarakan secara terbuka, maka sumber-sumber kemapanan akan terguncang. Begitu sebaliknya, ketika kebutuhan seksualitas diekspresikan sebagai dasar dari kepentingan manusia, diapun akan mengguncang lebih dahsyat pada kemapanan.

Ketika demokratisasi seksual berada dalam puncaknya tetapi selalu berseberapan dengan kekuasaan, dia biasanya akan berakhir pada tragedi atau keguncangan yang mengancam kemapanan.

Oleh karena itu, seksualitas semestinya tidak berada dalam posisi dihegemoni, dijinakkan atau ditabukan, jika hanya akan melahirkan perlawanan atas nama kebenaran dan kesucian. Ketika demokratisasi seksual berada dalam puncaknya tetapi selalu berseberapan dengan kekuasaan, dia biasanya akan berakhir pada tragedi atau keguncangan yang mengancam kemapanan. Memberi ruang demokratisasi seksual akan melahirkan suatu budaya baru bagaimana wicara dan ekpresi seksual akan lebih positif disalurkan dan akan memberikan ruang bagi kebudayaan seksual. Suatu contoh tentang Kamasutra, Serat Centini dan aneka kisah yang memberi ruang wicara seksual lebih terbuka, justru akan melahirkan berbagai citra kebudayaan yang lebih holistik.

Selain itu, proses demokratisasi seksual akan membuka ruang bagi perwujudan keadilan karena wicara seksual dapat dibangun secara seimbang. Berbeda jika seksualitas selalu dibungkus dalam aneka pentabuan, maka yang terjadi adalah ketidakadilan, pengekangan ekspresi seksual, dan ujung-ujungnya melahirkan model ketimpangan kemanusiaan, seperti penundukkan, pengorbanan dan pendisiplinan terhadap jenis kelamin tertentu (perempuan) demi untuk melanggengkan otoritas jenis kelamin yang lain (laki-laki).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here