Menyambut New Normal, Perlukah Rekayasa Perilaku Humanis Tan-Mekanis bagi Siswa?

1
343

0Shares
0

Terlepas kapan New Normal sektor pendidikan diberlakukan, ada banyak hal yang perlu kita takar. Utamanya perihal kesiapan lembaga pendidikan kita. Kesiapan ini meliputi tidak hanya sarana dan prasaran, tapi juga sumber daya manusianya. Misalnya, siapkah penyelenggara sekolah membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat kepada peserta didik secara efektif. Juga, mampukah mereka menemukan pendekatan rekayasa perilaku yang humanis tan-mekanis, yang lebih fokus kepada transformasi nilai menjaga kebersihan dan kesehatan, bukan fokus diperilaku mekanistik anak

Kampusdesa.or.id-Normalitas baru (new normal) di sekolah pasti akan berlaku pasca Covid-19, entah di tahun ajaran baru (Juli), atau di bulan Desember. Keputusan diberlakukannya belum pasti kapan, sebab hal tersebut adalah permasalahan kesehatan. Maka, keputusan membuka kembali sekolah harus mendapatkan kesepatakan dari Satgas Gugus Covid-19 dan Menteri Kesehatan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sebagaimana dilansir Tempo.co pada 27 Mei 2020, menyatakan bahwa keputusan dibukanya kembali sekolah-sekolah apakah bulan Juli atau Desember bergantung pada selesainya kondisi pandemi Covid-19.

Perubahan perilaku dan merubah perilaku manusia bukan hal yang gampang.

 

Kapanpun keputusan Kemendikbud terkait dibukanya kembali sekolah-sekolah dengan tatanan baru atau normalitas baru, para pengelola sekolah dan orangtua harus mempersiapkan jauh-jauh hari. Sebab, perubahan perilaku dan merubah perilaku manusia bukan hal yang gampang. Meskipun bagi seseorang perilaku tersebut sederhana, misalnya perilaku rajin cuci tangan, tertib menggunakan masker, dan disiplin jaga jarak, bisa saja, perilaku tersebut kompleks bagi orang lain. Menyadari hal itu, kami sebagai pengelola Sekolah Alam Ramadhani melakukan persiapan-persiapan menghadapi normalitas baru tersebut.

Sebagai pengelola, kami mempersiapkan beberapa titik tempat cuci tangan dengan membeli beberapa gentong padasan terbuat dari tanah liat, memproduksi masker sendiri sebagai persediaan bagi anak-anak dan para guru, juga rencana setting ruang belajar yang berjarak. Persiapan lain adalah kami melakukan jajak pendapat sederhana kepada para orangtua siswa terkait kesiapan orangtua dan anak apabila normalitas baru diberlakukan di sekolah. Jajak pendapat ini bisa kami lakukan lantaran sejak awal pendaftaran, kami sampaikan kepada orangtua untuk mengasuh dan mendidik anak secara bersama. Sebab, pada dasarnya yang memiliki kewajiban mendidik anak adalah orangtua. Anak di sekolah hanya 2 jam, 22 jam bersama orangtua di rumah. Artinya, porsi orangtua untuk mendidik anak jauh lebih besar dan lama dibandingkan di sekolah.

Hasil jajak pendapat sederhana yang kami lakukan adalah pertama, orangtua merasakan siap apabila sekolah kembali dibuka dengan new normal sebesar 16,5%, ragu-ragu sebanyak 16,6%, dan tidak siap sebesar 67%. Kedua, alasan mengapa para orangtua siap, ragu dan tidak siap dapat kami ketahui sebagai berikut; orangtua merasa siap diberlakukan new normal dengan alasan melihat perilaku anak sudah mengerti dalam melakukan protokol kesehatan selama di rumah. Orangtua ragu-ragu apabila diberlakukan new normal di sekolah,  dikarenakan meskipun anak-anak di rumah mau melaksananakan protokol kesehatan seperti mencuci tangan dan memakai masker, tetapi dalam hal menjaga jarak masih sulit dilakukan, apalagi ketika bermain dengan temannya dan bertemu dengan para guru di sekolah.

Sedangkan orangtua yang merasa tidak siap, dikarenakan kesadaran anak dalam menjaga kebersihan diri masih belum konsisten, apalagi dalam hal menjaga jarak. Jiwa anak-anak yang suka bermain bersama-sama, serta kondisi fisik anak dalam tingkatan PAUD/TK dan SD masih rentan atas sebaran virus apalagi saat ini Kediri masih dalam zona merah. Hasil ketiga, adalah terkait pilihan anak-anak antara memilih kondisi normal seperti sebelum ada pandemi Covid-19 yang bebas tanpa protokol kesehatan atau memilih ke sekolah dengan protokol kesehatan. Sebanyak 67% anak memilih sekolah dalam kondisi normal karena berkaitan interaksi dengan para teman. Anak-anak bermain tidak bisa dengan jarak jauh serta belum terbiasa akan kebiasaan-kebiasaan yang baru. Selanjutnya, 33% anak memilih bersekolah dengan kondisi new normal karena mereka sudah tahu akan melakukan protokol kesehatan ketika bersekolah.

Dengan landasan bahwa keluarga sebagai pusat pendidikan yang sempurna, anak akan tumbuh sebagai individual dan sosial dengan sempurna melalui pendidikan di keluarga.

 

Hasil jajak pendapat pertama dan kedua menjadi bahan pemikiran kami untuk mengolah konsep dan penerapan pendidikan anak PAUD/TK di masa new normal. Ragu-ragu 16,5 % dan tidak siap sebesar 67% bagi kami angka yang tinggi, untuk memikirkan ulang konsep dan pelaksanaannya. Dengan landasan bahwa keluarga sebagai pusat pendidikan yang sempurna, anak akan tumbuh sebagai individual dan sosial dengan sempurna melalui pendidikan di keluarga. Bahkan, kepatuhan anak-anak terhadap perilaku protokol kesehatan juga bergantung kepada pendidikan di keluarga. Keluarga, sebagai pusat pendidikan untuk mengembangkan kecerdasan-kecerdasan individual anak sekaligus menumbuhkan rasa hidup kemasyarakatan pada anak. Inilah mengapa jajak pendapat ini kami lakukan, sebagai upaya pengingat dan penumbuhan kembali pentingnya pendidikan dalam keluarga, dan mendidik secara bersama.

Hasil ketiga, memperteguh kami mengenai kodrat perkembangan anak. 67% anak-anak memilih sekolah dalam kondisi normal (sebagaimana sebelum ada pandemi COVID-19), terutama terkait bermain bersama dengan teman-teman menunjukkan bahwa bermain bersama teman-teman adalah pedidikan itu sendiri. Menurut Piaget tokoh psikologi kognitif, stimulasi sistem persyarafan anak usia dini (salah satunya) melalui permainan, menjadi fondasi perkembangan aspek kognitif anak. Frobel, seorang tokoh pendidikan anak-anak dari Jerman juga meneguhkan bahwa pendidikan anak-anak itu diutamakan melalui permainan dan kegembiraan. Sementara, tokoh pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa hidup anak itu adalah permainan, permainan sepenuhnya mengisi hidup anak. Itulah mengapa Ki Hadjar Dewantara mengkategorisasikan perkembangan anak di windu pertama (0-8 tahun) sebagai usia perkembangan wiraga, usia perkembangan kematangan ragawi yang ditandai dengan banyak gerak dan bermain.

Apa yang perlu dipersiapkan?

Pengelola sekolah PAUD dan TK, paling tidak harus mempersiapkan beberapa hal berikut untuk menghadapi normalitas baru di sekolah. Pertama, adalah kesiapan dan ketangguhan sumber daya manusia yang meliputi pengelola, para guru, dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kedua, pengelola mendesain ulang lingkungan sekolah. Mulai dari ruang (space) kelas, ruang bermain, kantin, dan ruang-ruang untuk cuci tangan. Pengelola sekolah tidak hanya memikirkan lingkungan sekolah yang menyehatkan mental, namun kini memiliki tanggungjawab menghadirkan lingkungan sekolah yang menyehatkan fisik (pencegah penularan COVID-19).

Lingkungan yang sehat bagi anak-anak usia PAUD dan TK adalah sebuah lingkungan yang mengakomodir kodrat alamiah bermainnya, pun bermain bersama teman-teman sebayanya.

 

Hal itu menjadi tanggungjawab yang tidak ringan di masa new normal, sebab sekolah harus menyediakan lingkungan sehat mental dan fisik. Sementara, pada hal-hal tertentu diantara keduanya bisa saja tabrakan. Misalnya, lingkungan yang sehat bagi anak-anak usia PAUD dan TK adalah sebuah lingkungan yang mengakomodir kodrat alamiah bermainnya, pun bermain bersama teman-teman sebayanya. Namun, pemenuhan kesehatan mental berupa kemerdekaan bermain tersebut harus terbatasi oleh protokol jaga jarak. Ketiga, pengelola sekolah, para guru dan orang-orang yang terlibat didalamnya, juga orangtua harus bergotongroyong melakukan rekayasa perilaku kepada anak. Sebuah rekayasa perilaku baru yang dibutuhkan di masa new normal, yaitu kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Sisi lain, yang perlu dipikirkan adalah menemukan sebuah pendekatan rekayasa perilaku yang humanis tan mekanis, yang lebih fokus kepada transformasi nilai menjaga kebersihan dan kesehatan, bukan fokus diperilaku mekanistik anak.

Rekayasa perilaku anak yang humanis tan mekanis membutuhkan gerakan bersama antara pengelola sekolah, para guru dan orang-orang yang ada di dalamnya, serta para orangtua yang berpihak terhadap pentingnya nilai dan utamanya pengertian anak atas mengapa melakukan perilaku tertentu. Anak juga membutuhkan modeling dari orang dewasa, khususnya dari orang-orang terdekat, yaitu orangtua dan para guru. Dengan demikian, orangtua dan guru harus memiliki keterpaduan dalam perilaku demi keberhasilan rekayasa perilaku kepada anak.

Perlunya mengembangkan sekolah berbasis komunitas

Sekolah berbasis komunitas bukan berarti mempermasalahkan formal dan informal. Ia melampui formal-informal. Berbicara komunitas berarti berbicara sense, rasa, yaitu rasa (merasa) satu kelompok (sekolah), terlepas formal ataupun informal. Sesiapa yang memiliki rasa satu kelompok terhadap sekolah tertentu, inilah yang disebut sebagai sense of belonging. Rasa kebermilikan terhadap sekolah yang dimiliki oleh semua elemen (pengelola sekolah, para guru, orangtua, dan semua orang-orang yang terlibat didalamnya) menjadi modal terwujudnya satu kondisi kohesi sosial. Kohesi sosial adalah sebuah kondisi yang guyub rukun dan bersatu untuk mencapai tujuan bersama sehingga semua sangkul si sinangkul (tolong menolong) dan bergotongroyong untuk berdaya bersama, untuk menyelesaikan permasalahan bersama. Sense of community, merasa sebagai satu kelompok yang didasari atas rasa memiliki adalah modal kelompok yang perlu ditumbuhkan di masing-masing lembaga sekolah.

Sejak bulan Maret, pada saat Kemendikbud menetepkan belajar jarak jauh dan menutup sekolah, adalah kesempatan untuk menumbuhkan sense of belonging dari semua elemen yang terlibat. Bagaimana tidak? Dulu, pola komunikasi pengelola sekolah terhadap orangtua hanya dilakukan beberapa kali dalam satu semester. Kini, orangtua terjaring didalam group-group komunikasi bersama (whatsapp, minimalnya), komunikasi antara pihak sekolah melalui guru dengan orangtua bisa dilakukan 24 jam. Seringnya komunikasi ini patut diteruskan sampai dengan masa pasca COVID-19 sehingga muncul kesadaran bersama rasa memiliki terhadap sekolah, yang puncaknya adalah memikirkan secara bersama proses pendidikan dan masa depan anak-anaknya.

Apabila rasa memiliki terhadap sekolah ini ada pada semua elemen, maka perlahan cita-cita pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang digambarkan dengan Tri Pusat Pendidikan bahwa tanggungjawab pendidikan ada pada keluarga, sekolah dan masyarakat tidak mustahil bisa diwujudkan. Pemikiran Tri Pusat Pendidikan seharusnya menjadi pendorong utama bagi semua elemen untuk bersinergi, berdaya bersama melahirkan komunitas (sekolah) yang peduli terhadap pendidikan anak. Karena, untuk mendidik anak dibutuhkan kesadaran komunal, tidak cukup individual pengelola ataupun orangtua.

 

Sunarno, M.A (Dosen di Prodi Psikologi Islam IAIN Kediri Pengelola Sekolah Alam Ramadhani Kediri dan Direktur ICPL-Kediri. Tinggal di Jl. Supiturang Utara 13, Mojoroto, Kota Kediri. Penulis bisa dihubungi via 085735139201, sunarno@iainkediri.ac.id, fb: Sunarno, ig: @bapake_madjid)

1 KOMENTAR

Comments are closed.