Sekolah Itu Tidak Ada Gunanya, Sebuah Catatan Kecil untuk Pendidikan

0
294

ANAK KECIL

Waktu itu tahun 2014, saya sedang makan di warung. Makan siang yang jamak takhir dengan sarapan. Bukanlah sesesuatu yang mengherankan jika mahasiswa rantau menjamak makan. Bukan. Itu adalah hal biasa. Secara garis besar motifnya ada dua. Pertama, karena sibuk kuliah. Kedua, karena berhemat biar bisa makan sampai akhir bulan. Saya ada dimotif kedua.

Baru beberapa suap nasi mendarat lahap di mulut, ketika seorang anak kecil menowel punggung saya. Saya pun menoleh dan bertanya.

“Ada apa dek?”.

Dia membalas dengan hal yang menakjubkan.

“Ngamen… ngamen”, kata anak kecil itu sambil menepuk tangannya sebagai musik latar.

Ayatullah Khumaini sebagai simbol pembebas Iran dari rezim otoriter. Atau Nadiem Makarim meningkatkan status sosial ojek menjadi transpostasi bernilai bisnis tinggi. maka adek kecil ini tokoh pembaharuan dalam bidang musisi jalan. Saya kagum dan tidak habis pikir dalam satu waktu.

Saya ajak anak kecil tersebut duduk di samping saya, kemudian kami berkenalan. Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Daus, sehari-hari mengamen dan jualan kresek di pasar. Saya tanya Daus sudah makan, dijawab sudah dengan mantap. Saya tanya lagi kenapa tidak sekolah, jawabannya mencengangkan.

“Sekolah itu tidak ada gunanya. Disuruh kerja tugas dan tidak dapat uang. Kalau ngamen, saya masih bisa bermain dan dapat uang”, Daus menjawab dengan polos.

Saya termenung, sekolah harusnya menjadi tempat yang menyenangkan untuk anak seusia Daus. Bukan dilatih untuk menjadi buruh yang efeknya tidak realistis. Daus tidak sendiri, saya pun sempat menganggap sekolah (dasar) bukan tempat belajar yang baik untuk anak kecil dengan naluri bermain, tetapi penjara. Hanya dua hal yang saya sukai dari sekolah ketika seumur Daus. Pertama, bel istirahat. Kedua, Bel pulang sekolah.

MENJADI DEWASA

Hidup kemudian mengizinkan saya menempuh pendidikan pascasarjana (S2). Satu angkatan ada 27 orang. Terbagi dalam 3 peminatan. Bedanya S2 dan S1, selain biaya kuliahnya lebih mahal adalah teman kelas saya lintas generasi. Ada yang lebih tua adapula lebih muda. Ada yang anak satu dan ada yang masih sendiri. Ada yang pengen nikah ada juga yang mau nikah lagi.

Salah satu diantara orang yang lebih tua dari saya bernama Ibu Silvi. Usianya sekitar 35 tahun lebih. Lebih tua sepuluh tahun dari saya. Dia seorang wanita karier di dunia pendidikan. Super enak diajak ngobrol dan gokil. Tidak jarang Ibu Silvi menciptakan selentingan yang mengundang tawa sekelas. Gayanya yang asik, selalu bisa menghidupkan suasana.

“Loh ibu ngapain di sini? Gak kerja”, tanya saya heran suatu waktu melihat Ibu Silvi di perpustakaan saat jam kerja.

“Diem lu, jangan panggil Ibu. Lagi latian jadi kids jaman now”

“Bilang aja kerjain tugas UAS”

“Tau aje lu, Jali”, balasnya dengan banyolan khas Betawi.

Meski usianya jauh di atas saya. Semangatnya tidak kalah. Dia pernah datang hujan-hujan dari kantornya demi ikut belajar bersama dengan kita. Suatu waktu dia minta tolong dijelaskan cara menyelesaikan tugas ujian akhir. Dia bilang gini “Ibu mah gak butuh jawabannya. Yang penting ngerti dulu cara menyelesainnya. Urusan benar gak apapa. Caranya itu yang penting”. Saya yang mendengar itu seperti tertampar. Terkadang seumuran saya yang lebih muda lebih mementingkan ada jawaban, bukan proses  mendapatkan jawabannya. Belum lagi melihat semangat Ibu Silvi untuk kuliah. Padahal tanggung jawabnya banyak; mengurusi kantor, menyelesaikan tugas kuliah hingga menjadi ibu rumah tangga.

 “Untung tidak telat nyampe kampus”, kata Ibu Silvi sambil menggosokan freshcare di kedua sisi kepalanya. Dari situ saya tahu Wonder Woman juga bisa lelah.

SECARA PSIKOLOGIS

Saya selalu berpikir harus berpendidikan sesungguhnya; bagaimana cara belajar dan bagaimana cara paham. Yang sering saya lakukan adalah menghafal isi catatan. Menghafal dan ketika ujian selesai, lupa lagi dengan pelajarannya. Begitu terus sampai tipes.

Sayang sekali, para orang-orang berprofesi guru gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sehingga kesimpulannya; saya harus menemukan jawabannya sendiri. Lalu saya memutuskan memperdalam Psikologi Pendidikan. Sebuah iktiar yang cenderung nekat, karena saya pun tidak tahu apakah ada jawabannya di sana. Yah, namanya juga usaha, ya kan.

Tidak ada yang lebih menarik dari rasa ingin tahu. Ingin tahu akan membuat kita belajar sampai paham. Sampai kita bisa dengan apa yang ingin kita ketahui. Rasa ingin tahu adalah pondasi yang baik dari pendidikan. Saya belajar dari Ibu Silvi, dia ingin tahu cara menyelesaikan, sehingga dengan jadual padatnya akan tetap ke kampus untuk berusaha memenuhi rasa ingin tahunya.

Begitulah harusnya cara pendidikan bekerja. Bukan dengan menentukan apa yang harus peserta didik ketahui. Akibat saya harus pelajari hal-hal yang ditentukan sekolah/kampus, saya seringkali merasa pelajarannya tidak relevan dengan minat atau tidak saya butuhkan. Pelajaran yang tidak saya minati hanya ada 2 pilihan baginya; pertama, kalau tidak saya tinggal bolos. Kedua, saya habiskan dengan baca novel dalam kelas. Toh hanya perlu tahu jawaban ketika uas, nilainya akan bagus.

Saya teringat Daus, barangkali proses pendidikan tidak bisa memasilitasi minatnya untuk bermain. Saya sih maklum, anak kecil nalurinya untuk bermain. Apalagi Calistung (baca, tulis, hitung) yang menguras emosi dan semua daya upaya seorang bocah. Saya masih ingat ketika seumuran Daus, untuk membaca satu kalimat butuh kerja keras. Kadang sampai keringat dingin. Pada cuma mengeja kalimat ‘Budi bermain bola’.

Pendidikan katanya sesuatu yang manis. Namun catatan kecil dari semua perjalanan panjang saya lalui di lembaga pendidikan, secara garis besar, untuk sesuatu yang manis, rasanya terlalu hambar.

Saiful Haq
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Penulis dua buku Saiful is me dan Diam-diam Suka, coach menulis dan inisiator Gusdurian Bone Makasar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here