Sejarah Nasional Indonesia: Keterlibatan Kecamatan Panggul sebagai Wilayah Wengker Kidul

Wahyuni Nurhidayati. Alumni Universitas Negeri Malang (UM) dan pengajar Sejarah Indonesia di salah satu sekolah kejuruan negeri di Kabupaten Trenggalek.

0
208

Indonesia mempunyai segudang sejarah yang tidak akan ada habisnya jika ingin menelisiknya. Salah satunya adalah kebudayaan yang menjadi bagian dari sejarah Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Ada tiga unsur kebudayaan yaitu sistem teknologi, sistem mata pencaharian, dan sistem religi untuk menjelaskan keterkaitan temuan artefak manusia zaman dahulu di Kecamatan Panggul yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Kecamatan Panggul masa kini. Jika dipelajari lebih dalam, sejarah perkembangan kehidupan masyarakat Kecamatan Panggul dapat dikatakan sebagai kehidupan masyarakat kompleks.

KampusDesa–Kecamatan Panggul merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Trenggalek dengan wilayah terluas dibanding kecamatan lain. Memiliki 17 desa, secara geografis-astronomis berada di garis 8,2490 LS dan 111,4546 BT dengan ketinggian 13 mdpl (BPS, 2013). Menurut data BPS Kabupaten Trenggalek tahun 2013, jumlah penduduk Kecamatan Panggul terhitung sebanyak 82.329 jiwa. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Pacitan yang terkenal dengan Goa zaman Pra-Aksaranya, sehingga menurut buku Sejarah Trenggalek, Kecamatan Panggul pernah dilalui oleh Manusia Pacitan ketika bermigrasi ke Wajak Tulungagung.

Gambaran sosial-ekonomi masyarakat Kecamatan Panggul, sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Letak geografis memang memiliki pengaruh yang sangat signifikan dengan mata pencaharian suatu masyarakat yang menempati daerah tersebut. Lahan pertanian dan keberadaan Samudra Hindia menjadikan Kecamatan Panggul sebagai daerah agraris sekaligus maritim. Layaknya konsep kehidupan masyarakat Kerajaan Majapahit, keberadaan Pasar Panggul menjadi pusat kegiatan sosial-ekonomi masyarakat. Tentu saja hal ini berawal dari pasar, hasil pertanian dan perikanan dapat diperjual-belikan.

Manusia menghasilkan kebudayaan dengan tujuan untuk mempermudah sekaligus sebagai pembatas antara tindakan yang boleh atau yang tidak boleh dilakukan.

Menurut ilmu Antropologi dalam Koentjaraningrat (2002) mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Maka tidak heran mengapa ada istilah “Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna,” karena semua wujud tindakannya, yang kemudian menjadi kebiasaan, dan diwariskan secara turun-temurun, hanya bisa dihasilkan oleh manusia melalui prosesnya yaitu belajar dan berpikir. Manusia menghasilkan kebudayaan dengan tujuan untuk mempermudah sekaligus sebagai pembatas antara tindakan yang boleh atau yang tidak boleh dilakukan.

Ilmu Antropologi membagi kebudayaan dalam beberapa unsur sekaligus sebagai inti pembangun terciptanya suatu gagasan, sehingga dapat disebut sebagai hasil kebudayaan yaitu budaya suatu bangsa. Menurut ilmu Antropologi, terdapat tujuh unsur kebudayaan, di antaranya bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian. Namun dalam tulisan ini, hanya akan diambil tiga unsur kebudayaan, yaitu sistem teknologi, sistem mata pencaharian, dan sistem religi untuk menjelaskan keterkaitan temuan artefak manusia zaman dahulu di Kecamatan Panggul yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Kecamatan Panggul masa kini.

Teknologi yang ditemukan di Desa Gayam, Kecamatan Panggul adalah alat-alat yang terbuat dari tanah atau gerabah, batu, keramik China, dan uang logam. Alat dari tanah atau gerabah yang ditemukan sebagian besar dalam bentuk pecahan-pecahan sehingga belum dapat direkonstruksi bentuk dan fungsi dari alat tersebut. Selain gerabah, juga ditemukan keramik China dengan bentuk masih utuh, bentuknya mirip mangkok makan, dan salah satunya terdapat lukisan ikan Koi, yang melambangnya keselarasan hidup dalam filosofi China.

Salah satu gerabah yang ditemukan dalam keadaan utuh

Alat-alat yang digunakan oleh suatu masyarakat yang mendiami suatu daerah disesuaikan dengan sistem mata pencahariannya. Berdasarkan penemuan di Desa Gayam, Kecamatan Panggul, dapat disimpulkan bahwa mata pencaharian masyarakatnya adalah petani. Hal ini sesuai dengan ditemukannya Pundhen, yang disebut dengan Pundhen Mbah Gambang yang hingga saat ini masih diberi sesaji pada saat akan melakukan penanaman padi atau setiap malam Rabu Legi dalam pasaran Jawa. Benda yang ditemukan, sebagian besar berasal dari area persawahan masyarakat. Selain hubungannya dengan Pundhen tersebut, penemuan lain yang tidak dapat dipindahkan dapat ditemui di area persawahan yaitu Watu Lumpang dan Sumur Gerabah.

Keramik China dengan lukisan ikan Koi, simbol keselarasan hidup dalam filosofi China

Sebelum mengenal agama, masyarakat Indonesia sudah mengenal sistem kepercayaan. Animisme dan Dinamisme menjadi salah satu agama lokal masyarakat Indonesia. Setelah agama-agama mulai masuk ke wilayah Indonesia, agama lokal tidak dihapuskan, akan tetapi dilakukan akulturasi dengan agama baru. Agama Hindu-Budha diperkirakan masuk ke wilayah Indonesia pada abad ke V M, tepatnya di Pulau Jawa. Kerajaan Singhasari dan Majapahit menjadi kerajaan Hindu-Budha di Jawa Timur yang terkenal akan strategi penaklukkan wilayah lain, sehingga banyak wilayah yang takluk di bawah kekuasaannya. Tidak mengherankan jika benda-benda yang ditemukan di Desa Gayam, Kecamatan Panggul masih bisa disebut sebagai pengaruh dari kebudayaan Kerajaan Singhasari-Majapahit.

Salah satu batu lumbung yang ditemukan di area persawahan masyarakat

Jika melihat ke belakang, hubungan Indonesia dengan China mulai tumbuh subur ketika Kerajaan Majapahit memerintah Jawa atau lebih luas seluruh wilayah Nusantara. Ekspansi China ke Jawa dimulai ketika Kerajaan Singhasari memerintah Jawa di bawah Raja Kertanegara, namun usaha China ketika itu belum berhasil. Perdagangan dengan China dimulai ketika Kerajaan Majapahit memerintah Jawa dan Nusantara ketika Laksamana Cheng Ho berlayar ke Nusantara untuk berdagang dan menjalin kerjasama. Hubungan tersebut dipererat dengan pernikahan Raja Brawijaya V dengan Putri Campa yang masih keturunan China.

Kehidupan masyarakat Kecamatan Panggul saat ini memang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kehidupan masyarakat masa lalu.

Jika dipelajari lebih dalam, sejarah perkembangan kehidupan masyarakat Kecamatan Panggul dapat dikatakan sebagai kehidupan masyarakat kompleks. Kehidupan masyarakat Kecamatan Panggul saat ini memang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kehidupan masyarakat masa lalu, jika kita mau mendalami bagaimana keterkaitannya dengan Sejarah Nasional Indonesia. Kecamatan Panggul sebagai jalur migrasi manusia zaman Pra-Aksara yang bermigrasi dari Pacitan menuju Wajak Tulunggagung, hingga keterlibatan Kecamatan Panggul pada zaman Hindu-Budha di bawah Kerajaan Singhasari-Majapahit, masa Islam di bawah Kasultanan Surakarta, Zaman Kolonial dan Pendudukan Jepang, hingga zaman awal Kemerdekaan. Sebagai masyarakat Panggul, penulis pribadi sangat bangga dengan keadaan sebenarnya dari Kecamatan Panggul jika melihat keterlibatannya dalam Sejarah Nasional Indonesia. Memang diperlukan penelitian lebih mendalam untuk mengetahui dengan pasti keterlibatan Kecamatan Panggul sebagai wilayah Wengker Kidul di bawah Kerajaan Singhasari-Majapahit, sehingga dapat diketahui dengan pasti apa fungsi dari benda-benda temuan yang telah dibahas di atas.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here