Sebelum Ibu Terpapar Radikalisme, Apa yang Seharusnya Dilakukan?

0
270
http://www.wajibbaca.com/2017/05/cara-ampuh-menasehati-anak-agar.html

Terorisme telah mengambil peran keluarga. Pelaku bom bunuh diri pun telah terbukti dilakukan oleh sebuah keluarga yang melibatkan istri dan anak-anak pelaku teroris. Ketahanan keluarga menjadi soko guru bagi masyarakat. Simpul hubungan di dalam keluarga menjadi tolak ukur dalam membangun keberagamaan kritis. Situasi ini memberikan gambaran bahwa terorisme telah memasuki ruang keluarga sehingga kita perlu memagari kewaspadaan beragama bagi seluruh anggota keluarga kita agar tidak terpapar radikalisme, termasuk perempuan dan anak-anak.

Kampusdesa.or.id- Berita tiga personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) mendapat saksi hukum dan dicopot dari jabatannya karena unggahan status sosial media istrinya mengusik pikiran saya sampai sekarang. Meskipun berita itu sudah terjadi beberapa waktu lalu. Khalayak sudah paham sebab pencopotan itu karena mereka dinilai berujar secara tidak pantas di media sosial, terkait kasus penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto. Saya tidak membahas seputar penusukan ini lebih jauh. Saya terusik karena mereka selain istri TNI juga ibu bagi anak-anaknya. Menurut ajaran di agama saya, ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. Tentu untuk menjadi sekolah bagi anaknya ibu harus memiliki sekian ilmu pengetahuan untuk mendidik anak-anaknya agar tumbuh dan berkembang baik sesuai jamannya dan tentu saja menjadi generasi unggul dalam kebaikan.

Kasus istri TNI yang notabene ibu bagi anak-anak mereka yang dinilai tidak etis dalam bersosial media ini dinilai oleh banyak kalangan bahwa mereka diduga terpapar paham radikalisme. Apa itu radikalisme? Menurut Badan Nasional Penanggulagan Terorisme (BNPT), radikalisme merupakan embrio lahirnya terorisme. Radikalisme merupakan suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekerasan (violence) dan aksi-aksi yang ekstrem. Sedangkan cirinya menurut BNPT yang bisa dikenali adalah dari sikap dan paham radikal antara lain; 1) intoleran (tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain), 2) fanatik (selalu merasa benar sendiri; menganggap orang lain salah), 3) eksklusif (membedakan diri dari umat Islam umumnya) dan 4) revolusioner (cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan).

Menyoal radikalisme yang pelakunya dari kaum ibu ini, saya teringat beberapa peristiwa-perstiwa berikut ini.

Peristiwa 15 Mei 2018 di Surabaya, 3 hari setelah teror bom bunuh diri yang melibatkan anak-anak dalam satu keluarga, di tanggal 15 Mei saya pernah menulis status facebook yang menyoal tanyangan acara religi salah satu TV yang mana anak sulung saya heran dengan konten ajaran yang disampaikan berupa larangan ziarah ke makam wali. Stasiun TV ini beberapa hari kemudian muncul dalam pemberitaan online bahwa tayangan religinya ada yang tidak sesuai dengan aqidah keluarga saya maupun mata pelajaran di sekolah dan tentunya hampir seluruh umat Islam di negara ini. Mengingat pemberitaan ini, saya tulis dalam status facebook saya kurang lebih begini,

“Kakak, kalau lihat TV yang tayangannya tidak sama dengan yang diajarkan umi, abi, guru-guru di MI dan di TPQ, pean percaya yang diajarkan umi, abi dan guru- guru saja geh.”

Status ini saya tulis tahun 2013 lalu. Tiga tahun kemudian ada pemberitaan Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar. Gerakan ini mendadak heboh setelah seorang dokter bernama Rica Tri Handayani dan anaknya di Yogyakarta menghilang sejak 30 Desember 2015 lalu.Dokter Rica kemudian ditemukan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, 11 Januari 2016. Dari hasil penyelidikan, dokter Rica diketahui adalah anggota Gafatar. Dia menjadi anggota sejak 2012. ( Liputan6.com, 20 Januari 2016). Gafatar yang diketahui sebagai organisasi yang menghembuskan ajaran sesat inipun di Jombang sudah ada titik-titik yang digunakan oleh Gafatar Jombang atau organisasi sejenis sebagai basisnya, diantaranya di desa Ngumpul, kecamatan Jogoroto, kemudian di Denanyar dan Plandi, kecamatan Jombang (Surya.co.id , 13 Januari 2016).

Betapa beratnya pendidikan keluarga dengan kepungan informasi berisi terorisme dan aliran sesat ini. Tentunya orang tua tidak boleh lengah, orang tua harus semakin membekali dirinya dengan pengetahuan agar bisa memberi penjelasan yang tepat tentang dinamika informasi, dalam hal ini radikalisme, terorisme dan aliran sesat.

Pada Minggu 13 Mei 2018 sampai Rabu (16 Mei 2018) terorisme muncul kembali setelah tragedi Kampung Melayu pada 24 Mei 2017. Mengejutkan pula karena jaringan terorist yang menyerang 3 gereja di Surabaya pengeboman tidak lagi dilakukan oleh pria, tapi juga anak dan istri. Saya terhenyak, heran dan kuatir. Begitu dasyatnya serangan terorisme mencuci otak mereka hingga melakukan tindakan yang tidak bisa dinalar akal dan tidak dibenarkan agama (membunuh dan bunuh diri ajaran manapun melarang) yang melibatkan anak dan perempuan, satu keluarga. Betapa beratnya pendidikan keluarga dengan kepungan informasi berisi terorisme dan aliran sesat ini. Tentunya orang tua tidak boleh lengah, orang tua harus semakin membekali dirinya dengan pengetahuan agar bisa memberi penjelasan yang tepat tentang dinamika informasi, dalam hal ini radikalisme, terorisme dan aliran sesat.

Keluarga memiliki peran sebagai benteng bagi pertumbuhan bibit radikalisme anak-anak muda. Data BNPT memperlihatkan lebih dari 52 persen narapidana teroris yang menghuni lembaga pemasyarakatan berusia 17-34 tahun ( A Safril, Jawa Pos, 15 Mei 2018).

Kenyataan ini membukakan mata saya, bahwa aliran sesat, radikalisme dan terorisme tidak saja ada di pemberitaan media elektronik maupun media online yang jauh dari pandangan kita, tapi kenyataannya ada di sekitar kita, di sekitar keluarga kita dan anak-anak kita. Media -media tersebut juga mudah diakses oleh keluarga kita, sehingga kita, anak-anak kita mengetahui kejadian apa saja di luar rumah termasuk gerakan gerakan yang berbau terorisme, pemikiran radikal maupun aliran sesat. O ya, menyaksikan Gafatar kala itu, lagi-lagi saya berpesan kepada anak saya.

“Kelak, kalau kalian jauh dari umi dan abi untuk melanjutkan sekolah, dan di sana ada pengajian atau kumpul-kumpul ngomong soal agama, kalau ada yang tidak sesuai dengan yang diajarkan umi dan abi atau bertentangan dengan pelajaran jaman sekolah MI, kalian tanyakan dulu kepada umi, abi atau guru- guru MI dulu.”

“Kelak, kalau kalian jauh dari umi dan abi untuk melanjutkan sekolah, dan di sana ada pengajian atau kumpul-kumpul ngomong soal agama, kalau ada yang tidak sesuai dengan yang diajarkan umi dan abi atau bertentangan dengan pelajaran jaman sekolah MI, kalian tanyakan dulu kepada umi, abi atau guru- guru MI dulu.” Saya berpesan seperti ini karena anak saya usia madrasah ibtidaiyah waktu itu. Saya berharap, pesan -pesan masa kecilnya akan diingat terus di masa yang akan datang. Saya merasa penting berpesan seperti itu, karena saya tidak tahu apa yang direncanakan oleh penyebar aliran sesat dan pemelihara sel tidur radikalisme kelak. Saya ‘njagani’ agar anak -anak punya komitmen tepat dan benar dalam menjalankan agamanya di eranya nanti. Dan kekhawatiran saya ini beralasan dengan kejadian pengeboman pelayanan publik menjadi sasaran gerakan terorisme .

Maka, 15 Mei 2018, saya tergerak mengajak kawan-kawan facebook saya dengan status seperti ini,

Tugas orang tua pada pendidikan anak, tidak saja seputar urusan akademik sekolahnya (formal, nonformal, informal) dan tata krama bermasyarakat, tapi urgen membekalinya aqidah akhlaq di tengah berhamburannya ideologi sesat, adanya bom bunuh diri, aliran sesat, organisasi terlarang yang dapat mereka saksikan kapan saja. Jangan tunggu sekolah yang bergerak, kelamaan.

Handphone adalah jendela bagi orang tua untuk mengetahui informasi lebih banyak. Jangan hanya nge-share tentang korban-korban terorist, menulis kecaman di status sosial media saja. Mari kita berbisik sayang kepada anak anak kita.

Semua orang tua sudah pegang handphone, selain untuk bisnis, “say hello‘ dengan kawan nun jauh di sana, berhaha-hihi dengan komunitas. Handphone adalah jendela bagi orang tua untuk mengetahui informasi lebih banyak. Jangan hanya nge-share tentang korban-korban terorist, menulis kecaman di status sosial media saja. Mari kita berbisik sayang kepada anak anak kita.

“Anakku, kalau kalian diajak beribadah dengan berjihad lalu pahalanya dapat surga dan bidadari, maka taat pada orang tua juga ibadah, membantu sesama di sekitar kita juga ibadah, sholat berjamaah, zakat, puasa, berhaji juga ibadah. Kalau ada orang lain selain ayah dan ibu, guru kalian sekalipun mengajari kalian yang tidak sama diajarkan oleh ibu dan ayah, guru ngaji kalian, guru-guru senior kalian di sekolah, jangan percaya pada nasehat, atau pelajaran atau cerita aneh aneh tersebut ya.”

Mari lebih banyak belajar, membaca (tulisan dan situasi) agar bisa melawan radikalisme, terorisme, dan aliran sesat dari pola pendidikan keluarga. Saya juga belajar.