Sang Pemimpi, Sang Pelaksana

0
234

Sang Pemimpi, Sang Pelaksana Mimpi besar itu terangkum di dalamnya. Ya, di dalamnya. Sudah lebih dari setengah abad semenjak pasukan salib gabungan negeri-negeri Eropa menancapkan kuku jajahanya di bumi Palestina, kala itu abad 10 Masehi. Kekalutan mencuat, merebak di dunia Islam, mereka semua  menanti datangnya sang fajar yang kelak akan membawa kaum Muslimin bangkit dan duduk kembali di singgasana kejayaanya, membebaskan bumi para nabi yang saat itu semerbak  harumnya ternodai.

Kampusdesa.or.id — Nuruddin Zanki terhenyak, beliau seorang Sultan yang di hadapannya menjuntai rantai panjang kekuasaan kolonialis Eropa yang menjajah negeri-negeri Muslim. Ia sadar betul bahwa kemunduran umat Islam disebabkan mereka telah menjauh dari jalan-jalan cahaya bernama jihad, telah sedemikian takut untuk sekedar berkata juang.

Namun, ia takut, ia tak takut, ia bahkan tak gentar walau sedetik. Ayahnya, Imaduddin Zanki, telah mencontohkannya bahwa perjuangan takkan pernah mati. Sebelum ayahandanya wafat, Imaduddin telah membuka kota-kota Islam dan membebaskanya setelah berpuluh tahun menjadi markas koloni salib di Syam. Puncaknya adalah pembebasan kota Edessa. Imadudcitra yang paling baik, orang yang pemberani, cerdas dan tegas”, mengembalikan kepercayaan umat Islam bahwa harapan untuk membebaskan Masjid Al-Aqsa masihlah ada, bahkan makin membara.

Nuruddin berpikir, bagaimana menyatukan rakyat agar mau mendukung dirinya menuju jalan panjang membebaskan Masjid Al-Aqsa. Ia telah memperbanyak madrasah-madrasah: ia telah memberdayakan madrsah-madrasah: ia juga telah mengutus ribuan ulama untuk mendidik generasi muda islam agar jiwa mereka terpanggil membebaskan Baitul Maqdis.

Mimpinya membebaskan Al-Aqsa begitu menghunjam, ia pikirkan dalam sadarnya, terbawa dalam mimpinya, terucap dalam tidurnya, dan selalu tergiang dalam pidato-pidatonya. Misi besarnya untuk membebaskan Al-Aqsa menjadi langkah yang begitu bening.

Akhirnya, untuk mengkristalkan mimpi besarnya, Nuruddin membuat sebuah mimbar paling indah, dibuat dengan kayu paling baik: dirancang oleh arsitek paling berpengalaman. Mimbar yang ia buat untuk mengambarkan pada rakyatnya, bahwa tekadnya telah  bulat, telah kokoh, begitu keras, takkan lagi tergeser oleh kepentingan apa pun. Seakan-akan ia berseru pada rakyatnya, “Aku mengajak kalian untuk mengantar mimbar  ini ke Al-Aqsha! Apakah kalian  mau menjadi bagian dari sejarah emas Islam?”

Mimbar itu beliau letakkan di tenggah kota agara seorang ibu mengisahkan tekad Sang Sultan pada anak-anaknya: para ulama menggegarkan semangat membebaskan Baitul Maqdis di setiap majelis-majelis pengajian: para ayah bekerja menyebar di muka bumi guna mempersiapkan jihad harta dan jiwa mereka hingga kemudian siap menyambut panggilan Sultan ke medan perang.

Mimbar yang dipamerkan di muka umum ini seakan mengajak pada semua pasang mata melihatnya: “Bawa aku! Bawa aku ketika Al-Aqsha bebas! Kaulah yang akan jadi pembebasnya! Kaulah yang akan jadi pembebasnya!”

Sungguh, mimbar itu ia buat, lalu ia bentangkan di tempat umum, sebagai simbol tekadnya yang mengkristalkan, juga sebagai seruan untuk rakyatnya dalam berbangkit. Mimbar yang dipamerkan di muka umum ini seakan mengajak pada semua pasang mata melihatnya: “Bawa aku! Bawa aku ketika Al-Aqsha bebas! Kaulah yang akan jadi pembebasnya! Kaulah yang akan jadi pembebasnya!”

Namun, Allah telah menakdirkan, misinya yang besar tak bisa beliau laksanakan hingga terlaksana. Sebab, beliau menghadap Allah pada usia ke-59, tahun 1174 Masehi demikian, hal ini tak berhenti, malah makin mengkristal di jiwa umat Islam. Hanya perlu 13 tahun menunggu, mimbar yang mewakili tekad Nuruddin Zanki diantarkan dengan bersahaja menuju mimbar Al-Aqsha yang begitu berwibawa.

Tekad Nuruddin Zanki terbentang menjadi nyata dengan perantara penerusnya, Shalahuddin al-Ayyubi, tepattnya dalam kemengan 12.000 pasukan Muslim pimpinan Shalahuddin dalam pertempuran Hattin tahun 1187 Masehi pimpinan Shalahuddin dalam pertempuran Hattin tahun 1187 Masehi melawan 60.000 Pasukan Salib pimpinan Guy de Lusingnan. Dibawalah mimbar itu menuju Al-Aqsha di hari pembebasannya.

“Misi besar,” kata Maulana Wahiduddin Khan dalam bukunya The Moral Vision: Islamic Ethics for Succes in life menjelaskan, “dapat melahirkan dorongan yang kuat pada seorang manusia untuk melakukan usaha superior yang padapuncaknya mengarahkan untuk meraih prestasi luar biasa.

Mari kita mengulang lagi kehidupan kita sebagai pelopor perubahan. Untuk reform, kiota harus siap perform dengan segala kemampuan yang ada.  Dengan mimpi besar yang tergantung tinggi di samping bintang-bintang, dan misi raksasa yang menggetarkan.

Kawan, mari kita mengulang lagi kehidupan kita sebagai pelopor perubahan. Untuk reform, kiota harus siap perform dengan segala kemampuan yang ada.  Dengan mimpi besar yang tergantung tinggi di samping bintang-bintang, dan misi raksasa yang menggetarkan. Seperti Nuruddin Zanki dan mimpinya membebaskan Al-Aqsha, visi kita adalah visi yang bening. Tujuan kita telah jelas: mengembalikan kejayaan Islam di percaturan dunia, mengantarkan Indonesia menjadi guru perdaban yang bijaksana.

Kitalah sang pemimpi, kitalah sang pelaksana. Namun, tampaklah tujuan kita terlalu abstrak, kawan. Kita tak bisa mengartikan “kejayaan Islam” seperti apa di benak kita. Kita juga di pusingkan memaknai Indonesia sebagai “guru perdaban”. Tujuan kita belum terfokus, belum teratur. Belum seperti Nuruddin Zanki yang mengkristalkan mimpinya dengan membuat mimbar yang ia letakkan di tengah kota agar semua jiwa terinspirasi untuk melaksanakan misi raksasa membuka gerbang Baitul Maqdis.

Bayangkan, ketika melihat mimbar Nuruddin itu, seorang ibu akan menyemangati anaknya untuk membebaskan Al-AqsHa: seorang pelajar akan makin giat berlatih untuk mencapai tanah Al-Aqsha: seorang bapak akan giat bekerja mengumpulkan bekal guna membentangkan jalan besar menuju Al-Aqsha kita? Bagaimana dengan mimpi kita untuk mengembalikan kejayaan Islam di percaturan dunia, mengantar Indonesia  menjadi guru perdaban yang bijaksana?

Mari bermimpi tentang masa depan yang cerah. Sekarang, mari kita bayangkan apa yang ingin kita buat dan kita kerjakan di masa depan. Mari bayangkan di otak kita tentang perubahan-perubahan besar di masa depan atas seizing-Nya oleh tangan-tangan genius kitalah semua itu mewujud nyata.

Bayangkan, sekarang. Sudah?

Apa yang kaau impikan? Jika saya boleh memperlihatkan gambaran yang saya bayangkan, saya akan menggambar masa depan dengan perubahan besar. Suatu hari menuju senja, kita berjalan-jalan di kota Jakarta, kemacetan sudah tiada, jalan-jalan laying menambah kemegahan kota ini. Menara-menara tinggi  perusahaan Muslimin begitu gagah. Di salah satu gedung tertinggi , terpampang jam raksasa yang berdenting nyaring ketika dating waktu shalat. Para muazin telah mengumandangkan azan yang saling bersahut, mengagumkan.

Di taman-taman kota yang indah, para remaja membentuk lingkaran mengaji, mereka menghafal Al-Qur’an sembari menunggu waktu berbuka. Pakaian mereka sopan, wajah mereka cerah. Mereka tampak bangga memba dan melantunkan Ayat Allah di pusat kota. Masya Allah.

Terbayang?

Waktu shalat Maghrib tiba.  Dalam sekejap, pedagang-pedagang dan pejalan kaki merehatkan diri mereka ke masjid-masjid sekitar, sambil membawa Al-Qur’an di dada. Para pekerja berdasi tadi siang telah rapi dengan baju koko, sarung dan peci. Azan berkumandang, dan semua orang tanpa terkecuali meningalkan pekerjaanya, dating menuju masjid, tanpa khawatir kehilangan barang dagangannya. Mobil dan motor berparkir di halaman masjid, lalu dengan segera para pengemudi mengambil air wudhu, berlomba memenuhi shaf pertama.

Di Istana Merdeka, presiden yang baru  saja rapat dengan para menterinya berbuka puasa. Mereka baru saja menjalani puasa Daud. Setelah berbuka, presiden mengimami shalat Maghrib membaca surat ar-Rahman, sembari menangis. Para menteri  di belakangnya terbawa kebeningan suasana dan tak bisa menahan air mata mendengar lantunan bacaan sang presiden yang hafal 30 juz Al-Qur’an. Istana merdeka begitu bercahaya dengan kebeningan jiwa dan keluhuran budi pemerintahannya.

Setelah Maghrib, kita berjalan-jalan menyusuri rumah-rumah di sekitar. Tidak ada lagi riak-riak suara televise. Tidak ada juga musiik radio yang mendengarkan lagu dangduut. Semua keluarga memaksimalkan waktu antara Maghrib dan Isya untuk mentadaburi Al-Qur’an dan berkumpul bersama, tanpa penganggu bernama televise, handphone, dan kawan-kawanya.

Nyaman, tenang, dan mendamaikan jiwa siapa saja yang melihatnya. Sudahkah terbayang ? sudahkah kawan membayangkan imajinasi yang lain?

Nah, imajinasi itulah yang akan jadi visi kita. Siapkan tangan dan kaki. Siapkan tenaga dan jiwa. Segarkan pikiran dan perbanyak ibadah. Kita akan memulainya saat ini juga. Imajinasi kita yang membayangkan Suasana kedamaian seperti itu akan kita laksanakan selangkah demi selangkah, sedetik demi sedetik, dengan keyakinan yang seyakin-yakinya. Sungguh, Allah Swt pasti akan mewujudkannya, asal kita mau berusaha memperjuangkannya.

Kitalah sang pemimpi, kitalah yang menunaikannya. Jangan pernah berharap perubahan akan terjadi begitu cepat, secepat membalik telapak tangan. Semua orang telah tahu bahwa untuk menuju tanggal 31 Desember, di butuhkan 364 hari dari tanggal 1 Januari. Tak bisa, sampai kapan pun, kita tak akan bisa melompat dari 1 januari menuju 31 Desember dalam beberapa saat. Mustahil!

Maka dari itulah seorang Muslim yang akan menjadi agen perubahan dituntut untuk menguasai keadaan, mengerti dunia dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekilingnya. Bukan bertindak instan, bermimpi Islam Berjaya, lalu meristis langkah. Belum lelah bergerak, jiwa ini sudah terlalu ingin Islam menuju puncak. Visi yang bening, mimpi yang besar, dari situlah kita punya energy yang terus  berpacu. Dan akhirnya, kita tularkan pada kawan, keluarga, bahkan nanti anak keturunan kita.