Sahur dan Berbuka Paling Menyedihkan

0
88

Tidak ada yang bisa diprediksi di dunia ini. Kematian menghampiri tanpa batas waktu dan di luar kendali manusia. Setiap saat bisa menghampiri kita. Ramadan bagi perawat yang bertugas di rumah sakit, kematian selalu menjadi pemandangan keseharian. Persaksian ini mewarnai tugas mereka di sela-sela berbuka. Bahkan mereka rela tidak berbuka demi tugas mereka. Merawat kematian.

Kampusdesa.or.id — Sudah menjadi kewajiban umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadan di bulan suci yang penuh berkah ini. Dalam riwayat Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun atas lima (rukun); Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, berpuasa di bulan Ramadan, menunaikan zakat, dan haji ke Baitullah.” (HR. Bukhari Muslim).

Selain mengamalkan rukun Islam yang ketiga, waktu yang paling perfect untuk menabung amal akhirat, sebab kebaikannya dilipat gandakan semua. Terlepas itu semua, tugas pokok seorang perawat tentunya bernilai kebaikan. Kebayang dong betapa mulianya seorang perawat jika bekerja dengan tulus dan ikhlas?

Pernah saat sahur, menjelang imsak. Saat itu suster yang sedang mengangkat telfon, hanya seorang diri. Suster yang baru bangun dari tidurnya, terbangun lantaran ingin memenuhi kebutuhan eleminasinya; BAK. Terpaksa mengangkat telfon yang terus berdering.

“Hallo, ada yang bisa dibantu?”

“Teh maaf, di ruangan ada alat syringe pump yang nganggur?” Tanya seorang di telfon.

Kemudian, seorang keluarga pasien datang ke Nurse Station dengan air mata yang membanjiri pipinya. Suster itu memberikan isyarat untuk menunggu sebentar.

“Nanti ya, diliat dulu.” Jawab suster pada sang penelfon. Lalu ia letakkan telfon tersebut dan bertanya pada wanita yang sedari tadi menunggu.

“Kenapa Bu?” Tanya suster

“Sus, kayanya Bapak saya udah nggak ada.” Keluhnya sambil terisak

“Hah! Aduh, kebelet. Gimana ni” ujarku dalam hati

Kemudian mantri junior bertanya, “Kenapa?”

“Itu bang, maaf napa, liat dulu. Katanya bapanya udah nggak ada.” Jawab suster sambil berjalan menuju kamar mandi.

“Hei, ini yang telfon minta apa?” Tanyanya lagi

“Anu, dia mau minjem syring pump kalau ada, bentar ya. Kebelet ni.” Jawab suster

Dalam waktu bersamaan. Mantri senior langsung mengampiri pasien yang dimaksud. Kemudian memerintahkan mantri junior untuk membawa alat Elektrokardiogram (EKG), yang mana alat tersebut berguna untuk merekam aktivitas kelistrikan jantung dalam waktu tertentu. Sekaligus menjadi bukti dari dokter untuk memberikan keterangan bahwa pasien tersebut telah meninggal dunia.

Setelah dokter menjelaskan pada keluarga pasien, isak tangis semakin menjadi. Seperti adu volume dengan adzan subuh yang telah memasuki waktu. Suster dan mantri kemudian membungkus jenazah tersebut dan siap diantar ke kamar mayat.

###

“Suster….. Tolong…. Suami saya…. Aaaaaaaaaaaaah.” 

Terdengar teriak histeris dari salah satu kamar dari sebelas kamar yang ada. Kemudian disusul dengan suara adzan magrib berkumandang, menandakan waktu berbuka puasa telah tiba.

Suster yang baru datang dengan membawa seabrek pesanan untuk makan dan berbuka langsung meletakkan bawaannya di meja. Seorang mantri langsung menelfon dokter jaga, lalu secepat kilat berlari menuju kamar yang telah pecah dengan isak tangis.

Tanpa menunggu perintah, ia langsung mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan. Namun sayangnya, sebelum dilakukan tindakan. Malaikat maut lebih dulu tiba dan membawa ruhnya, sehingga ia hanya menunggu dokter jaga tiba sambil melakukan pemeriksaan EKG.

Sungguh, derajat perawat di sisi-Nya sangat bernilai. Bagaimana tidak? Meskipun waktu sahur dan berbuka diganggu, sama sekali tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya. Semuanya dikerjakan dengan penerimaan terbaik. Semoga para perawat di dunia mendapatkan kemudahan segala urusannya di dunia dan akhirat, keberkahan dalam hidupnya, selamat dan menginspirasi. Happy Nurse Day!

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah