Sadarkah Kita!

0
162

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku”. Pernakah kita berpikir diterima atau tidakkah sujud kita  dalam setiap hembusan napas ini? Berapa banyakkah saudara-saudara kita yang “enggan” bahkan malas untuk mengerjakan kewajibannya pada Allah? Bahkan tak jarang pula mereka dengan sengaja melalaikan ibadahnya hanya untuk kepentingan duniawi.

Kampusdesa.or.id- Padahal bila kita sadari maka kemungkinan lebih besar tumpukan dosa-dosa kita dibandingkan dengan amalan sholeh kita, karena pada dasarnya manusia memang tak luput  dari khilaf dan lupa, tapi seharusnya kita tak menjadikan dasar itu sebagai alasan atas dosa-dosa yang tercipta.

Sadarkah  kita kalau dunia hanya panggung sandiwara manusia, persinggahan belaka yang tiada akan bersifat fana. Pada akhirnya, liang lahatlah yang menjadi peristirahatan terakhir kita, antara surga dan neraka yang ditentukan oleh amalan kita, bukan karena kecantikan atau kemapanan, bukan pula kekayaan tapi karena pahala yang kita semaikan sewaktu menjalani drama kehidupan ini.

Meningkatkan kesenangan yang fana kita terus berlomba-lomba tapi meningkatkan ibadah kita kepada Allah rasanya bangga sembilu melihat seluruh tubuh dengan keterpaksaan yang berselubung. Sadarkah kita? Kita tercipta karena Allah, kita pun  ada karena Allah dan Allah tidak pernah meminta imbalan apa-apa untuk semua rahmat-Nya selama ini.

Hidup kita di dunia ini hanya bersinggah, hanya sementara tak akan selamanya, esok hari mata kita mengantup sepi tak mampu melihat indahnya pelangi yang memoles langit senja, tak tahu lagi kondisi awan yang akan bergerak bahkan kita pun tak akan mengerti, berapa banyak bunga-bunga yang bermekaran disudut fajar.

Renungkanlah, hidup kita di dunia ini hanya bersinggah, hanya sementara tak akan selamanya, esok hari mata kita mengantup sepi tak mampu melihat indahnya pelangi yang memoles langit senja, tak tahu lagi kondisi awan yang akan bergerak bahkan kita pun tak akan mengerti, berapa banyak bunga-bunga yang bermekaran disudut fajar. Saat itulah penyesalan datang merasuk. Sebab diakhirat kita hanya  berteman amal, sedangkan amal kita hanya segelintir dari tumpukan dosa-dosa kita yang menggunung dan penyesalan itu tiadalah arti bagi kita yang telah berada di alam baka. Seandainya kita seperti  itu, maka kita masih punya kesempatan untuk merubah diri menjadi hamba Allah yang lebih baik lagi.

Meratasi kehidupan dengan senyuman yang bersemayam  lebih mudah daripada menahan syahwat hati  yang bergejolak.

Meratasi kehidupan dengan senyuman yang bersemayam  lebih mudah daripada menahan syahwat hati  yang bergejolak. Itulah sebabnya mengapa manusia disebut sebagai makhluk Allah yang paling sulit ibadahnya, karena beribadah dengan kesempurnaan manusia harus melawan hawa nafsunya terlebih dahulu. Dalam kehidupan duniawi  Allah menganjurkan hamba-hambanya untuk  menuntut ilmu karena ilmu tersebut manfaatnya tidak akan kita rasakan di dunia saja melainkan sangat berguna untuk bekal kita meraih kesuksesann di akhirat.

Allah tak pernah “mengeluh” ketika hambanya meminta, bahkan Allah tetap melimpahkan kasih sayangnya pada hambanya yang banyak melakukan dosa. Kecintaan kita pada fatamorgana dunia membutakan hati nurani yang telah terkikis iman hingga ibadahnya kepada Allah dianggap sebagai beban hidup. Sadarkah kita? Allah melihat kita setiap hari, sedikitpun Allah tak pernah meninggalkan hamba-hambanya, tapi kita hamba Allah yang lemah dan tak berdaya tanpa-Nya sering kali melupakan-Nya bahkan banyak saudara-saudara kita yang berjalan dimuka bumi ini dengan angkuh, padahal Allah membenci perilaku yang demikian itu.

Semoga kita termasuk  golongan  orang yang sholeh dan diridhoi-Nya. Marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan  untuk mengharap keridhoan yang meretaskan kebaikan.