Saat yang Lain Menunggu dengan Bengong, Mahasiswa Ini Melejit Melampauinya

1
215

Mengajar dengan memantik motivasi sehingga mahasiswa melejit dengan kemauannya sendiri menjadi pekerjaan yang rumit. Ada perbedaan nyata di cara belajar di kelas. Sebagaimana biasanya, mahasiswa menunggu dan mengikuti kuliah dengan penuh disiplin dari satu materi ke materi yang lain. Mereka mengerjakan tugas dan akhirnya menjawab soal-soal Ujian Akhir Semester dan mendapat nilai.akhir. Semua berlalu begitu saja dan masuk pada episode semester depan dengan mengulang lagi cara belajar yang sama.

Energi paling banter biasanya mengerjakan tugas paper, mampu membuat tulisan dan dikumpulkan ke dosen. Dibaca dan menunggu balasan. Biasanya dibaca kalau akan dikembalikan tetapi kalau tidak ada kewajiban memberi feedback, cukup diliha-lihat sekilas saja. Lalu dinilai. Proses belajar begini sepertinya banyak terjadi pada matakulaih ilmu-ilmu sosial. Ada sedikit berbeda bagi matakuliah yang ada praktikumnya yang proses dan hasilnya lebih nyata.

Pada kegiatan seperti itu, hasil akhirnya adalah nilai yang diberikan oleh dosen. Mahasiswa berbondong-bondong berburu nilai dengan perjuangan penalaran murni. Motivasi mereka terfokus pada nilai yang dampak nilai itu hanya diakumulasi pada ijazah. Hasil kerjanya nyaris belum sepenuhnya dapat digunakan langsung atau menjadi salah satu praktik kapitalisasi ide sehingga keuntungannya bisa dirasakan langsung.

Proses-proses begitu yang lebih dominan di kelas-kelas kuliah. Apalagi ketika di awal kuliah, tujuan kuliah sepenuhnya dirumuskan oleh dosen tanpa melibatkan suara mahasiswa.

Kuliah psikologi sosial kali ini dikelola dengan mendorong terciptanya pembelajar mandiri dari mahasiswa. Tujuan kuliahnya pun dibagikan tidak hanya tujuan normatif yang disusun melalui otoritas kurikulum dari atas (dosen dan institusi) tetapi mahasiswa diminta membuat tujuan kuliahnya sendiri. Mahasiswa ditantang agar hasil kuliah dapat berdampak langsung pada hidup sukses mereka sehingga mereka bisa merasakan langsung nilai tambah finansialnya. Ini yang saya sebut dengan kapitalisasi ide keilmuan. Mereka diberi kebebasan melakukan kreasi dan inovasi secara berkelompok. Saya sebagai dosen hanya memandu mereka merumuskan capaian nyata dan mengawal agar isi capaian mengacu pada tema-tema keilmuan psikologi sosial.

Ternyata cara seperti ini menjadi titik balik karena melawan budaya bisu. Kebiasaan diberi kuliah, mendengarkan presentasi yang tidak membutuhkan daya juang agar ide kuliahnya dapat bernilai sehingga mahasiswa mengenali miniatur suksesnya secara nyata, ternyata saya rasakan ada banyak yang shock. Mereka berdiam diri, menunggu dan mulai muncul banyak alasan di sana sini.

Apa hikmahnya ?

Ada mahasiswa yang disentil kemudian menemukan ritme belajar mandirinya. Jiwa mereka tergugah dan melejit. Mereka tidak mau terjebak dengan masalah dan hambatan. Meski begitu mereka bukan tanpa masalah.

Buku melawan arus, adalah perwujudan praktis psikologi sosial yang tersaji dalam untaian produk motivasi. Bobot teorinya bernilai implisit tetapi produksi keilmuan yang tersaji dalam buku bernilai praktis, bahkan ekonomis. Praktis dalam arti produk teorinya diterjemahkan kedalam nilai-nilai kehidupan nyata, bukan semata tersaji dalam rentetan teks ke teks. Ekonomis berarti entreprener. Mahasiswa langsung menemukan nilai bisnis dari keilmuannya sehingga miniatur sukses bisa langsung digengam.

Saat yang lainnya masih saja bingung dan hanya menjadi penonton, buku melawan arus benar-benar melawan kelaziman. Buku melawan arus adalah buku yang menohok bahwa berdiam diri dengan masalah hanya menjadikan pribadi kita penonton orang sukses. Sementara buku melawan arus sudah diorder padahal belum masih proses cetak. Sementara yang lainnya masih terjebak dalam budaya bisu.

Sebelum kuliah berakhir, dengan semangat melawan arus, para penulis buku ini telah mampu melejitkan dirinya melampaui kemapanan yang masif ada di ruang-ruang kelas. Mereka melawan arus kebisuan.

Mohammad Mahpur. Dosen Psikologi Sosial, Fasilitator untuk pengembangan komunitas, parenting, pendidikan dan kewirausahaan.

Untuk pemesanan, hubungi Dwiky di WA +62 838-4871-2666

1 COMMENT

  1. […] Masih ada beberapa contoh lagi. Seorang mahasiswa yang menyintai dunia tulis menulis, berbekal ide menarik tentang membangun konsep diri sebagai salah satu tema di bab buku psikologi sosial, para mahasiswa penulis ini kemudian menantang dirinya keluar dari zona nyaman. Mereka melawan arus. Di kelas psikologi sosial, mereka berhasil menjual buku tersebut sejumlah 60 eksemplar, nyaris sebelum buku mereka benar-benar siap tercetak. Mereka sudah mendapat untung, bahkan sebelum ujian akhir semester berakhir, buku itu terjual 60 eksemplar. Mereka pun berhasil membuat event bedah buku yang dihadiri ratusan peserta. Semester tiga mereka. Berikut ini karya mereka, Melawan arus. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here