Rumah Baca Api Literasi: dari Lamongan untuk Indonesia berliterasi

0
563

Dalam beberapa seminar atau diskusi secara formal  maupun online yang membahas tantangan dan Urgensi Literasi kekinian yang sudah dibahas oleh teman-teman pegiat Rumah Baca Api Literasi. Sering teman-teman menjumpai kritikan tajam ditujukan kepada komunitas RBAL mengenai kesadaran literasi yang minim di lingkungan sekitar. Tren sekarang ini banyak kaum muda yang tertarik di dunia digital maupun politik, tapi sedikit yang menekuni kompetensi berliterasi.

Kampusdesa.or.id- Menurut hemat saya, paling tidak ada dua hal yang bisa dijadikan ukuran kenapa indonesia kita sekarang relatif minim literasi, di antaranya: pertama, dengan melihat seberapa banyak buku dan laporan penelitian yang menjadikan indonesia sebagai obyek riset, baik oleh kader indonesia maupun peneliti luar indonesia. Kedua, kekagetan warga indonesia dalam menyikapi perbedaan pandangan, paradigma pemikiran, dan keyakinan.

Dalam beberapa tahun terakhir, sangat jarang kita temui buku baru atau laporan penelitian dari para sarjana dalam dan luar negeri yang membahas tentang literasi indonesia, baik dari sisi gerakan maupun pemikiran kekiniannya. Fakta tersebut menjelaskan bahwa ide pemikiran  yang terbingkai ke dalam sebuah karya nyata di lingkungan  Indonesia mengalami pelambatan untuk tidak mengatakan terjadi stagnasi. Kader-kader kita, mau diakui atau tidak, lebih sibuk pada urusan pengelolaan amal usaha dan konflik internal dibanding meluangkan waktu untuk menuangkan gagasan cerdasnya ke dalam sebuah buku, apalagi karya dibuat punya bobot kualitas mumpuni (hasil riset dengan metodologi yang kuat).

Jika tradisi literasi ini membudaya di lingkungan para kader, kemudian topik-topik problem kemanusiaan itu benar-benar diangkat ke dalam sebuah karya nyata (dalam bentuk buku atau jurnal ilmiah), dengan melakukan internalisasi gerkan, tidak mustahil akan dengan cepat terealisasi. Para sarjana di kampus-kampus, masyarakat akan dengan mudah menjadikan karya-karya tersebut sebagai rujukan untuk membaca pergerakan di indonesia.

Selain itu, dari berbagai buku atau artikel jurnal ilmiah itu juga, kita berharap akan kembali melihat perkembangan umat islam di Indonesia yang penuh dengan keramahan, toleransi, serta peduli terhadap kepentingan umat dan bangsa. Dengan begitu, Rumah Baca Api Literasi bisa menjadi “alat dorong” yang memotivasi masyarakat untuk menjadi bangsa yang berliterasi (membaca, menulis, berdiskusi, menghitung dan menganalisa kehidupan sosial)

Maraknya berbagai ujaran kebencian dan olok-olok (berkata kasar) dengan menyinggung perbedaan pilihan politik, paradigma pemikiran dan keyakinan di banyak jejaring sosial adalah bukti yang tidak bisa dibantah bahwa bangsa ini tengah mengalami nirliterasi.

Dalam laporan penelitian yang bertajuk World’s Most Literate Nation, yang disusun oleh Central Connecticut State University belum lama ini mengungkapkan, “bangsa yang masuk dalam kategori illiterate, masyarakatnya cenderung suka mengeluarkan kata-kata kotor dan kasar, berperilaku brutal dan suka merusak, serta kerap melanggar hak asasi manusia.” Sayangnya, sebagaimana disebut dalam riset itu, bahwa tingkat literasi Indonesia berada di peringkat ke 60 dari 61 negara yang diteliti.

Kaitannya dengan  yang terjadi di lingkungan teman-teman pegiat Rumah Baca Api Literasi (RBAL), bahwa sebagian di antara kita kerap kaget ketika merespons sebuah perbedaan pandangan. Hal ini dengan mudah kita temui di berbagai akun pribadi dan grup media sosial yang “ditinggali” oleh para pegiat literasi, baik yang berada di Facebook, instagram maupun WhatsApp.

Selain itu, hal ini bisa menjadi oto kritik bagi  kita semua, bahwa potret ketidakcakapan menyerap informasi juga melekat pada diri sebagian pegiat literasi, bentuknya adalah dengan mempercayai artikel dan gambar berita palsu (hoax). Padahal, konten berita-berita bodong yang akhir-akhir ini memarakkan saluran sosial tak lebih dari sekedar informasi bodong, penuh propaganda, dan membodohi umat.

Menyelamatkan masa depan anak-anak muda yang dalam hal ini merupakan pengguna mayoritas internet dari cara berfikir yang instan akibat akses informasi yang begitu mudah.

Dalam hal ini, literasi di media sosial dapat dijadikan lapangan baru  oleh teman-teman RBAL. Fokus di bidang teknologi informasi ini perlu dikerjakan secara serius (tidak sampingan) karena memuat beberapa urgensi, di antaranya: Pertama, menyelamatkan masa depan anak-anak muda yang dalam hal ini merupakan pengguna mayoritas internet dari cara berfikir yang instan akibat akses informasi yang begitu mudah.

Paling tidak, teman-teman  RBAL ini, dapat membiasakan diri untuk menelan informasi yang masuk secara mentah. Sebab itu, literasi yang perlu dipahamkan dan diajarkan oleh teman-teman RBAL kepada masyarakat yang belum paham apa itu literasi untuk selalu bersikap  korektif: setiap informasi pertama yang diterima, mesti diikuti dengan informasi. Kedua:Setiap first look harus diikuti dengan secondlook supaya dapat menyingkap kebenaran yang dimaksud.

Dengan menyemarakkan kerja-kerja literasi di dunia maya, langkah ini bisa menjadi corong yang menyuarakan gerakan dan pemikiran sosial, pendidikan serta intelektual yang bisa didengar oleh masyarakat global.

Kedua, sebagima hemat saya, dengan menyemarakkan kerja-kerja literasi di dunia maya, langkah ini bisa menjadi corong yang menyuarakan gerakan dan pemikiran sosial, pendidikan serta intelektual yang bisa didengar oleh masyarakat global.

Strateginya, melestarikan budaya membaca dan berdiskusi ditengah-tengah masyarakat, mempublikasikan kegiatan RBAL sebagai salah satu jalur pendidikan alternatif, memanfaatkan kajian berbagai multi disiplin ilmu dalam kegiatan rumah baca api literasi, mengembangkan ilmu pengetahuan masyarakat dengan transformasi keilmuan. Hal ini  sebagaimana  misi RBAL  sehingga bisa berperan  aktif dalam proses pengembangan edukasi, sosial dan budaya  membaca dalam masyarakat yang sudah dipraktikkan  teman-teman RBAL di Lamongan dan luar Lamongan.

Berhadapan dengan fenomena generasi milenial yang begitu unik dan rentan mengenai budaya literasi. Bersikap antipati dan acuh pada generasi milenial ini bisa berakibat bukan saja akan membuat mereka  semakin jauh tetapi juga terkontruksinya persepsi di kalangan generasi milenial ini tentang literasi yang terus kami gencarkan kepada mereka. Bahkan lebih jauh dari dari itu dengan mengupayakan tumbuh suburnya budaya literasi di kalangan generasi milenial.

Upaya yang bisa ditempuh adalah dengan terus menerus menegoisasikan spirit berkemajuan tersebut dengan kesadaran tinggi. Setiap hari sabtu sore kami membuka lapak baca gratis di terminal tunggul paciran, membuat seminar literasi, workshop kepenulisan, kajian malam insan berkemajuan (KAMISAN) setiap hari kamis malam, obrolan buku (bedah buku), KOPDAR Literasi, diskusi online yang terus berproses akseleratif. Ini penting terus dilakukan supaya RBAL mampu mendiversikan gerak, mode, dan  instrumen dakwahnya sehingga generasi milenial ini merasa terwadahi dan terakomodasi dalam tanda besar dakwah literasi. RBAL di zaman now sudah harus terbuka. Tersedianya tulisan teman-teman RBAL di berbagai media online tentu saja memudahkan siapa saja mengaksesnya untuk kemudian memiliki referensi dan persepsi yang baik.

Literacy is my spirit….

Rumah Baca Api Literasi adalah nama literasi kami letaknya di pantura Lamongan yang fenomenal ini, kau bisa belajar literasi meliuk di atas perkumpulan kami. Jika gerah kau bisa menulis, membaca, memahami di Lamongan ini. Bila kau ingin pintar puisi, menghasilkan karya literasi selalu siap dihasilkan.