Ruang Hidup Baru

0
133
Ruang baru
Sumber gambar: www.politico.com

0Shares
0

Kampusdesa.or.id–Setiap makhluk hidup pasti memiliki ruang hidup. Setiap makhluk hidup pasti memiliki ruang berkembang biak. Setiap makhluk hidup pasti memiliki ruang gerak. Tumbuhan, hewan dan manusia memiliki ruang hidupnya masing-masing, dan semua ruang hidup tersebut saling berkaitan satu sama lain. Saling produksi, saling mereproduksi dan saling merepresentasi, ruang bersifat dialektik dan hidup layaknya manusia serta makhluk lain yang bernyawa. Bicara soal ruang, bukan hanya ruang fisik saja. Ada ruang sosial, ruang budaya, ruang privat, ruang kehidupan dan bahkan seluruh masyarakat dan semua ruang produksi menghasilkan ruang tertentu.

Menurut Henry Lefebvre (1991) ruang selalu dinamis seirama. Seirama dengan kehidupan, seirama dengan alam, seirama dengan semesta, dengan tumbuhan, dengan batuan dengan hewan dan dengan kemanusiaaan, mereka saling mengkonstruksi dan saling merekonstruksi. Namun irama dan dinamisasi ruang-ruang tersebut goyah sejak munculnya ruang-ruang produksi kapital. Kapitalisme merasa memiliki kontrol penuh atas ruang-ruang tersebut, dan akhirnya ruang-ruang tersebut terrepresentasikan dan terreproduksikan oleh kapitalisme itu sendiri, pada akhirnya dinamisasi ruang-ruang tersebut tidak seirama dengan alam namun seirama dengan kapital. Dan kita tahu narasi besar, cita-cita besar dari kapitalisasi adalah akumulasi, akumulasi modal, akumulasi kekayaan, kepemilikan sebanyak-banyaknya.

Dulu sebelum era kapitalisme berjalan. Hubungan manusia dengan alam tidak saling meniadakan, manusia adalah bagian dari alam dan berjalan beriringan dengan alam, namun hal tersebut berubah setelah kapitalisme dilahirkan, manusia tidak lagi ada untuk alam, namun manusia ada untuk memiliki alam, mengkomoditaskan dan mengkapitalisasi alam. Karena manusia adalah makhluk yang tidak akan pernah terpuaskan, lagi dan lagi merupakan sifat dasar manusia, itulah kenapa di tangan manusia modal/kapital menerjang tanpa batas, ekspansif menerjang hukum alam, menerjang ruang kehidupan serta menerjang ruang-ruang yang lain. Mereka melihat alam, melihat dunia hanya menggunakan pisau analisa kapital, tanpa menggunakan pisau analisa ekologi, budaya, sosial dan lain sebagainya. Akhirnya narasi-narasi dan aksinya hanya seputar kekayaan, bagaimana mengeksploitasi alam dan menguras sebanyak-banyaknya tenaga manusia (kaum proletar).

Kapitalisasi berujung akumulasi, akumulasi berujung pada eksploitasi, Ketika alam tereksploitasi lama kelamaan alam tersebut akan rusak. hutan yang awalnya heterogen (berisi banyak jenis pohon), di homogenisasi diganti satu jenis pohon, sawit saja, jagung saja, pinus saja dan lain sebagainya. Hewan-hewan yang awalnya nyaman bertempat tinggal di hutan yang heterogen, karena homogenisasi, hewan-hewan tersebut lama-kelamaan akan tersingkirkan, kehilangan makanan serta kehilangan ruang kehidupannya.

Begitupun dengan parasit, mikroba, dan virus yang awalnya hanya menginfeksi hewan ataupun hanya menginfeksi tumbuhan, yang awalnya hanya memiliki ruang hidup di tumbuhan ataupun hewan, karena hewan dan tumbuhan telah hilang, hilang pula ruang hidup mereka, hilang pula ruang berkembang biak mereka. Karena setiap yang hidup membutuhkan ruang, mereka pun bergerak, bermutasi dan mencari ruang hidup serta ruang berkembang biak yang lain. Parasit, bakteri, virus, ataupun mikroba yang dulu ruang geraknya, ruang hidupnya, ruang berkembang biaknya di hewan ataupun tumbuhan kini beralih ke manusia. [J-KO]

 

*Tulisan kiriman Lathief Chamdillah (J-Ko). Anak desa kesayangan tuhan yang sedang menempuh studi pendidikan dokter di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Dilahirkan di Desa Siser Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan.