Resiko Kebocoran Data Pembelajar Daring

0
119
daring
Sumber: Republika.co.id

0Shares
0

Diharapkan para pembelajar daring bisa belajar dari kasus penyalahgunaan data yang sudah ada.  Dengan demikian, proses pembelajaran bisa berlangsung tanpa rasa kuatir akan keamanan, terlebih keamanan data yang sekarang menjadi sasaran utama komunitas teknologi.

Kampusdesa.or.id–Virus Corona muncul dan seketika menghentak segala lini kehidupan manusia. Betapa tidak, bukan hanya kesehatan manusia yang terdampak; sosial ekonomi, pendidikan dan segala sangkut paut perihal hajat hidup manusia seluruh dunia tak luput dari serangannya. Kehidupan dunia terhenti sementara, kalau tak mau dikatakan lumpuh.

Saking dahsyatnya, manusia mencoba berusaha menjauhi virus tersebut. Salah satunya lewat penerapan interaksi manusia satu dengan lainnya. Istilah yang dipakai adalah physical distancing (pembatasan interaksi fisik).

Terjadinya physical distancing membuat banyak pekerjaan mesti dilakukan dari rumah (work from home). Banyak kantor sepi dari lalu lalang pegawai dan atasannya. Restoran, warung makan hingga kedai kopi banyak menerapkan model take away dan tidak menerima layanan makan di tempat. Untuk sektor pendidikan, penerapan pembelajaran daring (online) menjadi pilihan utama, selain mengosongkan segala kegiatan akademik dan non akademik kampus, kecuali ada keperluan yang sangat mendesak.

Pembelajaran daring sudah dilakukan kurang lebih satu minggu ini. Selama kurun waktu tersebut, banyak pilihan platform yang digunakan sebagai sarana pembelajaran daring. Sebut saja Whatsapp, Google Hangout, Google Classroom, Skype, hingga Zoom.

Terkait nama yang terakhir, ternyata ada kabar kurang sedap. Zoom, yang belakangan sering dipakai untuk pembelajaran online, disinyalir membocorkan data pengguna secara diam-diam dan tanpa sepengatahuan pengguna ke Facebook.

Hal ini tentu melanggar privasi pengguna. Apalagi banyak laporan menyebutkan Zoom juga berbagi data pengguna dengan pihak ketiga yang tidak disebutkan. Dengan demikian, keamanan data pengguna menjadi taruhannya.

Seperti banyak pemberitaan di media online atau offline, banyak penyalahgunaan data kerap terjadi. Penyalahgunaan itu sering dipakai untuk tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Misalnya untuk pengajuan pinjaman online. Peminjam menggunakan data orang lain sehingga kewajiban pinjaman tersebut dibebankan kepada data pengguna yang dipakai oleh peminjam.

Data adalah harta. Begitu peribahasa terkini, akibat pesatnya perkembangan teknologi. Data dalam bentuk apapun bernilai sangat tinggi dihadapan komunitas teknologi. Lalu, apa yang harus dilakukan untuk minimal, mengurangi kemungkinan kebocoran hingga penyalahgunaan data?

Data adalah harta. Begitu peribahasa terkini, akibat pesatnya perkembangan teknologi. Data dalam bentuk apapun bernilai sangat tinggi dihadapan komunitas teknologi. Lalu, apa yang harus dilakukan untuk minimal, mengurangi kemungkinan kebocoran hingga penyalahgunaan data?

Beberapa langkah yang bisa diambil, diantaranya pastikan mengunduh aplikasi dari tempat yang resmi, seperti Play Store untuk pengguna Android dan App Store untuk pengguna iOS. Kemudian, perhatikan akses aplikasi yang kita unduh, ia meminta akses yang masuk akal atau tidak. Misalnya, apakah aplikasi seperti kalkulator memerlukan akses terhadap kontak telepon kita. Selanjutnya, pantau pembaruan aplikasi dan segera lakukan pembaruan aplikasi saat sudah tersedia.

Kedepannya, diharapkan para pembelajar daring bisa belajar dari kasus penyalahgunaan data yang sudah ada.  Dengan demikian, proses pembelajaran bisa berlangsung tanpa rasa kuatir akan keamanan, terlebih keamanan data yang sekarang menjadi sasaran utama komunitas teknologi. Wallahu a’lam.