Regulasi Emosi Korban Perselingkuhan

0
23
Foto Oleh Mohammad Mahpur

“Membersamai orang yang kita sayang dan percayai adalah sebuah keinginan semua orang. Berakhir bahagia dan selalu ada adalah yang diinginkan setiap manusia. Tapi apa daya jika ada hati yang coba bermain dibelakang sebuah janji yang dibangun bersama? Ibarat nasi jadi bubur diaduk aduk dan dikasih kotoran manusia.”

Belakangan ini beredar banyak kisah yang saya pikir amat memilukan dan merugikan perempuan. Saya tahu tidak semua perempuan setia, ada beberapa diantara mereka yang juga pernah nakal dan berselingkuh. Tapi disini fenomena yang saya sorot adalah mengenai kasus perselingkuhan menggunakan kedok poligami.

Sungguh miris apa yang terjadi. Perselingkuhan yang mengatasnamakan nama Tuhan bahkan agama hanya untuk kepentingan nafsu belaka. No deffense, saya tahu poligami memang tidak dilarang agama, Rasul pun melakukannya, namun semakin kesini banyak kasus poligami yang jelas menyakiti istri. Mengatasnamakan agama, tidak memahami esensi yang seharusnya dipahami sebelum melakukannya.

Miris.

Saya tahu tidak semua laki laki menjadikan piligami sebagai kedok perselingkuhan, banyak yang mampu bersikap adil.

Tapi, akhir akhir ini cerita yang saya terima adalah kebalikannya. Tentang kisah tragis istri yang merasa bahwa poligami adalah kedok untuk perselingkuhan yang dilakukan suami yang amat dicintainya. Bukan agama yang salah, agama sudah benar dan jelas mengaturnya, manusia nya saja yang tak faham dan fasik terhadap yang diajarkan.

Kadang manusia sering sok tau .dan membenarkan semuanya untuk kepentingan pribadinya.

Ibarat nasi sudah jadi bubur, istri tiba tiba tahu bahwa suaminya punya istri lain yang sudah dinikahini. Tanpa meminta izin dan persetujuan. Apalagi suami telah menjalin hubungan dengan wanita itu dan menikahinya tanpa memberitahu istri yang lebih dulu ada.

Tega.

Sungguh dibohongi itu rasanya sakit luar biasa.

Perih rasanya saya mendengar kisah perempuan yang kuasa melihat suaminya main api dengan perempuan lain. Atas nama cinta meteka merelakan apa apa yang seharusnya bisa lebih baik. Saya akui perempuan memang lemah jika sudah jatuh cinta.

Jika disakiti, yang bisa.dilakukan hanya menangis dan meronta. Menuju proses pasrah dan ikhlas adalah perihal yang jelas sulit dilakukan. Bukan tidak mungkin, tapi memang susah dilakukan.

Bukan yang diselingkuhi yang salah saya kira. Yang jelas salah adalah pelaku selingkuh yang jelas tak punya hati dan tak bermoral. Menjaga istri adalah sebuah kehormatan luar biasa. Janji suci agama yang dipertanggungjawabkan di akhirat.

Untuk yang berniat main api dan selingkuhi istri. Coba dipikir lagi. Menyakiti istri dan anak perempuan ibarat membunuh generasi dan penzoliman sampai titik nadi.

Diambil dan diposting ulang dari facebook @dianasaadah tertanggal, Malang 12 September 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here