Reformasi Pedagogy: Kunci Pendidikan Hadapi Revolusi Industri

0
160
Kepala Sekolah bersama Siswa Berprestasi SD Kreatif Insan Rabbani Sidoarjo

Sejak dicetuskan, istilah revolusi industri 4.0 telah banyak menyita perhatian berbagai sektor publik. Tak terkecuali sektor pendidikan. Sebagai tumpuan harapan penyemai generasi masa depan, pendidikan memiliki tuntutan dan tanggungjawab yang tidak sederhana. Ia harus mampu mencetak manusia Indonesia 4.0 agar bangsa ini mampu bicara banyak dalam kancah persaingan global. Reformasi pedagogy menjadi kuncinya.

Kampusdesa—Sebagai satu di antara kekuatan ekonomi paling potensial di negara dunia ketiga, Indonesia selalu menjadi “gadis seksi” bagi negara-negara adidaya, baik Eropa, Amerika, maupun lainnya. Keseksian Indonesia tentu tidak lepas dari kekayaan sumber daya alamnya (SDA) yang begitu melimpah. Namun tidak diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kapabilitas untuk mengelolanya.

Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia justru banyak dinikmati negara-negara lain, alih-alih dirinya sendiri

Memasuki era revolusi industri 4.0 sekarang ini ketimpangan tersebut kian nyata terasa. Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia justru banyak dinikmati negara-negara lain, alih-alih dirinya sendiri. Kenyataan akan semakin pahit manakala bonus demografi yang kini mulai tampak dan terasa tak dapat dimanfaatkan dengan maksimal.

Sebagaimana diketahui, pada 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa (www.bappenas.go.id).

Peningkatan kualitas SDM menjadi hal yang mutlak diperlukan Indonesia. Kualitas di sini mencakup segala dimensi manusia (afeksi, kognisi, dan psikomotor)

Agar bonus ini benar-benar menjadi bonus, artinya menjadi berkah, bukan bencana, maka diperlukan langkah strategis untuk mengelolanya. Peningkatan kualitas SDM menjadi hal yang mutlak diperlukan Indonesia. Kualitas di sini mencakup segala dimensi manusia (afeksi, kognisi, dan psikomotor).

Pendidikan menjadi garda terdepan dalam upaya mewujudkan hal ini. Melalui pendidikan, diharapkan generasi Indoensia di tahun 2030-2040 mampu menjadi generasi emas yang akan membawa Indonesia tampil menjadi negara yang disegani dunia. SDM yang pada masa itu berlimpah, benar-benar menjadi kekuatan dan nilai lebih bagi Indonesia di mata global. Dengan demikian, pendidikan yang berkualitas menjadi poin kunci di sini.

Reformasi Pedagogy

Sewaktu menjadi narasumber dalam Annual Conference on Islamic Education yang dihelat oleh Perkumpulan Prodi PAI Se-Indonesia di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dede Rosyada mengatakan bahwa tantangan pendidikan di era 4.0 hari ini adalah bagaimana menghasilkan outcome yang inklusif, mampu berkomunikasi lintas etnik dan budaya, kreatif, dan inovatif.

Inklusif artinya memiliki sikap terbuka (menerima, menghargai, dan menjamin keberlangsungan identitas masing-masing) terhadap perbedaan. Hal ini tentu dibutuhkan oleh lulusan pendidikan, mengingat dunia di era globalisasi sekarang ini hampir tak lagi memiliki sekat atau batasan kultural yang jelas. Dunia telah sedemikian menjelma menjadi perkampungan global (global village).

Sebagai implikasi dari sikap inklusif, lulusan pendidikan juga harus mampu berkomunikasi lintas etnik, kultural, dan agama. Hal ini akan memungkinkan mereka mampu menjalin network lintas bangsa dan agama. Sebagaimana semangat yang diusung oleh globalisasi.

Dunia kerja kini tak lagi mempersoalkan “Anda lulusan mana?” tapi “Anda bisa apa?” artinya, kompetensi lebih diutamakan daripada selembar ijazah dan transkrip yang sarat dengan angka-angka

Tantangan berikutnya adalah mewujudkan lulusan yang kreatif. Dunia kerja kini tak lagi mempersoalkan “Anda lulusan mana?” tapi “Anda bisa apa?” artinya, kompetensi lebih diutamakan daripada selembar ijazah dan transkrip yang sarat dengan angka-angka. Lihat saja bagaimana para gamers, web developer, youtuber, hijaber, dan sebagainya. Tak ada yang mempersoalkan mereka lulusan mana.

Terakhir, pendidikan harus mampu melahirkan lulusan yang inovatif. Agar mampu “bicara banyak” di era 4.0, maka harus memiliki kepekaan dalam membaca peluang. Ketatnya persaingan dunia hingga melahirkan disruptive innovation harus menjadi perhatian serius dunia pendidikan hari ini.

Prof. Dede kemudian memberikan tawaran yaitu dengan melakukan reformasi pedagogy. Terdapat sepuluh langkah yang perlu dilakukan oleh praktisi pendidikan untuk menjawab keempat tantangan di atas; open up the lesson, think outside the classroom box, get personal, tap in to students digital expertise, get real with the project, expect student to be a teacher, help teacher to be student, measure what matters, dan work with families not just the children.[]