Ragam Kebahagiaan Orang Desa Saat Bulan Ramadhan Tiba

0
161

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kemuliaan. Setiap orang mempunyai caranya sendiri untuk mendapatkan kemuliaan itu. Selain itu, banyak hal yang bisa dilakukan secara bersama-sama di bulan ini, baik bersama dengan keluarga maupun bersama dengan warga sekitar. Kebahagiaan dalam kebersamaan di bulan mulia ini tidak akan pernah sama dengan kebahagiaan di bulan-bulan lainnya.

KampusDesa–Dunia memang berubah, termasuk di desa-desa. Di daerah saya, desa-desa di Kabupaten Trenggalek, ada yang beberapa tahun ini berubah. Misalnya, tradisi membangunkan orang untuk sahur tidak lagi pakai Rondha Tethek, gamelan, dan alat tradisional. Sekarang memakai alat musik modern, musik dangdut koplo, atau musik dangdut rancak ala musik diskotik. Bahkan di beberapa kecamatan, anak-anak muda membawa musik di jalan-jalan yang diputar keras-keras, antara satu kumpulan pemuda dengan lainnya jor-joran memperdengarkan suara. Hingga tiap grup akan membawa ‘sound system’ yang volume suaranya amat tinggi.

Saya secara pribadi menganggap tradisi membangunkan orang untuk sahur sudah tidak relevan. Pertama, sudah ada alat untuk membangunkan, waker yang tiap orang punya karena ada di HP-nya. Kedua, saya sudah tidak lagi jomblo, sudah ada yang membangunkan. Hehe.

Orang kota punya caranya sendiri memaknai hidup dan mendapatkan kebahagiaan. Demikian orang desa.

Tentunya para anggota club ronda dengan musik keras yang sebagian memekakan telinga itu tidak semuanya jomblo. Bahkan ada bapak-bapak yang juga mengajak anaknya. Melalui tulisan ini, sesungguhnya saya juga tidak dalam kapasitas melarang atau melawan eksistensi mereka karena mereka sedang mencari kebahagiaan. Sebab tiap orang berhak untuk melakukan apapun, terutama dalam rangka mencari kebahagiaan. Orang kota punya caranya sendiri memaknai hidup dan mendapatkan kebahagiaan. Demikian orang desa.

Saya benar-benar memahami bahwa cara mencari kebahagiaan itu bukan hanya orgasme, ‘mangan enak ngombe legi’, atau be’ol dan pipis dengan lancar. Apalagi ketika ini adalah bulan di mana kenikmatan mulut, kenikmatan dubur, dan kenikmatan seksual agak dibatasi dan diatur waktunya. Maka, cara mencari kebahagian bisa dilakukan dengan cara lain. Bukan hanya melakukan ronda yang (katanya) untuk membangunkan orang sahur, tapi mungkin juga ‘nyumet’ mercon dan meneriakkan kata “AMIIIIIIIN” keras-keras di penghujung bacaan surat Al Fatihah.

Mushola adalah rumah lain di bulan puasa.

Juga teriakan dan tawa keras anak-anak di mushola waktu datangnya sholat Tarawih yang sesekali diselingi tangisan keras pula saat mereka bergumul dengan anak lain dan kemudian bertengkar. Atau diselingi tangisan anak balita di sebelah ibunya yang sembahyang Tarawih. Anak kecil itu harus diajak karena seluruh keluarga ingin beribadah di mushola, tidak ada yang menjaga anak itu di rumah. Mushola adalah rumah lain di bulan puasa. Ia juga merupakan tempat mendapatkan kebahagiaan dan menggapai makna di bulan puasa.

Sebagai manusia yang tinggal di daerah yang bahkan paling ‘ndesa’, saya pernah melarang anak saya ikut ke mushola karena saya sempat beranggapan bahwa ia akan bikin onar bersama teman-temannya. Tapi larangan ini membuat anak saya menangis. Salah satu alasannya adalah ingin melihat teman lain “nyumet” kembang api, mercon, bahkan ada kalanya “ngumbulne balon”. Mushola atau ‘langgar’ di desa kami sungguh menjadi tempat mendapatkan kebahagiaan.

Anak-anak di bawah sepuluh tahun saja, di mushola tempat kami beribadah adalah yang paling banyak melakukan tindakan memanggil orang sembahyang, Adzan. Mereka berebut untuk melakukannya, mereka bahagia bisa melakukannya. Meskipun untuk ibadah sembahyang Subuh berjamaah, hampir semua anak-anak absen dalam kegiatan itu. Puncak kehadiran anak-anak adalah waktu datannya sholat Isya’ dan berlanjut shalat tarawih.

Ramadhan adalah bulan penuh kebahagiaan.

Ini adalah bulan penuh kebahagiaan. Meski menurut saya ada beberapa tradisi yang memang tak lagi relevan menurut saya pribadi, tapi saya sadar bahwa bulan ini bukan milik saya saja. Ini adalah milik anak saya, istri saya, tetangga saya, dan banyak orang yang selalu mencari kebahagiaan dengan beradaptasi dengan situasi-situasi termasuk bulan puasa serta perayaan-perayaan. Bahkan seringkali ketika saya malas ke mushola dan berniat tidak ikut berjamaah tarawih, justru anak saya yang mengajak dan merayu saya. Maka, biarkanlah mushola dan bulan ramadhan juga membahagiakan bagi anak-anak.

Editor: Haniffa Aulia