PKBM Bestari; Inklusif Tidak Hanya Melayani ABK, tapi Juga Lintas Agama

0
451
PKBM Bestari. Meski kami berbeda, kami belajar biasa saja untuk menjadi Indonesia yang luar biasa

Salah satu peserta belajar Paket C di PKBM Bestari mengirim pesan WA sebelum dia datang memulai pembelajaran baru. “Bu, saya itu Nasrani, kok lingkungan Bestari seperti lingkungan pesantren. Saya tidak apa-apa Bu masuk bukan sebagai seorang muslim.” Saya pun membalas pesan WA tersebut, “tidak apa-apa.” Setelah saya masuk di kelas PKBM, saya pun menyampaikan ke semua peserta belajar, “sebagai orang Indonesia dan berideologi Pancasila, kita biasa saja kalau dalam kelas ini ada peserta yang beragama Nasrani, meski kita banyak yang muslim. Kalau kita biasa menghadapi perbedaan, maka kita terlatih menjadi Indonesia yang luar biasa.”

Kampusdesa.or.id–Di dunia pendidikan tak jarang kita menemui pandangan-pandangan yang bias terhadap tujuan pendidikan itu sendiri. UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) mencanangkan empat pilar pendidikan, baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni: (1) learning to know, (2) learning to do (3) learning to be, dan (4) learning to live together.

Namun kenyataannya, pendidikan seolah menempatkan manusia hidup berkelompok berdasarkan identitas agama, status sosial, suku, dan ras. Seperti ada pola pikir dan pola laku sedang mempertegas perbedaan yang semestinya dan sudah bisa dihilangkan. Tidak lagi learning to live together. Satu sama lain, adakalanya merasa asing, padahal mereka tidak diperlakukan sebagai orang asing.

Boleh jadi ini akibat institutional branding yang menempatkan keterasingan itu pada pola pikirnya. Sekolah yang mem-branding lembaganya sebagai sekolah bervisi-misi agama, tentunya melayani pendidikan sesuai visi misi tersebut. Begitu juga sekolah yang melayani bidang ketrampilan, sekolah kepribadian dan sekolah bidang olah raga, juga sekolah pada umumnya tak jauh dari visi misinya. Saya pernah mengalami dampak dari branding lembaga pendidikan baru-baru ini.

Awal pembelajaran Paket C tahun pelajaran 2019-2020 di PKBM Bestari 3 Minggu lalu, saya menerima pesan pribadi menggunakan aplikasi WA (WhatsApp) Messenger, selanjutnya saya singkat wapri), dari siswa pindahan. Isi Wapri tersebut, “mohon dikirim google map.” Anda bisa tebak, pasti dia daftar Paket C secara daring. Iya, memang demikian. Semua berkas pendaftaran dikirim dengan media foto dan scan sebagai dasar input data di Dapodik (Data Pokok Pendidikan) adalah sistem pendataan skala nasional yang terpadu, dan merupakan sumber data utama pendidikan nasional, yang merupakan bagian dari program perancanaan pendidikan nasional dalam mewujudkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif (Wikipedia Bahasa Indonesia).

“Saya kirim posisi saya terkini di tempat tugas saya mengajar, karena saya sedang tugas mengajar waktu itu. Di luar lokasi PKBM Bestari. “Nanti kalau sampai di lokasi ini, tanya PKBM Bestari, dari lokasi tersebut kurang lebih lima puluh meteran menuju Bestari,” arahan saya by wapri juga tentunya.

Sejam kemudian tugas mengajar saya selesai. Tiba di rumah, langsung melihat kesiapan kelas PKBM Bestari menyambut siswa baru pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C. Tepat jam 13.30 WIB, kami memulai pembukaan orientasi belajar di PKBM. Saya sudah di depan semua siswa bersama dua orang tutor. Ada pesan dari siswa yang minta kiriman lokasi (google map), dari waktu pengirimannya setengah jam yang lalu.

“Bu, maaf saya Nasrani, ini lokasinya kok masuk pondok pesantren. Tidak apa-apa?” Saya baca saja pesan itu. “Berarti saya juga perlu menjelaskan kepada semua siswa baru tentang komitmen belajar, komitmen kebangsaan dan komitmen beragama.” Batin saya menemukan satu lagi materi orientasi belajar di PKBM Bestari.

Bestari memang di tengah lingkungan muslim, tapi layanan pendidikan kesetaraan Paket A, B dan C menerima siswa dengan agama apapun, yang penting dia menerima Pancasila sebagai dasar negara.

Saya lihat dia (siswa Nasrani) juga sudah di kelas Paket C. Ini artinya ia tidak balik kucing meskipun ia ragu masuk lingkungan pesantren. “Bestari memang di tengah lingkungan muslim, tapi layanan pendidikan kesetaraan Paket A, B dan C menerima siswa dengan agama apapun, yang penting ia menerima Pancasila sebagai dasar negara,” penjelasan saya, setelah baca Wapri terakhir dari siswa yang mengaku beragama Nasrani tersebut.

Ini bukan kali pertama PKBM Bestari menerima siswa non muslim. Bukan pula pengalaman pertama menerima pandangan tentang keberagamaan yang ekslusif. Empat tahun lalu, Bestari juga menerima siswa non-muslim. Suatu ketika saya unggah foto kegiatan keterlibatan siswa PKBM Bestari dalam karnaval HUT RI ke- 70 di DP Blackberry saya. Ada 3 siswa dalam barisan karnaval itu membiarkan kepalanya tanpa hijab. Salah satu teman kontak Blackberry saya berkomentar begini,” rambutnya bagus. Coba sambil dakwah, Bu. Memakai jilbab tambah cantik.”

Sebagai pengelola layanan pendidikan, saya bersama pengurus PKBM Bestari membuat komitmen layanan lebih inklusif. Melaksanakan tugas melayani dengan menanggalkan pandangan yang mempertajam identitas agama, suku, ras, status sosial dan status ekonomi.

Spontan saya balas komentarnya. “Di antara mereka ada yang non-muslim.” Sebagai pengelola layanan pendidikan, saya bersama pengurus PKBM Bestari membuat komitmen layanan lebih inklusif. Melaksanakan tugas melayani dengan menanggalkan pandangan yang mempertajam identitas agama, suku, ras, status sosial dan status ekonomi.

Selain Pendidikan Anak Usia Dini dan madrasah diniyah, PKBM Bestari menerima siswa baru dari agama manapun dan apapun, yang penting mereka mengakui dan menerima Pancasila sebagai dasar negara. Syarat yang penting bagi siswa PKBM Bestari adalah mereka cinta bangsa dan negaranya, berakhlak mulia, dapat menjalankan agamanya masing-masing, dan menghormati keyakinan dan ibadah pemeluk agama lainnya.

Kedua peristiwa ini saya ceritakan di sosial media saya, teman sosial media saya berkomentar positif atas konten cerita yang saya tulis. Bahkan untuk peristiwa terbaru (siswa Nasrani yang ragu-ragu sekolah di PKBM Bestari karena Bestari di lingkungan pesantren) diapresiasi Kampus Desa agar ditulis kembali sebagai essay. Kata salah satu foundernya (Mohammad Mahpur), yang katanya juga terlibat sebagai inisiator Gusdurian Malang. PKBM Bestari dapat digolongkan sebagai PKBM inklusif karena menerima siswa lintas agama. Selain lintas agama, siswa Paket C PKBM Bestari ada pula dari warga keturunan Tionghoa dan dia sekarang mengambil jurusan perhotelan di UK Petra Surabaya.

Kami sadar dan berusaha menjadikan nilai PKBM Bestari dengan sikap dan perilaku beragama, bahwa perbedaan itu kamianggap sebagai kenyataan yang biasa saja. Kami ingin belajar dari Belajar Biasa Saja, termasuk biasa saja belajar dengan orang yang berbeda agama, untuk menjadi manusia Indonesia yang Luar Biasa.

Berdasarkan diskusi yang super duper ketjeh, Kampus Desa memberikan penegasan, bahwa pendidikan inklusif selama ini terlalu diartikan salah kaprah hanya pada pelayanan yang bersifat psiko-biologis. Sementara hal yang bersifat perbedaan tentang siswa itu perlu dimaknai benar-benar inklusif. Termasuk keragaman agama. Dengan wawasan baru dari Kampus Desa ini, entah dianggap nyleneh atau memang luput dari sudut pandang itu, PKBM Bestari lantas mencoba memperluas lagi bahwa keragaman latar belakang agama tidak harus kami anggap sebagai identitas yang lain, apalagi melainkan agama Nasrani yang bukan muslim. Kami sadar dan berusaha menjadikan nilai PKBM Bestari dengan sikap dan perilaku beragama, bahwa perbedaan itu kami anggap sebagai kenyataan yang biasa saja. Kami ingin belajar dari Belajar Biasa Saja, termasuk biasa saja belajar dengan orang yang berbeda agama, untuk menjadi manusia Indonesia yang Luar Biasa.

PKBM Bestari, Desa Catakgayam, Mojowarno, Jombang.

Editor: Mohammad Mahpur