Pesantren Salaf dan Segala Kesederhanaannya

0
443

Di Kabupaten Blitar, tepatnya di Desa Tlogo terdapat salah satu pesantren sepuh, yang diasuh oleh Allahu Yarham Almarhum KH. M. Hafidz Syafi’i. Dalam hal ini yang dimaksud sepuh bukanlah dalam segi usia pesantren tersebut. Melainkan ilmu-ilmu dan “laku” yang diajarkan di pesantren tersebut  terlampau “tua”, minimal bagi penulis yang waktu itu masih santri bau kencur. Rata-rata para santri di pesantren tersebut merupakan alumni dari berbagai pesantren baik jawa maupun luar jawa yang sudah menyelesaikan jenjang sekolah diniyah tingkat aliyah di masing-masing pesantrennya, sehingga di pesantren Manba’ul Hidayah hanya tinggal tabarukan, ngalap barokah, dengan ngaji kitab-kitab secara bandongan dan melakukan upaya-upaya pengembangan diri secara ruhani. Dengan tempatnya yang terpencil di tengah kampung, berdampingan dengan makam umum desa, dikelilingi kebun dan pekarangan juga sawah-sawah semakin mendukung untuk “mengisolasi” diri dari publik.

Di pesantren tersebut pertama kali penulis mendengar istilah Kiai Mimbar dan Kiai Dampar. Bahwa Kiai Mimbar adalah merupakan sebutan bagi kiai yang aktifitas terpadatnya di wilayah dakwah, pidato, pengajian, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan komunikasi publik langsung. Sedangkan Kiai Dampar adalah merupakan sebutan untuk kiai yang sehari-hari menghabiskan waktu di atas meja belajar (dampar), membaca kitab, menelaah, dan membacakannya kepada para santri. Kasak-kusuk yang sering terdengar baik dari sesama santri maupun orang kampung bahwa Mbah Hafidz merupakan kiai yang semenjak kedatangan beliau di kampung tersebut yang diamanahi dengan pemberian tanah, rumah dan langgar wakaf tersebut tak sekalipun keluar rumah kecuali untuk sholat jum’at, atau dalam kondisi genting dan mendesak, menghadiri undangan tetangga dekat. Sedari awal beliau hadir dan membangun pesantren, sehari-hari beliau hanya membacakan kitab yang diikuti oleh puluhan santri, baik yang mukim maupun santri kalong. Sedangkan waktu luang di luar jam ngaji beliau manfaatkan untuk menelaah kitab-kitab. Pagi hari setelah sholat dhuha sekitar jam 07.00. WIB sampai pukul 10.30 jadwal mengaji beliau, kemudian istirahat sampai dhuhur. Setelah dhuhur sampai jam 14.30. WIB. Malamnya bakda maghrib sampai menjelang Isya’. Sedangkan waktu di luar itu dihabiskan untuk membaca dan menelaah kitab di ndalem. Praktis seluruh hidup beliau dihabiskan dengan membaca. Sampai beberapa hari menjelang wafat di tahun 2009, beliau masih membacakan Kitab  Ihya’ Ulumuddin sebagai wirid beliau sehari-hari. Beliau terkenal sangat suka dengan kitab satu itu, menurut cerita santri lawas, saat beliau masih muda sambil menggendong putri sulungnya sembari membacakan kitab sebagaimana rutinitas beliau, beliau sempat berkelakar bahwa siapapun orangnya boleh menikahi putrinya asal hafal kitab Ihya’ di luar kepala. Begitulah sosok yang merupakan mantan kepala keamanan di Pesantren Lirboyo, pada masanya. Seantero Blitar sudah tahu jikalau mencari pesantren yang kiainya istiqomah memberi asupan kitab-kitab tua ya ke Pesantren Tlogo, ke Mbah Hafidz.

Cikal bakal Pesantren Manba’ul Hidayah adalah merupakan sebuah rumah tua yang dilengkapi langgar di depannya. Sampai sekarangpun rumah dan langgar tersebut belum pernah sekalipun dipugar. Untuk menjaga keaslian bentuk sedari awal. Sebelum hijrah ke desa Tlogo Mbah Hafidz muda yang merupakan menantu dari KH. Shodiq Damanhuri (pendiri Pesantren APIS Blitar) tinggal di kompleks Pesantren APIS Blitar yang terletak di desa Gondang Kecamatan Gandusari, di lereng Gunung Kelud. Di Pesantren APIS, Mbah Hafidz muda digemari para santri terbukti setiap hari banyak yang ingin mengaji pada beliau. Saat beliau berhijrah ke desa Tlogo bersama istrinya yaitu Hj. Umi Fatimah Az-Zahra (Putri KH. Shodiq Damanhuri) beramai-ramai para santri APIS mengikuti beliau. Awalnya karena hanya tersedia rumah dan langgar waqaf para santri beraktifitas di langgar tersebut. Kemudian Mbah Hafidz muda punya inisiatif membuatkan kamar untuk para santri “Assabiqunal Awwalun” tersebut. Dengan tekun Mbah Hafidz muda mencetak batu bata sendiri, memproses tanah liat dan mencetaknya. Setelah dirasa cukup. Mbah Hafidz muda mengajak santri dan warga “shalawatan”, bukan diiringi dengan musik dan sambil mengibarkan bendera layaknya konser. Tetapi beliau bersama para jamaah membaca sholawat-sholawat pilihan dengan jumlah tertentu dan waktu-waktu tertentu pula. Ditujukan untuk memperlancar proses pembangunan kamar dan aula. Akhirnya diatas kamar mandi ditumpuk balok-balok kayu sebagai penyangga lantai kamar santri, tembok dinaikkan secukupnya agar cukup untuk dijadikan bangunan kamar. Di samping kamar mandi yang atasnya dibuat kamar, ada satu bangunan lagi yang berlantai dua. Di lantai bawah dibuat sekat menjadi tiga kamar, lantai atas dengan konsep yang sama yang diterapkan pada kamar di atas kamar mandi, yaitu balok-balok kayu ditumpuk sebagai penyangga lantai. Lantai dua diperuntukkan sebagai aula. Sampai sekarang pun dua bangunan awal tersebut masih ada dan kokoh tak tertandingi, seperti iklan semen yang sering menghiasi layar kaca TV kita. Bangunan hasil karya Mbah Hafidz tersebut terkenal dengan istilah “Bangunan Berotot Shalawat”.

Manba’ul Hidayah. Nama yang dipilih oleh Muassis untuk menamai pesantren tersebut. Mbah Hafidz muda setelah merasa cukup untuk memfasilitasi santri-santri dengan lokal bangunan kamar dan ruang serbaguna (aula) beliau mulai menertibkan jadwal ngaji, ngaji di sini bukan ceramah, melainkan kiai membacakan kitab sekaligus arti makna dan tafsirnya dan disimak oleh para santri sembari menulis ulang di kitab yang masih bersih atau gundul. Metode tersebut lebih dikenal dengan nama Wetonan atau Bandongan. Mula-mula di pesantren tersebut tidak ada sekolah diniyah, karena memang santri-santri yang mukim di situ adalah santri kawak (lama) di pesantrennya masing-masing, sehingga para santri tersebut ke Pondok Tlogo hanya tabarukan, ngalap barokah dengan ngaji kitab-kitab “sepuh”. Seiring dengan berjalannya waktu, para santri semakin banyak, tak hanya dari alumni pesantren lain melainkan juga yang belum pernah nyantri pun banyak yang ingin belajar di pesantren tersebut. Karena khawatir masalah kurangnya kemampuan penguasaan ilmu alat (nahwu, sharaf) dan beberapa ilmu dasar agama bagi santri yang baru mengenyam pesantren, akhirnya Mbah Hafidz memberi kebijakan untuk menerapkan sistem madrasah diniyah. Yang menjadi pengajar adalah para santri senior. Sepertinya beliau terinspirasi oleh almarhum Mbah Manab (Pendiri Ponpes Lirboyo) dalam pemberlakuan madrasah diniyah. Tak berhenti sampai di situ, banyak para siswa sekolah yang ingin nyantri di situ. Perangkat organisasi, jadwal dan sistem pun diterapkan. Dan perlu diketahui, bahwa kamar-kamar santri yang semula hanya 4 kamar (1 di atas kamar mandi, 3 di bawah aula) lambat laun berubah menjadi kompleks hunian. Uniknya bangunan kamar-kamar yang baru merupakan inisiatif para santri sendiri. Mereka memilih lokasi dan membangun bilik-bililk sendiri, dengan modal dan tenaga sendiri. Ada yang dibangun mirip gubuk sawah, ada yang bagus mengkilat dengan dengan warna cat dan kilau keramik. Bahkan ada yang sampai membangun ruangan eksklusif yang dilengkapi kamar mandi dalam. Kamar-kamar, bilik-bilik dan bangunan-bangunan baru mulai tumbuh satu per satu bak jamur di musim penghujan. Seiring banyaknya santri yang datang, dan lahan juga memang luas.

Adalah Ny.Hj. Umi Fatimah Az-Zahra merupakan sosok Bu Nyai Wonder Women, tokoh di balik layar yang menggerakkan laju manajemen organisasi pesantren dan diniyah. Setelah banyak santri yang datang dari berbagai pelosok belahan nusantara, baik yang hanya ingin tabarukan maupun ingin diniyah, atapun para siswa sekolah yang juga ingin mencucup berkah pesantren tersebut. Santri putri tiba-tiba menjadi banyak, anak-anak kecil di sekitaran desa tersebut juga dibukakan TPQ di sore hari. “Bu Um” panggilan akrab beliau di kalangan masyarakat merupakan sosok yang tegas, gesit, disiplin dan visioner, dan kekhasan beliau sehari-hari yaitu selalu mengenakan sarung dan bersandal bakiyak. Seorang penceramah yang lebih tepatnya orator ulung. Banyak koneksi dan jaringan di setiap tempat. Sampai saat ini penulis belum sempat bertanya tentang proses pembangunan dan sumber dana dari pembangunan gedung madrasah  berlantai tiga yang sehari-hari dipakai sebagai madrasah diniyah dan TPQ. Uniknya gedung tersebut sejak mula dibangun sampai sekarang dilarang untuk dipasangi daun jendela. Dengan pintu kayu ala kadarnya, praktis seperti bangunan yang belum jadi, “ompong-mlompong” tak berjendela. Namun sejatinya sudah finish. Di bangunan tersebutlah penulis sering mendapatkan ta’zir (hukuman) berupa push-up, sit-up, dan setrap berdiri sepanjang jam pelajaran diniyah malam hari.

Penulis sempat kaget saat pertama kali menginjakkan kaki di pesantren tersebut. Santri-santri senior yang terlihat garang terutama dengan penampilannya yang kumal dan rambut gondrong. Ditambah dengan membawa rokok lintingan (racikan sendiri) yang sebesar ibu jari. Namun mereka terlihat lucu karena sering melontarkan humor-humor segar khas pesantren, topiknya tetap tidak jauh dari seputar santriwati, baca kitab “blekak-blekuk”, santri baru yang tak bawa buah tangan, dan masalah tidur di pagi hari yang sudah melegenda. Tidak segan-segan mereka juga habis-habisan ngerjain santri lain, terutama santri baru. Pernah suatu ketika penulis akan berangkat sekolah di kampung sebelah, kebetulan jadwal masuk pagi, sehari-hari penulis berangkat sekolah menggunakan sepeda ontel, yang kira-kira memakan waktu 20-30 menit untuk tiba di sekolah. Sangat berbeda dengan pesantren yang sebelumnya penulis tinggali, karena di pesantren sebelumnya ada transportasi antar jemput dari pesantren menuju sekolah. Berbeda dengan di sini, jauh dari dari ketergantungan. Suatu pagi yang tenang, sekitar pukul 05.30. WIB, usai acara sorogan Al-Qur’an. Penulis bersiap untuk berangkat sekolah, saat menuju parkiran sepeda, sepeda penulis lenyap. Dicari-cari sampai jam 7 pagi tidak ketemu juga, pasrah berharap karena berfirasat hilang diambil maling. Akhirnya para santri geger ikut mencari sepeda. Singkat cerita ada yang melihat keberadaan sepeda tersebut nangkring di atas pohon genitu. Dalam hati penulis sangat menggerutu. Ternyata usut punya usut para santri senior yang menaikkan sepeda tersebut ke pohon genitu. Sang tersangka pun muncul dari balik kompleks tanpa merasa bersalah menyampaikan pertanyaan dengan meninggikan suara: “Gawe opo kang,  sekolah mbarang? Arep dadi opo? Mondok wae sing tenanan luwih manfaat”. Luar biasa, tak merasa bersalah malah menggurui. Aksi-aksi kontra terhadap aktivitas sekolah umum sering kali terjadi, itu satu dari sekian deret aksi-aksi yang lain. Penulis maklum karena para santri senior memang sejak dini tak pernah mengenyam sekolah umum (formal) sehingga menolaknya. Bisa juga karena mereka masih kuat dalam kecurigaan sekolah formal terkait politik Tasyabbuh zaman kolonial.

Ada sebuah cerita menarik, berasal dari para pengurus pesantren bahwa pernah ada upaya yang dinilai “baru” dalam adat kebiasaan di pesantren waktu itu, yaitu membuat proposal pembangunan. Melihat pentingnya pendidikan agama, perlunya membangun baik wilayah fisik maupun non fisik. Suatu waktu ada informasi bahwa pesantren melalui pengurus pesantren sedang menggodok proposal pembangunan, entah waktu itu untuk pembangunan wilayah mana. Ketika para pengurus sowan ke pengasuh untuk meminta persetujuan dan membahas prosesnya, tiba-tiba pengasuh dalam hal ini Mbah Hafidz menyampaikan: “Iyo kang rapopo, engko duwite langsung digowo nang blumbang (kolam) yo… ! ”  . Para pengurus diam, hening.  Akhirnya salah satu pengurus memberanikan diri bertanya:“Damel nopo nggih Bah (Abah) kok dipun arahaken dateng blumbang?  Nopo damel mbangun blumbang? Pangapunten”.   Setelah mendengar pertanyaan tersebut, Kiai menjawab: “Diguwak’ (dibuang) kang!”. Seketika ruangan hening, tertegun, keringat dingin bercucuran, mulut terkunci rapat. Para pengurus akhirnya memutuskan  pamit undur diri dari ndalem. Singkat cerita rencana pembangunan itu pun otomatis dibatalkan oleh para pengurus. Puitis sekali momen tersebut.

Pernah suatu waktu para santri punya inisiatif untuk membersihkan halaman kompleks kamar santri. Tidak berhenti di masalah pembersihan halaman yang waktu itu masih berupa tanah. Setelah bersih ternyata halaman tersebut dibuat lapangan sepak bola. Akhirnya setiap sore bakda shalat asyar para santri putra bermain bola. Karena termasuk hal positif untuk kesehatan, para pengurus juga diam saja tanda menyetujui gerakan revolusioner santri-santri tersebut. Setelah berjalan beberapa hari. Tak disangka pada suatu siang Mbah Hafidz berjalan-jalan di halaman kompleks, melihat Mbah Hafidz berjalan para santri langsung berhenti beraktifitas, menunduk tanpa ada gerakan sedikitpun. Lama sekali beliau berkeliling, akhirnya beliau beehenti tepat di tengah halaman yang biasanya dijadikan medan laga sepak bola. Tak disangka, beliau menanam pohon kelengkeng tepat di tengah-tengah halaman tersebut. Setelah dirasa cukup membenamkan tanaman tersebut, beliau pun kembali ke ndalem. Dan mulai hari itu juga tak ada lagi cerita sepak bola. Kecuali sepak bola api di malam Muwadda’ah Akhirussanah (malam perpisahan akhir tahun) yang sudah lama ditradisikan.

Luar biasa bukan. Cukup dengan bahasa-bahasa sederhana, kiai sebagai simbol dan pengasuh sebuah sub-kultur masyarakat (meminjam bahasa KH. Abdurrahman Wahid) sukses membangun sistem pendidikan yang “unik” dan mengakar. Dan sebenarnya masih banyak lagi cerita-cerita yang cukup berkesan. Jika tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren pasti akan bertanya-tanya sembari keheranan melihat tingkah polah para santri serta cara pengkondisiannya. Terutama santri-santri yang dulunya nakal dan sulit diatur, tetapi setelah terjun di masyarakat menjadi tokoh penting dan rujukan umat. Mungkin jika boleh dikata, itulah yang disebut barokah.

Selamat Hari Santri.

Utamanya, tulisan ini penulis dedikasikan untuk Murabbi Ruhina, Allahu Yarham  Almarhum KH. M. Hafidz Syafi’i. Pengasuh Pesantren Manba’ul Hidayah, Tlogo-Kanigoro-Blitar. Sekaligus untuk memperingati Hari Santri Nasional 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here