Pesantren Rakyat: Jawaban Atas Keresahan Pendidikan

0
143

Rani Auliawati Rachman

(Peserta Tutur Desa Indonesia, Pegiat Pustaka Sumberpucung)

Hari kedua kegiatan lanjutan Tutur Desa yang dilaksanakan di Pesantren Rakyat di daerah Sumber Pucung, Malang Selatan. 1 jam sebelum acara pembukaan Pertemuan Nasional III Pesantren Rakyat, pserta Tutur Desa memiliki kesempatan untuk jagongan dengan Pak Abdullah Sam pendiri dari Pesantren Rakyat di Sumber Pucung.

Sekali lagi dalam dua minggu terahir ini bertemu dengan seseorang yang memiliki kerisauan dan kegelisahan dengan sistem pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan yang seharusnya dapat diterimakan oleh semua rakyat Indonesia, kesamaan untuk mendapatkan hal pendidikan harus digelorakan oleh semua element bangsa. Hal ini segaris lurus bahwa dalam dataran ideal, sudah sejak lama diketahui bahwa lemah harus dibela, yang kuat harus dilawan; rakyat mesti diberitahu hak-haknya, penguasa mesti ditegur kesadarannya, kalau perlu dengan perjuangan dan perlawanan. Sayangnya, itu semua kerap hanya mengapung di ruang seminar, diskusi dan perkuliahan. Sementara rakyat, jangankan mampu memperoleh apa yang jadi haknya, bahwa sesungguhnya mereka punya hak pun mereka tidak pernah tahu. Yang mereka tahu hanyalah tunduk, manut, dan melawan berarti bunuh diri.

Keadaan ini memaksa insan akademis untuk menemukan terobosan baru guna memecah kebuntuan antara wacana yang melempem di wilayah praksis dengan realitas yang minim perencanaan. Salah satu terobosan itu adalah dengan ikut terlibat berlajar bersama rakyat untuk menentukan cita-cita bersama dan bagaimana meraihnya. Sehingga memutuskan untuk mendirikan sekolah yang bisa dikatakan sekolah informal dengan sistem pendidikan yang berbeda dengan pendidikan formal.

Sama-sama memiliki kesamaan bergerak di daerah pedesaan dan atau orang pinggiran untuk memberikan kehidupan yang lebih baik. Dan kali ini bertemu dengan Bapak Abdullah Sam pendiri Pesantren Rakyat di Sumberpucung, Malang yang juga memiliki kegelisahan terhadap pendidikan di Indonesia sehingga membangun pesantren Rakyat untuk memberikan pendidikan yang murah dan bisa dijaungkau oleh semua kalangan.

Ketika bertemu dengan mereka dan jagongan bersama saya menemukan kesamaan dari orang-orang ‘Kenthir’ ini, ‘Kenthir’ dalam hal ini bukanlah yang berkonotasi negatif tapi lebih kepada istilah plesetan yang bersifat positif, ‘khentir artinya dieperuntukan bagi orang-orang yang bekerja melebihi takaran (tidak hitung-hitungan), bahkan kepentingan pribadi tidak diutamakan, langkahnya bukan lagi bertujuan untuk mencari untung, tapi manfaat. Oleh karena itulah yang bagi beberapa orang lain orang-orang yang memilih jaan seperti ini dinilai ‘Kenthir’, tapi memiliki keasyikan tersendiri yang dinikmati dalam menjalani hidup, tidak umum berbeda dengan orang lainnya, menciptakan suau pembaruan, dan kebanyakan orang-orang ‘Kenthir’ ini melakukannya untuk kebutuhan jiwa dan rohani mereka.

Seperti yang dilakukan oleh Pak Abdullah Sam, yang menggunakan dana pribadinya untuk membangun dan memberikan pendidikan murah serta memberdayakan masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi. Menyingkap dan menghilangkan sisi gelap yang sudah lama menyelubungi Sumberpucung dengan berbagai permasalahan seperti prostitusi, bandar narkoba, pemabuk dengan mendirikan Pesantren Rakyat sehingga membawa perubahan kepada masyarakat Sumberpucung.

Perjuangan Pak Abdullah untuk mendirikan Pesantren Rakyat tidaklah mudah dan mengalami penolakan yang cukup keras, dan banyak mendapatkan caci maki, tapi Pak Abdullah tidak menyerah dengan menggunakan pendekatan teror psikologis dan persuasif kepada masyarakat akhirnya lambat laun masyarakat mulai menerima dan mendukung kegiatan Pesantren Rakyat. Sebuah konsep pendekatan kepada masyarakat yang menggunakan ilmu yang telah dipelajari oleh pak Abdullah tentang ilmu psikologi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here