Pesan Gus Dur Untuk Kita Semua

0
210

Siapa yang tidak mengenal Gus Dur, pengayom sejuta umat yang sangat disegani dari semua kalangan. Tidak semua orang bisa memahami jalan pikirannya. Bahkan seringkali dirinya dianggap ‘nyeleweng’ karena orang lain tidak mengerti maksud dari apa yang beliau kerjakan. Bagaimanapun, Gus Dur telah membuka mata hati kita bahwa dunia hanyalah fana, mudah sirna, dan tidak ada yang perlu dipertahankan mati-matian.

KampusDesa–Salah satu nilai dari laku hidup seorang Gus Dur yang sukar kita tiru adalah nilai kesatria. Beliau rela diturunkan inkonstitusional oleh oposisinya ketimbang harus ada pertumpahan darah sesama anak bangsa. Kecintaan beliau pada negara dan rakyatnya jauh lebih besar ketimbang cintanya pada dunia apalagi hanya sebatas jabatan presiden.

Bagi Gus Dur, agama adalah penguat sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gus Dur sangat menyukai kitab Al-hikam karya Ibnu Atho’illah Al-asykandari. Ajaran-ajaran tasawuf dari kitab Al-hikam diperaktikkannya untuk memimpin negara. Seringkali beliau juga mengutip kaidah ushul seperti; Tasharaf al-imam ala ra’iyah manutun bil maslahah (keputusan pemimpin harus mengikuti kemaslahatan rakyatnya). Bagi Gus Dur, agama adalah penguat sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan sebaliknya, untuk merusak tatanan kenegaraan.

Saat Gus Dur dilengserkan, banyak yang sakit hati dan ingin membela beliau. Baik kalangan santri, Ansor-Banser, pendekar-pendekar NU dan elemen nahdliyin pada umumnya semua siap pasang badan ke istana negara. Bahkan menurut pengakuan Gus Mus ada yang mengatas namakan dirinya pasukan berani mati. Tetapi dukungan yang sebegitu besarnya diredam oleh Gus Dur mencegah adanya konflik antar pendukung dan aparatur sipil negara. Bukan sebaliknya dimanfaatkan untuk mengamankan jabatan.

Tidak ada jabatan di dunia ini yang harus di bela mati-matian.

Untuk menenangkan lautan massa di depan istana. Gus Dur keluar dengan begitu gagah menyapa para pendukungnya dengan mengenakan kaos dan celana kolor. Kejadian bersejarah, seakan Gus Dur memberikan pesan untuk para politisi dan seluruh rakyat Indonesia melalui cara berpakaianya. Bahwa tidak ada jabatan di dunia ini yang harus di bela mati-matian. Sebab yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan itu sendiri. Nilai-nilai Agama menjadi landasan Gus Dur berlaku arif bijaksana dan bersikap lapang dada, sungguh laku sufistik yang agung.

Agama dan Negara seperti dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Sikap relegius disertai cinta terhadap nagara merupakan amanah para pendiri Nahdlatul Ulama termasuk kakek Gus Dur Hadratus syeikh Hasyim Asy’ari. Hadratus Syeikh berpesan Agama dan Negara seperti dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Bukan sebaliknya Agama dijadikan alat untuk menentang negara, alias makar/bughot.

Mari belajar pada Gus Dur saudaraku. Demi keamanan bangsa Indonesia dan menghormati bulan suci Ramadhan. Tolong untuk para elit politik jangan memprovokasi massa, harap menjadi oase penenang. Massa pendukung juga tolong jangan bertindak membabi buta. Kita hidup di negara hukum, tempuh jalur hukum ikuti mekanismenya jika memang terjadi tindak kecurangan. Lapangkan dada & berjiwa kesatria meskipun pahit kenyataannya. Jadilah selaksa samudra yang menelan semua sampah, saudara-saudaraku.

Lampung, 22 Mei 2019

Editor : Faatihatul Ghyabiyyah