Perlukah Resiliensi dan Hardiness Ditanamkan Pada Anak?

0
131
Ilustrasi gambar dari www.medicinanarrativa.eu

Memanjakan anak itu kadang tidak terasa. Orang tua boleh jadi menganggap dia sangat perhatian dan agar anaknya selalu terpenuhi kebutuhannya. Saat anak hidup sendiri, perhatian dan pemenuhan kebutuhan yang menyandu bagi anak akan mendatangkan malapetaka. Terbiasa serba terjamin, saat menghadapi situasi sulit maka boleh jadi anak akan jatuh pada kehidupan tanpa solusi atau depresi “


Memiliki anak yang tumbuh dan berkembang dengan baik tentunya keinginan bagi setiap oang tua. Membentuk anak-anak yang dapat tumbuh serta berkembang sesuai dengan tahapannya adalah kunci utama yang perlu disadari juga diperhatikan oleh orangtua. Anak tumbuh dan berkembang tidak melulu hanya diberi asupan gizi saja yang tujuannya menyehatkan anak, akan tetapi penanaman atas nilai-nilai kehidupan pada si anak juga menjadi penting adanya.

Anak anak tidak akan selamanya berada di samping orangtuanya 24 jam, di mana akan melakukan interaksi dengan lingkungan masayarakat juga sekolah. Berinteraksi dengan orang selain keluarganya tentu butuh adanya pengenalan pada si anak supaya tidak merasa cemas ataupun ketakutan terhadap hal-hal yang mungkin akan melukai mereka. Nah, membuat anak berada di posisi nyaman ketika di lingkungan luar akan membutuhkan pendekatan juga waktu yang tidak singkat akan tetapi ketika anak-anak sudah terbiasa mereka akan mampu bersikap mandiri.

Lalu, perlukah resiliensi dan hardiness ditanamkan pada anak-anak sejak usia dini? Sebelumnya, mari kita telaah terlebih dahulu tentang resiliensi dan hardiness. Apa sih resiliensi itu? Resiliensi adalah kekuatan pada setiap individu untuk kembali bangkit setelah mengalami kesulitan. Adanya daya juang yang tinggi dalam menyelesaikan suatu masalah tanpa terpuruk secara berlarut-larut.

Lalu apa itu hardiness? Hardiness adalah kondisi dimana individu memiliki ketangguhan, kuat, stabil dan optimis dalam menghadapi stress serta dapat mengurangi kemungkinan negatif yang dapat terjadi. Kedua hal tersebut merupakan sumber yang harus dimiliki anak sejak usianya masih belia. Seorang anak yang memiliki kedua kekuatan tersebut akan menjadi anak yang tidak sulit untuk bangkit dalam keterpurukan dan juga memiliki kontrol pada dirinya sendiri untuk menjadi tangguh, optimis dan tetap stabil meski sedang dilanda masalah.

Ada sebuah cerita pada suatu keluarga di mana ibu dan ayahnya selalu menuruti setiap kemauan anak-anaknya. Bahkan kedua orangtua ini sampai tidak bisa memberikan ketegasan kepada anak-anaknya untuk bisa mengontrol segala keinginannya. Anak-anak terus menuntut jika tidak dibelikan barang yang menjadi keinginannya, berani mengancam hingga tidak mau sekolah. Barang yang diminta bukanlah barang sepele melainkan seperti minta motor keluaran terbaru hingga meminta dibelikan mobil.

Seharusnya, posisi orangtua dihormati, dihargai dan disegani oleh anaknya namun yang terjadi pada keluarga ini sebaliknya, orangtua yang takut pada anak-anaknya. Jadi hal tersebut bermula karena terbiasanya orangtua juga serba kecukupan atas materi sehingga mengajarkan kepada anaknya juga seperti itu. Meskipun setiap orangtua di mana-mana pasti menginginkan untuk menuruti setiap keinginan anaknya, akan tetapi dalam menuruti apapun yang anak mau harusnya disesuaikan dengan tingkat kebutuhan anak tersebut. Hingga akhirnya kondisi keluarga tersebut berbalik di mana ekonominya menurun ketika ayahnya meninggal.

Bukan hanya ekonomi yang menurun akan tetapi semangat hidup kedua anaknya serta istri seperti orang yang tidak memiliki arah. Anak yang pertama setiap harinya minum-minuman keras, anak yang kedua mengurung dirinya di kamar tanpa melakukan aktivitas seperti orang normal, dan ibunya masuk rumah panti sosial.


Resiliensi dan hardiness penting untuk diajarkan pada anak sehingga ketika anak sudah beranjak dewasa akan semakin kuat, tangguh dan mudah bangkit dalam menghadapi berbagai masalah


Berdasarkan cerita tersebut kita dapat belajar bahwasannya resiliensi dan hardiness penting untuk diajarkan pada anak sehingga ketika anak sudah beranjak dewasa akan semakin kuat, tangguh dan mudah bangkit dalam menghadapi berbagai masalah.

Ketika anak-anak sudah memiliki resiliensi yang kuat otomatis di dalamnya Ia akan dapat mengendalikan emosinya sekalipun sedang berada di bawah tekanan serta mengalihkan emosinya tersebut pada hal-hal yang positif; dapat mengendalikan impulsnya yaitu dapat mengendalikan segala emosi yang sedang menguasai tanpa mengakibatkan kerugian pada dirinya maupun oranglain; adanya optimisme pada setiap keadaan yang sedang menghimpitnya serta Ia meyakini bahwa adanya jalan terbaik pada setiap masalahnya untuk kehidupan di masa depannya; kemampuan untuk menganalisis penyebab dari masalah dimana tidak mudah menyalahkan orang lain sehingga benar-benar dipikir secara baik untuk menyelesaikan masalahnya; kemampuan berempati dimana anak mampu membaca tanda-tanda non-verbal yang berkaitan dengan mengerti perasaan orang lain; self efficacy yaitu keyakinan individu dalam menyelesaikan masalahnya; kemampuan untuk meraih apa yang diinginkan.

Sedangkan anak yang memiliki hardiness yang baik di dalamnya akan memiliki komitmen yaitu kecenderungan seseorang untuk terlibat dalam berbagai aktivitasnya serta adanya kepercayaan diri dalam menghadapi kemungkinan terjadinya tekanan ataupun stress; kemampuan dalam kontrol yaitu berkaitan dengan pengambilan keputusan pada kondisi tak terduga; fokus pada tantangan yaitu adanya fleksibilitas seseorang dalam mengahadapi berbagai kondisi khususnya yang tak terduga serta menganggap hidup adalah tantangan yang menyenangkan.


Sebagai orangtua, juga harus menyadari bahwa kekhawatiran kita kepada anak tidaklah bagus jika berlebihan hingga membuat anak merasa takut untuk melakukan kegiatan di luar rumah bersama orang-orang baru, hal tersebut tentunya akan membuat anak tidak bisa mandiri dan belajar pada lingkungan baru.


Begitu pentingnya dua hal tersebut diajarkan serta dikembangkan pada diri anak-anak kita agar tidak menjadi anak yang terus bergantung pada orangtua hingga mereka beranjak dewasa. Sudah menjadi kebanggan tersendiri bagi orangtua jika melihat anak-anak mampu tumbuh dan berkembang secara mandiri. Sebagai orangtua, juga harus menyadari bahwa kekhawatiran kita kepada anak tidaklah bagus jika berlebihan hingga membuat anak merasa takut untuk melakukan kegiatan di luar rumah bersama orang-orang baru, hal tersebut tentunya akan membuat anak tidak bisa mandiri dan belajar pada lingkungan baru. Namun, kontrol orangtua juga dilakukan sesuai porsinya tanpa membuat anak terkekang ataupun merasa tidak diperhatikan

Editor     : Faatihatul Gayybiyah
Pengunggah : Admin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here