PERKADERAN MILLENIAL

0
363

Membicarakan kader adalah membicarakan masa depan. Membicarakan kader Muhammadiyah berarti membicarakan masa depan Muhammadiyah dalam perspektif pemikiran “tomorrow is today”, yakni masa depan Muhammadiyah tergantung apa yang kita kerjakan saat ini.

Kampusdesa.o.id – Muhammadiyah dibangun oleh sesepuh yang termasuk kategori generasi tradisionalis yang kalau masih hidup sudah berusia di atas seratus tahun. Sekarang ini Muhammadiyah dipimpin dan dibesarkan oleh generasi baby boomer kelahiran 1994 – 1964 dan sedikit  dari generasi x yang dilahirkan sekitar tahun 1965 – 1980. Sedangkan masa depan Muhammadiyah terletak pada generasi milenial atau yang dikenal sebagai generasi Y yang dilahirkan sekitar tahun 1981- 1994 ditambah generasi Z yaitu generasi kelahiran sesudah  tahun 1995 di mana jumlah keduanya diperkirakan telah meliputi sekitar 60% dari jumlah jama’ah Muhammadiyah atau juga penduduk Indonesia yang berjumlah 260 juta.

Perbedaan generasi meniscayakan adanya perbedaan dan perubahan pola pikir, gaya hidup, dan cara bersikap masyarakat.

Lalu apa yang berbeda dari keberadaan berbagai generasi tersebut? Perbedaan generasi meniscayakan adanya perbedaan dan perubahan pola pikir, gaya hidup, dan cara bersikap masyarakat. Gaya hidup milenial telah memiliki pengaruh besar terhadap berbagai asapek kehidupan personal dan publik, sosial, budaya, hingga ekonomi, politik bahkan agama. Dakwah milenial telah mengakibatkan munculnya ustadz atau artis yang populer di media sebagai idola dan rujukan perilaku keberagamaan generasi milenial, meninggalkan selera generasi sebelumnya yang berorientasi pada tokoh dan organisasi formal. Hal ini menunjukkan adanya sebuah proses perubahan  dari pola berpikir “yesterday is today” yang dimiliki oleh para pendahulu ke arah pola berpikir “tomorrow is today” yang mengisyaratkan telah terjadi self disruption, yakni inovasi budaya yang melahirkan perubahan dan pembaharuan.

Muhammadiyah adalah gerakan dakwah amar makruf nahi munkar yang mengajak orang untuk berislam secara paripurna sehingga tercapai masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah lahir dengan ciri khas islam berkemajuan, menuntut persyarikatan ini untuk bisa beradaptasi dan sekaligus mengakomodasi generasi milenial agar mereka tidak menjauh dari gerakan  dakwah ini, sehingga pesan-pesan islam berkemajuan akan  sampai pada mereka yang berada di amal usaha dan organisasi otonom Muhammadiyah sebagai ladang dakwah dan perkaderan, sekaligus menjangkau masyarakat yang lebih luas lagi.

Kader dahulu sudah terlatih sehingga sadar dan merasa  berkewajiban untuk mempertahankan dan mengembangkan keyakinan hidup dan tujuan organisasi sekaligus  menghindarkan diri dari kemungkinan distorsi ideologis.

Kader yang dahulu di sebut sebagai “penganjur” adalah orang yang terpilih karena sudah terlatih sehingga sadar dan merasa  berkewajiban untuk mempertahankan dan mengembangkan keyakinan hidup dan tujuan organisasi sekaligus  menghindarkan diri dari kemungkinan distorsi ideologis. Distorsi tujuan acap kali disebabkan oleh perkembangan amal usaha yang sangat cepat sehingga mengakibatkan anggota asyik dengan pekerjaanya dan melupakan tujuan bermuhammadiyah. Dengan demikian perubahan yang datang dari luar diantaranya budaya milenial atau yang datang dari internal organisasi, selalu membutuhkan pasukan kader Muhammadiyah yang memiliki tugas mengembangkan organisasi dan menjauhkan ideologi dari kemungkinan karena perubahan jaman.

Demikialah, Muhammadiyah memerlukan sikap Self disruption yang dilandasi pola berpikir “Tomorrow is today” agar Muhammadiyah dan sistem perkaderanya tetap eksis dengan berpaya menembus batas ruang waktu dengan cara berpikir baru, terobosan baru, uji coba baru untuk  melahirkan sistem perkaderan yang sungguh-sungguh baru dengan tetap istiqomah dengan tata nilai islam yang diyakininya sebagi satu kebenaran dan tujuan akhir masyarakat islam yang sebenar-benarnya.

Hal ini bisa dicapai dengan tiga langkah yang harus kita kerjakan. Pertama, adalah dengan mengembangkan growt mindset, yakni selalu pantang menyerah dengan mencari jalan keluar dari persoalan. Kedua, menumbuhkan terus keunggulan adaptif dalam bentuk karakter, kompetensi, kultur kerja, kesiapan mental, fisik dan teknologi perkaderan dalam mengantisipasi  perubahan serta responsif dalam berkarya. Ketiga adalah memperluas dimensi inovasi dalam sistem perkaderan yang meliputi bidang pelayanan, proses, rekrutmen kader dan brandinng dari sistem  perkaderan muhammadiyah.