Perguruan Tinggi Keagamaan Islam 4.0

0
236

A NEW CHAPTER BEGIN (Kasali, 2017) begitulah peringatan yang pernah disampaikan Steve Jobs kepada kita semua seperti yang dicuplik oleh Rhenald Kasali dalam bukunya Distruption. Sebuah era baru yang benar-benar baru telah dimulai, dimana perubahan terjadi begitu cepat, melejit tanpa sekat. Anomali seakan tidak mampu diprediksi lagi, jikalau dulu dinamika berjalan dengan linear dan teratur akan tetapi saat ini  dinamika telah berjalan dengan begitu kompleks.

Digitalisasi terjadi dalam segala aspek terjadi disekitar kita, bahkan terdapat pergeseran kebutuhan dasar manusia zaman now yaitu dari kebutuhan fisik ke kebutuhan komunikasi, sehingga battrei dan kuota internet menjadi sebuah kebutuhan dasar baru dalam era distrupsi teknologi atau revolusi industri 4.0 seperti yang terjadi saat ini.

Peter Drucker (1997) pernah meramalkan universitas akan mengalami krisis yang mendalam dan tidak bisa bertahan lagi karena tidak mampu memenuhi harapan penggunanya.

Perubahan zaman yang sedemikian itu tentu membawa dampak yang signifikan pada beberapa aspek, termasuk pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Peter Drucker (1997) pernah meramalkan universitas akan mengalami krisis yang mendalam dan tidak bisa bertahan lagi karena tidak mampu memenuhi harapan penggunanya. Sebuah ramalan yang bisa dibilang terlalu berlebihan, namun apabila dipikir secara jernih dan mendalam ramalan tersebut tentu ada benarnya bila kita melihat kondisi perguruan tinggi kita terutama PTKI di Indonesia dewasa ini.

PTKI di Indonesia saat ini berjumlah 869 perguruan tinggi berdasarkan data forlapdikti. Namun, dari sekian banyak PTKI tersebut, hanya 3 PTKI berbentuk UIN yang memiliki akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi (BAN-PT). Sedangkan perguruan tinggi lainnya masih dalam kategori akreditasi B dan C serta masih banyak pula yang belum terakreditasi. Capaian akreditasi tersebut merupakan gambaran yang bisa merepresentasikan kondisi PTKI di Indonesia untuk diperbaiki secara berkelanjutan.

Disisi lain, sesungguhnya PTKI  memiliki  peran yang tidak ringan dan sangat strategis dalam situasi dan kondisi terkini. Memasuki tahun politik 2018 dan 2019 seringkali kita jumpai berita, kabar dan informasi yang tidak benar (Hoax) yang menjadi viral di media sosial berupa isu keagamaan, sosial dan lain sebagainya. Disitulah letak kerentanan terjadinya salah faham bahkan konflik sosial apabila tidak ada penyeimbang yang memiliki penguasaan konten serta yang familiar dengan teknologi.

Dengan asumsi yang terbangun diatas, menjadi sebuah keniscayaan PTKI harus berbenah secepatnya dalam beberapa aspek. Pertama, penguatan kelembagaan, hal tersebut merupakan aspek yang fundamental untuk menjadikan PTKI sehat secara institusional. Penataan dokumen yang sesuai regulasi, penataan struktur organisasi, pengembangan sistem manajemen yang tansparan dan akuntabel. Sistem kelembagaan yang kuat akan menjadi PTKI dinamis dalam mengikuti kecepatan perubahan dan terhindar dari konflik internal.

Kedua, reorientasi kurikulum, dengan adanya peraturan presiden yang memuat tentang kerangka kualifikasi nasional Indonesia (KKNI),  maka kurikulum yang dibuat oleh perguruan tinggi pun harus mengacu KKNI tersebut. Akan tetapi yang tidak kalah pentingnya, perguruan tinggi juga harus menetapkan secara tegas ciri khas perguruan tinggi atau distingsi keilmuan di PTKI masing-masing.

Menghadapi revolusi industri 4.0 lulusan tidak hanya melek dengan literasi lama terkait membaca, menulis dan berhitung, tetapi dibutuhkan literasi baru yakni, kemampuan untuk membaca, analisis dan menggunakan informasi (big data) di dunia digital, termasuk pemahaman tentang nilai-nilai humanities, komunikasi dan desain (Literasi Manusia).

Ketiga, melek literasi, menghadapi revolusi industri 4.0 agar lulusan bisa kompetitif perlu penyiapan agar lulusan tidak hanya melek dengan literasi lama terkait dengan membaca, menulis dan berhitung. Akan tetapi dibutuhkan literasi baru (Aoun, MIT, 2017) menyangkut kemampuan untuk membaca, analisis dan menggunakan informasi (big data) di dunia digital, lalu kemampuan untuk memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi seperti coding, artificial intelegence, & Engineering Principles (Literasi Teknologi) dan yang terakhir yaitu pemahaman tentang nilai-nilai humanities, komunikasi dan desain (Literasi Manusia).

Ikhtiar untuk mewujudkan PTKI yang ideal seperti yang digambarkan diatas, tentu membutuhkan kerja keras, fokus dan istiqomah berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemangku kebijakan di perguruan tinggi, dosen, mahasiswa serta masyarakat pengguna lulusan. Dengan begitu PTKI akan memiliki peran optimal dalam revolusi industri 4.0 dan memberikan manfaat yang sangat signifikan untuk kemajuan bangsa Indonesia menuju negara yang baldatun toyyibatun warobbun ghofur. Wallahua’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here