Perbanyak Membaca Surat Al-Ashr di Era Transisi

0
140

Masa transisi dimaksud masa perubahan dari satu keadaan tertentu ke keadaan baru yang biasanya dinantikan sebagai kabar baik. Namun, kabar baik itu diliputi situasi mencekam yang membayangi akankah kabar baik itu segera hadir sebagai suatu kebahagiaan segera atau berada dalam petahanan gonjang-ganjing yang berlarut-larut. Situasi ini tidak mengenakkan. Jika menghadapi situasi ini, seorang guru ngaji di kampung memberikan ijazah (pengesahan amalan), bacalah surat al-Ashr.

Kampus Desa–Lama saya tidak memahami mengapa setiap akhir sekolah di madrasah atau mengaji selalu diminta untuk membaca surat al-Ashr bersama-sama. Sampai suatu saat saya memberanikan diri bertanya kepada ustadz saya. Di bawah ini saya sarikan jawaban ustadz saya tersebut. Menurutnya, setiap huruf dalam al-Qur’an memiliki keajaiban ketuhanan. Setiap huruf dalam al-Qur’an memiliki kekuatan positif yang memberi pengaruh baik kepada orang yang membacanya. Tahu artinya atau tidak, membaca al-Qur’an akan memberi kebaikan kepada pembaca maupun pendengarnya. Hati akan damai dan segala urusan menjadi lancar.

Waktu transisi ini disebut chaos (kacau) yang dilawankan dengan cosmos (teratur). Semuanya serba abu-abu. Itulah mengapa, masa transisi selalu berada kerawanan.

Kandungan surat al-Ashr adalah semacam panduan saat kita menghadapi masa transisi atau masa peralihan. Masa transisi adalah masa in between (antara), ketika alam sedang tidak berada pada kepastian tatanannya. Waktu transisi ini disebut chaos (kacau) yang dilawankan dengan cosmos (teratur). Semuanya serba abu-abu. Itulah mengapa, masa transisi selalu berada kerawanan. Masa transisi itu seperti waktu ashar, waktu peralihan dari siang ke malam. Orang Jawa menyebut waktu ashar ini dengan istilah “sande ala” (mendekati bahaya) atau risky menurut orang Inggris. Mengapa disebut sande’ ala? Waktu ashar adalah waktu remang-remang, saat orang merasa belum perlu menyalakan lampu karena belum datang gelapnya malam, tapi juga segalanya terasa buram karena cahaya matahari tidak cukup menerangi semesta. Di waktu transisi ini, semua orang berada dalam situasi “dekat bahaya”, kecuali dua orang, yaitu orang yang teguh memegang keimanannya dan orang yang sanggup menjalankan perilaku baik. Orang yang teguh memegang keimanannya akan sanggup melampaui era transisi dengan baik. Namun, keimanan saja tidak cukup, manusia perlu mewujudkan keimanannya dalam perilaku baik kepada sesama. Inilah rumusan kebaikan yang biasa disebut dengan istilah keseimbangan antara hablum minallah dan hablum minannas.

Orang juga mungkin sudah merasa melakukan kebaikan, tapi ternyata malah menebar kebencian, kerusakan dan kehancuran kepada umat manusia.

Tapi rumus kebaikan itu sangat sulit dijalankan di era transisi. Orang mungkin merasa sudah teguh memegang iman, tapi mudah terpeleset menjadi penuhanan dirinya sendiri, kelompoknya sendiri, kepentingannya sendiri. Orang juga mungkin sudah merasa melakukan kebaikan, tapi ternyata malah menebar kebencian, kerusakan dan kehancuran kepada umat manusia. Mengapa bisa seperti ini? Jawabannya karena di masa transisi segala panduan sedang berada dalam keguncangan, termasuk panduan baik-buruk. Karena itu, di masa transisi, kita memerlukan kawan (jama’ah) agar saat tersesat ada yang mengingatkan. Kita memerlukan kawan yang selalu mengingatkan kita akan hakekat kebaikan dan kesabaran. Kita memerlukan kawan yang selalu menyuarakan kebenaran, tidak lelah menasehati kita, bahwa kebaikan itu adalah keseimbangan hubungan vertikal dan horisontal. Kebaikan bukan hanya klaim di mulut, tapi juga harus dilakukan. Ukuran kebaikan adalah ketika orang-orang di sekitar kita merasa nyaman karena sebaran cinta kasih kita. Tentu saja, di era transisi, saat segalanya terasa melelahkan, kesabaran seringkali kehilangan tempat di hati kita. Emosi cepat meruak, kemarahan mudah sekali menghambur ke luar. Saat-saat seperti ini, kehadiran kawan yang selalu menasehati kesabaran adalah faktor penting untuk mengarungi era transisi dengan selamat. Penjelasan ustadz yang sangat saya hormati itu ditutup dengan wasiatnya agar memperbanyak membaca surat al-Ashr di masa transisi, seperti masa yang sedang kita hadapi saat ini. Tentu saja saya tahu bahwa ustadz saya tidak hanya menyuruh saya untuk membaca surat al-Ashr, sebagaimana ketika banyak kiai yang menjelaskan keutamaan membaca surah Yasin tak perlu dipahami bahwa kita hanya perlu membaca surat Yasin. Tulisan ini sebelumnya dimuat di islami.co