Penerapan HOTS dalam Ujian Nasional, Perlukah?

0
230
Simulasi UNBK di MTS Negeri 3 Bojonegoro

Satu di antara komponen sistem pendidikan nasional yang sering diperdebatkan adalah Ujian Nasional (UN). Selalu ada saja permasalahan yang mengiringi penyelenggaraannya. Teranyar, gelombang protes dan kritik sinis mengalir deras lantaran kebijakan penerapan HOTS (High Order Thinking Skills) dalam soal UN. Mengapa demikian?

KampusDesa-Penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) selalu menarik untuk diperbincangkan. Hal ini tak lepas dari bebagai permasalahan yang mengiringinya. Berbagai permasalahan tersebut tak jarang juga menimbulkan gelombang protes dan kritik serta tanggapan sinis di sana-sini.

Bahkan pada titik ekstrimnya, tak sedikit kalangan yang menghendaki UN dihapus saja dari sistem pendidikan nasional. Menurut mereka UN tak layak menjadi standar kelulusan. Alasan utamanya UN tidak cukup representatif sebagai alat ukur kompetensi yang dimiliki siswa.

Mereka menilai penggunaan komputer telah menjadi biang kerok baru dalam pelaksanaan UN. Banyak sekolah, guru, dan peserta didik yang belum siap.

Misalnya mengenai kebijakan penggunaan komputer dalam UN. Banyak kalangan yang melancarkan protes terhadap kebijakan ini. Mereka menilai penggunaan komputer telah menjadi biang kerok baru dalam pelaksanaan UN. Banyak sekolah, guru, dan peserta didik yang belum siap. Apalagi ditambah permasalahan-permasalahan teknis seperti jaringan, arus listrik, dan sebagainya.

Terlepas berbagai permasalahan laten UN dan perdebatan-perdebatan yang menyertainya, ada satu hal menarik yang layak untuk kita soroti dan kita diskusikan bersama. Yaitu penerapan HOTS (High Order Thinking Skills) dalam soal-soal UN.

Diluncurkannya kebijakan ini adalah dalam rangka untuk mengejar ketertinggalan kita dalam Programme for International Student Assessment (PISA). Program yang diluncurkan oleh OrganizatiOn for Economic Cooperation and Development (OECD) ini bertujuan untuk mengukur pencapaian pendidikan di seluruh dunia.

Indonesia saat ini berada pada urutan 66 dari 72 negara untuk kemampuan literasi dengan skor 397. Urutan 65 dari 72 negara untuk kemampuan matematika dengan skor 386. Dan, urutan 64 dari 72 negara untuk sains dengan skor 403. (www.antaranews.com).

Namun, banyak kalangan yang kurang setuju dengan kebijakan ini lantaran banyaknya kesulitan yang dialami peserta didik. HOTS menekankan pada penalaran. Sehingga soal-soal UN yang menggunakan sistem HOTS akan berbeda dengan soal-soal sebelumnya. Sehingga waktu yang dibutuhkan untuk menjawab soal semakin bertambah. Padahal batas waktu pengerjaan soal tetap sama.

Selain itu, penerapan HOTS juga bertujuan agar peserta didik menguasai lima kompetensi yang menjadi ruh dari kurikulum nasioanal. Lima kompetensi tersebut adalah berpikir kritis (criticial thinking), kreatif dan inovasi (creativity and innovation), kemampuan berkomunikasi (communication skill), kemampuan bekerja sama (collaboration) dan kepercayaan diri (confidence).

Menurut Mendikbud, Muhadjir Efendi, sebagaimana dilansir www.kompas.com penyebab munculnya protes terkait sulitnya soal UNBK pada dasarnya  tidak hanya disebabkan oleh penerapan HOTS. Melainkan ada banyak faktor lain, misalnya kisi-kisi belum disosialisasikan oleh sekolah, guru yang belum paham dan belum siap, dan peserta didik yang menganggap soal UNBK sama dengan tahun lalu.

Kita tengah berada di era global village. Antara satu bangsa dengan bangsa lain tidak lagi ada sekat yang rigid seperti dulu. Sehingga dibutuhkan kemampuan yang tinggi untuk berkomunikasi.

Di balik pro-kontra penerapan HOTS dalam UNBK di atas, sebenarnya jika dicermati dengan seksama, kebijakan tersebut memang seharusnya diterapkan. Mengapa demikian? Pertama, zaman terus berkembang. Tuntutan hidup pun semakin beragam dan meningkat. Kita tengah berada di era global village. Antara satu bangsa dengan bangsa lain tidak lagi ada sekat yang rigid seperti dulu. Sehingga dibutuhkan kemampuan yang tinggi untuk berkomunikasi.

lembaga pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang mampu menjawab tuntutan dan tantangan zaman yang terus berkembang.

Kedua, derasnya laju perkembangan IPTEKS. Kemajuan IPTEKS telah mengubah gaya hidup manusia. Berbagai inovasi teknologi di samping mempermudah manusia, juga semakin membuat persaingan hidup lebih ketat. Dengan demikian, lembaga pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang mampu menjawab tuntutan dan tantangan zaman yang terus berkembang.

Tentu kita tidak berharap selamanya menjadi konsumen dan penontn saja sebagaimana kita rasakan selama ini. Kelima kompetensi di atas merupakan kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki peserta didik di abad 21 ini agar di hari kemudian mereka tidak hanya survive, tapi mampu “bicara banyak” di pentas persaingan global.

Jika kita mengharapkan tujuan pendidikan nasional yang telah jelas termaktub dalam UU No. 20 tahun 2003 yakni terwujudnya manusia Indonesia yang tidak hanya beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melainkan juga berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggungjawab, maka sudah seharusnya berbagai upaya perbaikan sistem pendidikan nasional kita dukung bersama.

Mustahil terwujud sistem pendidikan yang berkualitas manakala tidak ada sinergi antara pemerintah, sekolah, peserta didik, dan masyarakat. Penerapan HOTS bukanlah hantu, monster, atau malapetaka yang menakutkan. Asal kita menyikapinya dengan pikiran terbuka, hal itu justru menjadi batu loncatan untuk meningkatkan mutu lulusan pendidikan kita.[]