Pendidikan Seni Sebagai Pendidikan Karakter

0
105
Tari Saman. Hasil didikan Agus R. Subagyo. Pendidikan tidak semata tentang dunia kerja, tetapi juga tentang seni yang mengindahkan hidup

Iya to, bahwa pendidikan selalu dimaknai sebagai seorang pemenang, memasuki dunia kerja yang unggul sehingga peserta didik dipicu kompetisi demi kemenangan? Mengapa begitu monologis cara tersebut menjadi doktrin pendidikan? Bagaimana dengan artikulasi budaya dalam gerak dan irama tari? Apakah kelembutan budi mampu dipicu menstabilkan orang-orang terdidik dari budaya kompetisi, atau justru sebenarnya dari tarilah, kehalusan budi itu mampu menata emosi dan membentuk kehidupan manusia lebih beradab, bagian dari pilihan pendidikan karakter?

kampusdesa.or.idBest Practice dari Pagelatan Seni Kang Rego Agus R. Subagyo dalam Acara Sambang Gunung di Kewden River Park Nganjuk

Ketika pendidikan diarahkan sebagai penyedia tenaga kerja, maka muatan pendidikan dalam kurikulumnya adalah kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar tenaga kerja dalam dunia industri, apalagi di era 4.0 ini (#katanya)

Dunia industri yang merupakan dunia usaha dan bisnis membuat orang selalu berusaha untuk berjuang menjadi pemenang dan menjadi terbaik dari yang lain.

Siapa yang kalah dan tidak menjadi pemenang akan digilas oleh persaingan yang keras sehingga sepanjang hidup adalah selalu berusaha untuk mengalahkan yang lain.

Siapa yang tidak menjadi terbaik dan mengalahkan yang lain bakal ditinggalkan oleh pelanggannya atau tergeser dan termaginalisasikan dalam dunia kerja

Demikian juga dalam pendidikan, anak selalu dipacu untuk menjadi yang terbaik dari teman-temannya sehingga jiwa persaingan sudah ditanamkan di sekolah dengan pemberian ranking dan label anak juara, anak pandai dsb,

Rasa kebersamaan, rasa kesetiakawanan, rasa ingin harmonis dengan teman-teman lingkungannya secara pelan dimusnahkan dari diri anak, dari dunia bawah sadar anak sehingga dalam diri anak hanya ada sikap aku harus menang.

Rasa kebersamaan, rasa kesetiakawanan, rasa ingin harmonis dengan teman-teman lingkungannya secara pelan dimusnahkan dari diri anak, dari dunia bawah sadar anak sehingga dalam diri anak hanya ada sikap aku harus menang.

Sikap aku harus menang sering menumbuhkan sikap yang tidak jujur, culas dan menghalalkan segala cara, yang penting bisa mencapai tujuan. Hal ini sudah terbukti dengan pembocoran soal ujuan, pembuatan surat leterangan tidak mampu meski kaya, dan surat pindah domisili untuk bisa masuk sekolah favorit

Sebaliknya, pendidikan seni yang intinya keindahan dan keselarasan dengan lingkungan, menjadikan seorang merasa bagian dari lingkungannya, Dia selalu berusaha selaras, serassi dan seimbang (malih ingat P4 nya eyang Soeharto) dengan lingkungannya. Misalkan dalam seni tari, dia tidak mau menjadi terlalu maju di depan atau terlalu cepat dan sebaliknya terlalu lambat sehingga mengganggu kesatuan timnya. Dengan demikian, pendidikan seni bisa menghaluskan budi anak, menumbuhkan rasa kebersamaan dan loyalitas kesetiakawanan terhadap sahabat dan lingkungannya

Demikian pula dalam kejujuran, apa yang diungkapkan seniman adalah asli suara batinnya dengan penuh kejujuran. Dia akan menyuarakan dan mengekspresikan jeritan jiwanya. Dengan demikian pendidikan seni bisa melaktih kejujuran mengekspresikan suara hatinya dan mencegah ngathok, penjilatan asal mendapat kedudukan atau harta.