Pemulihan Hubungan Pernikahan Setelah Pria Mendua, Adilkah Untuk Perempuan ?

1
322

Apakah mendua bagi pria yang sudah menikah adalah kecenderungan normal dari sisi psikologis ?

Ada beberapa sudut pandang melihatnya. Hubungan laki-laki dan perempuan dalam pernikahan adalah sebuah janji yang diikat secara resmi, baik berdasarkan norma keagamaan atau kaidah perundang-undangan. Hubungan tersebut diresmikan oleh karena dua orang berkomitmen membangun hubungan untuk saling mencintai. Seorang pria terikat dengan norma pernikahan dan tentu memiliki kaidah moral dalam memelihara hubungan. Jika seorang pria kemudian mendua, dalam sudut pandang penalaran moral, seseorang berarti tidak lagi mampu menjaga moralitas dalam mengelola hubungan dengan pasangan. Secara norma pernikahan maka dia dianggap menyimpang dari kaidah-kaidah moral relasi pernikahan. Sementara dari sudut pandang psikologis mengenai relasi seksual dan hubungan harmonis, pria yang mendua didorong oleh dua parameter, bahwa dia tidak mampu mengelola kendali dorongan seksual dan rasa suka hanya kepada pasangannya sehingga akan mencari berbagai kepuasan relasi dengan lawan jenis di luar pernikahan. Tentunya hal ini akan menciderai relasi pasangan. Sementara kalau hubungan ini sudah tidak cocok oleh karena alasan hilangnya rasa cinta pada pasangan, maka seseorang yang kemudian mendua mencari tambatan hati baru karena rasa suka pada pasangan sudah tidak lagi bisa dihidupi sehingga dia akan menghidupi dengan orang lain yang dirasa memberikan jaminan rasa suka dan kepuasan diri secara seksual atau batin. Apapun alasannya, ketika seseorang masih terikat norma pernihakan, perilaku mendua telah menciderai pasangan yang sah dan dia telah mengingkari berbagai komitmen dalam menjalin relasi secara resmi. Menurut saya, bukan normal atau tidak normal tetapi lebih ke kesadaran etik (moral reasoning) seseorang dalam mengelola hubungan pernikahan.

Dorongan terbesar yang melatarbelakangi seperti apa? Apakah semacam melarikan diri dari sesuatu ?

Setiap orang ingin memenuhi kepuasan hubungan yang didasari oleh bobot relasi keintiman atau suasana hati. Yang melatarbelakangi ada beberapa kondisi, seperti laki-laki ingin selalu mencari kepuasan dalam hubungan dengan lawan jenis. Ketika dia merasa tidak puas, maka dia akan mencari kepuasan di ruang yang dianggap mampu menjamin kepuasan relasi. Selain itu, bisa juga didasari oleh kejumudan relasi pernihakan sehingga peremajaan hubungan tidak mampu direproduksi oleh pasangan. Orang menjadi jenuh dan ketika ada situasi yang membangkitkan gairah di luar hubungan pernihakan, seseorang akan cenderung menikmati jika memang dianggap mewakili kebutuhan dasar akan cinta dan kasih sayang barunya.

Secara psikis, pria yg mendua akan menikmati proses ‘jatuh cinta lagi’, pada saat yang sama, ia mungkin juga didera perasaan bersalah pada istri dan keluarga juga pada Tuhan. Penjelasannya?

Nah, jika begitu sebenarnya bukan persoalan normal atau tidak normal tetapi lebih pada kesadaran etik seorang pria dalam memosisikan dirinya sebagai seorang suami. Jika ada perasaan seperti itu, sebenarnya dia berada di ambang kesadaran moral yang disebut tadi dengan istilah moral reasoning. Di sini bukan persoalan tidak normal tetapi pada kemampuan seseorang dalam membuat penalaran dalam mengelola hubungan dengan pasangan. Orang yang memiliki kesadaran diri tinggi cenderung akan mampu mengendalikan dorongan rasa suka untuk tidak jatuh pada tambatan hati di luar pernihakan. Setiap orang tentu memiliki kecenderungan rasa suka pada orang lain di luar pernikahan. Ini dorongan dan stimulasi yang selalu maujud dalam kontinum perkembangan insan. Situasi ini akan manifes (terwujud) menjadi rasa cinta di luar pernikahan jika dorongan tersebut tidak dikendalikan dengan kesadaran penuh tentang komitmen dan konsistensi seseorang. Jika seseorang gagal mengelola kendali dan kesadaran etik ini, di situlah seorang pria rentan jatuh cinta.

Bila pria yang telah mendua hendak move on, keluar dari masalah, jalan keluar yang dipilihnya akan sangat bergantung beberapa faktor, misal: penerimaan istri, pola hubungan dengan selingkuhan masih manus atau membisankan, atau pertimbangan agama? Menurut Anda, mana yg lebih kuat ?

Jikalau berpijak pada penalaran moral, maka yang dibutuhkan adalah muhasabah (instrospeksi) baik dalam kesadaran diri sendiri atau memahami arti penting sebuah hubungan perkawinan, baik hal itu ditinjau dari tanggungjawab agama atau tanggungjawab sebagai partner hidup bagi pasangan. Ketika mendua kemudian menjadi faktor yang menyebabkan istri sakit hati (terluka), tentunya peristiwa ini telah masuk dalam koridor kekerasan terhadap perempuan dan bisa menjadi kasus yang bersifat yuridis. Nah, pasangan Anda bisa menggugat oleh karena alasan tersebut. Menurut saya jika dikatakan tergantung pada penerimaan istri, itu sangat bias jender. Kesalahan mendua adalah ada di pihak pria, maka apakah kesadaran rasa bersalah itu dijadikan sebagai sumber kesadaran bahwa dialah penyebab terlukanya seorang pasangan, maka kewajiban laki-laki adalah meminta maaf. Nah, seorang istri juga punya hak untuk menerima, atau bahkan menolak permintaan maaf yang berarti menyudahi hubungan. Ini adalah konsep setara yang harus diprioritaskan sehingga seorang laki-laki juga perlu tetap waspada dalam membina hubungan. Saya menekankan bahwa proses pemulihan hubungan seharusnya ditinjau dari sudut pandang keadilan. Artinya, siapa yang salah perlu menyadari posisinya dan tanggungjawab sebagai pribadi yang menyulut sakit hati sehingga pemulihan adalah sebuah komitmen yang dijalin bukan pada kemampuan penerimaan kembali seorang istri tetapi lebih pada kesadaran arti penting sebuah relasi diantara pasangan. Semua berbenah untuk membangun kehidupan yang harmonis dan saling mendukung.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Auleea, Januari 2017 | hal. 15

1 COMMENT

  1. BAHAN renungan untuk para pasangan yang tengah dilanda permasalahan, Cinta memang membutakan segalanya, tapi sebaiknya mencintai jangan dengan mata buta,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here