Pemuda sebagai Informal Leader: Penggerak Masyarakat Menuju Desa Lebih Baik

0
613
Abdullah Sam (Kanan) Pendiri Pesantren Rakyat Sumberpucung Kab. Malang. Sarjana Psikologi yang pulang kampung melakukan perubahan di desanya

Desa membutuhkan informal leader yang potensial. Potensi yang sangat banyak di desa memerlukan penggerak yang tahu kebutuhan perubahan agar desa menjadi lebih baik. Desa-desa tidak akan tenggelam ketika informal leader memahami dan mampu menggerakkan potensi desanya. Siapa informal leader tersebut ?

Berbicara soal desa tidak akan ada habisnya. Beragam potensi yang bisa dikembangkan menjadi salah satu upaya untuk memajukan desa. Bukan perihal mengubah status desa dari terbelakang, mejadi berkembang atau maju, tetapi lebih bernilai dari itu.

Miniatur sebuah negara paling menarik adalah desa. Sebab, di sana merupakan sumber kehidupan yang nyata, alami, dan bersentuhan langsung dengan satu per satu orang. Karakter masyarakat desa itu ulet dan pekerja keras. Desa masih kental dengan nilai adat dan budaya. Nilai luhur dan kearifan lokal juga masih “hidup” di tengah masyarakat, meskipun telah terdapat pengeroposan.

Desa menjadi rumah tumbuh bagi anak muda setidaknya sampai usia 18 tahun. Mengapa demikian? Hal ini menjadi ancaman yang menerpa desa, saat ini, yaitu pemuda desa yang mulai bermigrasi ke kota-kota besar, entah untuk mencari penghidupan atau menimba ilmu. Dalih yang diutarakan kebanyakan untuk menyambung hidup agar bisa menyejahterakan orang tua di kampung halaman. Padahal tidak jarang oleh mereka, setelah menimba ilmu tetap berada di tanah rantau, bahkan ingin merantau ke tempat yang lebih jauh lagi. Hal ini yang menyebabkan pemuda melupakan tempatnya tumbuh sejak kecil.

Rasa takut akan lunturnya adat dan kebudayaan lebih tinggi dibandingkan dengan kemajuan. Maka perlu pencerahan kepada masyarakat agar dapat berpikir out of the box di era revolusi industri 4.0 yang sedang berlangsung.

Permasalahan tersebut disebabkan karena tidak tersedianya kanal-kanal lapangan pekerjaan di desa dan kreatifitas masyarakat yang kurang. Iklim sekuler dan anti permisif juga telah meracuni pemikiran masyarakat jika terdapat pembangunan besar di desanya. Rasa takut akan lunturnya adat dan kebudayaan lebih tinggi dibandingkan dengan kemajuan. Maka perlu pencerahan kepada masyarakat agar dapat berpikir out of the box di era revolusi industri 4.0 yang sedang berlangsung.

Sebagai insan yang ingin berkontribusi khususnya untuk desa, peran yang harus diambil adalah peran kepemimpinan. Bukan ujug-ujug, mencalonkan menjadi kepala desa, tetapi dengan tahapan yang runtut dan sistematis.

Siapa yang tidak ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain? Saya pikir tidak ada. Sebagai mahluk sosial, sudah seharusnya tujuan tersebut terpatri dalam hati. Ikhtiar yang harus dilakukan untuk berkontribusi adalah hal nyata bagi masyarakat. Mulai dari lingkup terkecil: desa. Merujuk pada permasalahan di atas, maka sebagai insan yang ingin berkontribusi khususnya untuk desa, peran yang harus diambil adalah peran kepemimpinan. Bukan ujug-ujug, mencalonkan menjadi kepala desa, tetapi dengan tahapan yang runtut dan sistematis. Setidaknya ada beberapa hal yang harus dimiliki, yaitu keterampilan (skill), cerdas menangkap peluang (opportunity), dan yang terpenting adalah panggilan jiwa (passion). Saya yakin kakrakter tersebut melekat erat di kalangan pemuda.

Pendekatan yang tepat khususnya untuk pemuda desa adalah menjadi informal leader. Pemuda harus menjadi orang yang menarik dan memiliki pengaruh di lingkup desa.

Pemuda sebagai penggerak desa bukanlah seorang kapten, tetapi sebagai fasilitator atau pemberdaya. Sebagian ahli mengatakan, ada tiga pilar peradaban yaitu pasar (market), pemerintah/penyelenggara negara (nation-state), dan masyarakat sipil (civil society). Kelompok pemuda yang bukan seorang aparatur negara, untuk melakukan perubahan, bisa memilih dua pilihan lain: pasar atau masyarakat sipil. Pendekatan yang tepat khususnya untuk pemuda desa adalah menjadi informal leader. Pemuda harus menjadi orang yang menarik dan memiliki pengaruh di lingkup desa. Hal ini adalah modal sosial yang harus dimiliki. Jika peran pemuda telah “berpengaruh” di masyarakat, mereka akan berhasil memenangkan kepemimpinan publik. Intinya adalah komitmen, jika tujuan untuk memperbaiki desa benar-benar diupayakan, pada akhirnya pemerintahan/perangkat desa pasti akan mengajak bersinergi.

Satu hal yang perlu diingat yaitu tidak mengedepankan nafsu untuk menguasai desa. Yakinlah bahwa kekuasaan hanyalah alat untuk melakukan perubahan-perubahan lebih baik. Kekuasaan bukan menjadi suatu tujuan.

Saya pernah berpikir, mengapa revolusi bisa terjadi? Apakah karena kekuasaan? Moncong senjata? Materi? Ternyata tidak. Semua itu terjadi karena ide kreatif dan gagasan yang solutif. Sebab, kekuasaan, moncong senjata, dan materi hanyalah alat. Sedangkan ide dan gagasan harus dimiliki secara mutlak.

Maka, dalam membangun desa, ketulusan cita-cita dan kesungguhan niat tidak melenceng dari visi misi desa agar budaya dan kearifan lokal tetap terjaga. Sikap peduli pemuda desa didasari dari sebuah contoh, itulah mengapa informal leader menjadi penting.

Pemuda sebagai informal leader juga tidak seharusnya mengejar “cita-cita” untuk memperbaiki desa sendirian. Hal ini akan menimbulkan penolakan secara tidak langsung. Maka, dalam membangun desa, ketulusan cita-cita dan kesungguhan niat tidak melenceng dari visi misi desa agar budaya dan kearifan lokal tetap terjaga. Sikap peduli pemuda desa didasari dari sebuah contoh, itulah mengapa informal leader menjadi penting. Tidak semua orang terpanggil untuk peduli terhadap lingkungannya. Tetapi sebagian besar akan memiliki kepedulian jika ada penggeraknya.

Pepatah mengatakan, “kita tidak bisa memilih dari tanah mana kita dilahirkan, tetapi kita bisa memilih menjadi seperti apa kita di masa yang akan datang.”

Jombang, 10 Oktober 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here