Pembelajaran PAI Harus Kekinian

PAI kekinian butuh dikembangkan menuju semangat zaman. Begitu juga calon tenaga Pendidiknya, perlu diajak membuka wawasan dan menerjemahkan dalam berbagai bahan-bahan pembelajar di kelas-kelas Perguruan Tinggi

0
299
Suasana Presentasi Min-Riset di Kelas

Zaman ini ditandai dengan revolusi 4.0. Perubahan besar, khususnya di revolusi informasi telah membawa aneka transformasi kehidupan yang efisien dan bergerak cepat. Bagaimana kemudian pendidikan calon guru turut bergeser dan menjawab perubahan tersebut ? Seperti apa situasi kelas yang lahir dari sentuhan guru kekinian, apakah masih berjibaku dengan cara mengajar konvensional atau perlu lompatan strategis menghadapi zaman millennial ini ?


MATA PELAJARAN Pendidikan Agama Islam (PAI) sejak lama mendapatkan stigma sebagai mata pelajaran “kelas dua”. Berbeda dengan mata pelajaran yang di UN-kan seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, Kimia, Biologi, Fisika, dan sebagainya. Oleh karenanya, pembelajaran PAI juga sekedarnya saja dan begitu-begitu saja. Guru datang, menyuruh siswa membuka LKS (Lembar Kerja Siswa) atau buku panduan, menyuruh membaca halaman kesekian, kemudian guru menerangkan hal-hal yang dirasa perlu, memberi tugas kepada siswa, menutup pelajaran, dan selesai.

Ternyata model pembelajaran dari jaman saya sekolah seperti ini, sampai sekarang masih juga diterapkan. Padahal kurikulum telah berkali-kali diganti dan diperbarui. Tapi mengapa pembelajaran PAI masih saja miskin inovasi? Mengapa tertinggal dengan mata pelajaran lain yang sudah berinovasi dengan menerapkan model pembelajaran modern?[1]

Bisakah pembelajaran PAI dilakukan dengan “gaya” kekinian?

Berbekal kenyataan menyedihkan inilah, saya kemudian mengubah model perkuliahan pada Mata Kuliah (MK) Metode Pembelajaran PAI yang saya ampu semester ini. Kelas yang mendapat MK ini adalah mahasiswa Prodi PAI semster VI. Semula saya ingin melakukan perkuliahan yang biasa-biasa saja (pengantar, membagi kelompok, membagikan tema makalah, presentasi, UTS, UAS). Model perkuliahan tersebut kemudian saya ganti dengan model perkuliahan based research dan discovery learning. Hal ini saya lakukan dalam rangka mengubah image “kelas dua” pada mata pelajaran PAI, menjadi mata pelajaran kekinian yang keren.

Semula saya ingin melakukan perkuliahan yang biasa-biasa saja (pengantar, membagi kelompok, membagikan tema makalah, presentasi, UTS, UAS). Model perkuliahan tersebut kemudian saya ganti dengan model perkuliahan based research dan discovery learning. hal ini saya lakukan dalam rangka mengubah image “kelas dua” pada mata pelajaran PAI, menjadi mata pelajaran kekinian yang keren.

Adapun Langkah-langkah yang saya lakukan adalah,

Pertama, pada pertemuan kedua mahasiswa saya minta untuk membentuk kelompok maksimal terdiri dari tiga orang.

Kedua, masing-masing kelompok saya minta untuk melakukan mini research ke sekolah-sekolah yang berbeda. Mereka saya minta untuk melakukan observasi pembelajaran PAI dan mewawancarai gurunya.

Ketiga, mereka saya minta melaporkan hasil temuannya di depan kelompok lain. Satu per satu mereka mempresentasikan laporan mini research-nya. Setelah itu mereka saya ajak untuk menyimpulkan apa yang telah mereka presentasikan. Dan ternyata 90% dari 12 sekolah yang mereka observasi, masih menggunakan metode pembelajaran yang monoton, yaitu ceramah, tanya jawab, penugasan dan hanya sesekali diskusi. Bahkan menurut penuturan guru Sejarah Kebudayan Islam (SKI) di MI Islamiyah, yang bertempat di Desa Sumberwudi RT.02 RW.02, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan, metode ceramah sangat sesuai dengan anak usia MI, karena kalau dilakukan diskusi, mereka tidak serius dan gaduh sendiri.

Keempat, mereka saya minta untuk mengkonversi laporan mini research-nya menjadi artikel pendek yang berisi solusi dari mereka atas temuan hasil penelitian yang telah mereka lakukan. Artikel ini menjadi tugas UTS (27 Maret 2018) bagi mereka.

Kelima, setelah UTS mereka saya minta untuk menyiapkan perangkat pembelajaran yang berbasis pada artikel yang telah mereka tulis dan kemudian melakukan microteaching pembelajaran PAI dengan syarat harus menerapkan prinsip Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Menyenangkan (PAIKEM).

Keenam, mahasiswa menjadi evaluator bagi kelompok yang pada hari itu bertugas sebagai guru PAI.

Bagaimana artikel tentang inovasi pembelajaran PAI yang kekinian karya mahasiswa PAI semester VI ini? Insya Allah secara berkala akan dimuat di http://kampusdesa.or.id/. [1] Fakta ini saya peroleh setelah berdialog dengan mahasiswa dan menanyakan bagaimana mereka mendapatkan pembelajaran PAI ketika di sekolah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here