Pak Aji Tan, Cuma Singkong dan Pisang yang Bisa Ditunai

2
243
Salim (NgajiTani), kanan, bersama pak Aji Tan

Sebut saja, Pak Aji Tan (nama samaran) seorang petani tua yang hidup di desa pinggir hutan berdekatan dengan laut dan pantai di Malang Selatan. Berkenalan dengan beliau bagiku merupakan sebuah anugerah dan juga panggilan Tuhan. Sudah barang tentu bukan semata sebuah kebetulan. Sebab tak ada hal apapun di dunia ini yang tak berjalan dalam koridor takdir dan iradat-Nya.

Setelah sonjo ke rumah beliau dan dihidangi gorengan pisang dan kopi tubruk ala ndeso, Aku diajaknya berkeliling mengunjungi lahan garapannya. Luasnya kurang lebih 2ha, itupun bukan miliknya. Pak Aji Tan hanya di percaya untuk mengelolanya oleh seorang Tuan yang domisilinya di kota jauh di sana. Yang sesekali si Tuan bisa datang mengunjungi lahannya serta menanyakan bagi hasil pertaniannya. Meski tidak ikut memberi modal apa-apa. Enak ya?

Apa lacur, setelah kucoba menyelami agak dalam komoditas yang ditanam dan tatakelola bertani Pak Aji Tan selama ini, sepertinya ia masih berada seolah-olah di jaman purba, yakni bertani dengan tradisi nomaden (berpindah-pindah tempat).

Padahal sekarang ini, katanya sudah era digital dan melenial lho. Betapa tidak, pilihan menanam komoditas pisang itu karena lebih mudah dan gampang menjualnya (meski harga tidak sepantasnya). Singkong pun dipilihnya karena tinggal tancap saja tumbuh tanpa perlakuan apapun hingga panen tiba, meski harganya pun tidak sepantasnya sehingga ketika tiba saatnya merekap hasil usaha taninya seolah hanya seperti angin lalu saja. Tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dapurnya, apalagi berpikir meningkatkan kesejahteraannya.

Bayangkan harga pisang kepok 1 tandan Rp.15 ribu dan singkong Rp. 200,-/kg. Sangat tidak pantas dan tidak menarik. Meski Pak Aji Tan dan juga dari Tuannya tak pernah melakukan investasi unsur hara di lahan yang digarapnya, tetapi setiap tahun dan periode tanam, mereka terus berharap agar alam dan lahan tetap memberikan kebaikannya sehingga ia bisa memanen tanamannya.

Abdus Salim (kanan) berbincang seputar hasil pertanian dengan pak Aji Tan 

Begitulah seterusnya Pak Aji Tan menjalani hidup sehari-harinya dan menggeluti kerja-kerja pertanian dengan caranya sendiri tanpa ada yang menemani.

Tentu masih banyak sosok lain spt Pak Aji Tan yang juga masih menjalani kerasnya hidup dari bertani di sekitar desa ini. Bahkan di berbagai pelosok negeri. Jika kenyataan ini masih terus dibiarkan, maka jangan disalahkan kalau di negeri yang—katanya–gemah ripah loh jinawi, generasinya kelak lebih gemar menanam beton-beton berurat besi. Salam #NgajiTani.

Malang, Jalur Lintas Selatan 2/11/2017

Abdus Salim. Founder Komunitas #NgajiTani, Inisiator dan Pembakti Kampung Cabe di Dusun Daleman, Kadur, Kabupaten Pamekasan. Selalu berusaha mengajak para petani untuk mandiri. Alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here