Pahlawan dan Historiografi Istana-Sentris

0
137
Film Maha Guru Tan Malaka berkisah tentang Marko yang menelusri jejak-jejak masa lalu Tan Malaka. Foto : bbc.com

Sebagai gelar pahlawan, istana negara selalu menerbitkan ajuan masyarakat yang tahu peran orang-orang istimewa di negeri ini ketika melawan penjajahan. Sisi lain, peran-peran penting mempertahankan kemerdekaan tidak hanya selera istana. Peran perjuangan itu begitu masif sehingga beberapa sosok penting tidak lagi ditemukan sebagaimana selera istana. Bagaimana sebenarnya kepahlawanan itu dipahami dalam konteks peran kesejarahan?

Kampusdesa.or.id–Orang-orang miskin yang kemudian bergabung dalam laskar-laskar rakyat itu berjuang tanpa banyak pertimbangan. Karena berada di kelas paling bawah, tidak begitu banyak tanggungan dan beban. Terutama yang jomblo-jomblo, yang tak punya istri dan anak, bisa jadi merekalah yang merasa jika matipun tak ada beban. Apalagi yang hidupnya paling susah dan merasa paling tertindas, pasti merekalah yang paling keras menumpahkan jiwanya untuk perjuangan dan rela mati melawan penjajah.

Dan ada di lapisan atas sosial masyarakat Jawa (Indonesia) yang memang sudah merasa hidup enak sejak feodalisme-kerajaan muncul, lalu sejak penjajah masuk mereka juga masih eksis sebagai kaum elit yang hidupnya tetap saja enak. Anak-anaknya juga hidup enak, tinggal di istana dengan makanan serba enak, juga mudah menikah dengan siapapun—bahkan menikahi sembilan perempuan, belasan, atau puluhan juga bisa. Di lapisan bawah masyarakat, terutama kaum tani hamba, rakyat jelata, kuli, penjajahan dan penindasan beroperasi sedemikian ganasnya. Setelah dihisap tenaganya oleh tuan tanah dan raja-raja, rakyat jelata tertindas oleh kapitalis-kolonialis yang kejam.

Memang, di antara anak-anak pangeran itu ada yang melawan. Bisa karena selirnya diganggu oleh elit Belanda, atau karena jengkal tanah warisannya direbut. Dan itu juga bisa menimbulkan perlawanan panjang di bawah pimpinan pangeran feodal yang bisa jadi meluluhlantakkan pundi-pundi ekonomi politik kolonialis. Tapi perlawanan baru di awal abad 20 hingga era revolusi fisik Kemerdekaan adalah kisah heroik tersendiri, di mana laskar-laskar rakyat dari kalangan muda juga mulai belajar mengangkat senjata, baris-berbaris, dan kemudian mereka membangun laskar-laskar perjuangan.

Laskar-laskar pemuda berasal dari arus bawah tentunya adalah yang paling radikal dan punya semangat paling menyala dibanding kaum-kaum elit atau pemuda-pemuda anak orang kaya yang memang sudah menikmati enaknya menjadi elit sejak Kolonial memperkenalkan mereka pada pendidikan modern dan menjadikan mereka sebagai ‘abstenaar-abstenaar” dan professional-profesional di alam baru ketika modernism di perkenalkan—mereka adalah baut baut dan onderdil-onderdil berjalannya kapitalisme Hindia Belanda. Di antaranya banyak yang tidak langsung ikut megangkat senjata, dan sebagian kecil juga berpihak pada perjuangan kemerdekaan dengan membantu lewat jalan diplomasi—karena mereka memang “well-educated” dan bisa berbahasa asing, sekolahnya saja ada yang di luar negeri.

Perjuangan mereka lewat organisasi, tulisan-tulisan, dan orasi-orasi maupun diplomasi memang banyak dicatat oleh sejarah. Tapi bagaimana sejarah mencatat kaum muda dari kalangan miskin yang dengan modal nekad berani memanggul senjata itu? Apakah mereka sering disebut atau malah dilupakan. Masalahnya mereka tidak bisa menulis, tidak ada arsip yang bisa menceritakan dan menarasikan kisah mereka sendiri. Kisah sejarah tentang mereka tentunya lebih banyak dimanipulasi dan ditutupi.

Melalui historiografi yang agak berbau kerakyatan dan bebas dari racun Orde Baru, setidaknya masih ada kisah tentang Pemuda radikal yang telah memahami arti perlawanan massif dengan organisasi dan memahami pentingnya perjuangan bersenjata, sebagian adalah pembaca-pembaca GERPOLEK-nya Tan Malaka, tentu tidak bisa kompromi dengan penjajah. Mereka memang terhipnotis dengan pidato Soekarno di lapangan Ikada, agar mereka pulang. Tetapi begitu Belanda kembali ingin menguasai Republik, mereka inilah yang kelak menjadi benteng perlawanan yang nyata bagi bertahannya wilayah kekuasaan dan mengorganisir semangat dari daerah-daerah dan wilayah pinggiran yang belum terjamah pasukan penjajah.

Hati para pemuda perjuangan ini bergetar, airmata mereka meleleh, ketika mendengarkan pidato berjam-jam tanpa teks dari Tan Malaka dalam pertemuan Persatoean Perdjoeangan (PP) di Perwokerto pada tahun 1946. Palnglima Besar Soedirman konon juga hadir di situ. Pidato tentang analisa politik dunia, kapitalisme dan kolonialisme, front perjuangan radikal, dan taktik pertempuran, itulah yang kemudian meradikalisir pertempuran kaum muda.

Para Pemuda itulah yang memaksanya, dengan menculiknya ke Rengasdengklok. Berbeda dengan kalangan orangtua, kaum muda itu tidak kompromis. Sebab kompromi-kompromi itulah yang ternyata melahirkan karakter bangsa yang tidak revolusioner di kemudian hari.

Kaum muda memang punya semangat menyala. Bahkan ketika Soekarno masih enggan deklarasi kemerdekaan, para Pemuda itulah yang memaksanya, dengan menculiknya ke Rengasdengklok. Berbeda dengan kalangan orangtua, kaum muda itu tidak kompromis. Sebab kompromi-kompromi itulah yang ternyata melahirkan karakter bangsa yang tidak revolusioner di kemudian hari. Bangsa yang memang akhirnya tidak pernah ada revolusi, bangsa yang akhirnya—dalam bahasa Max Lane—“belum selesai”. Bangsa yang belum selesai ini akhirnya akan terus menyelesaikan dirinya, entah nantinya selesai atau tidak—yang masih terus berjalan.

Ketika Indonesia sudah dideklarasikan dan kemudian hendak direbut kembali melalui agresi militer (I dan II), laskar-laskar rakyat dan pemuda itu semakin mampu mengonsolidasikan diri. Barisan pemuda radikal, yang tidak ada beban tanggungan karena mewakili kaum muda yang bukan berasal dari kalangan elit dan bukan keturunan ningrat itu, terus ingin bertempur sampai titik darah penghabisan.

Sayangnya, ketika pasukan dan laskar-laskar hendak dirasionalisasikan dan Negara butuh tentara regular, merekapun harus tersingkir. Bagaimana tidak tersingkir. Mereka pendidikannya tidak jelas, jarang yang sekolah, tak punya ijasah. Republik baru harus memilih pasukan regular yang akan digaji Negara, syaratnya memberatkan bagi mereka anggota laskar-laskar dari kaum rendahan. Kebijakan Reformasi dan rasionalisasi (Rera) di tubuh pasukan banyak mengambil para pasukan yang berasal dari kaum kelas menengah ke atas.

Laskar-laskar rakyat yang tak pernah sekolah dan hanya bermodal keberanian itu tersingkir. Apalagi mereka banyak yang berafiliasi pada kelompoknya kaum komunis.

Laskar-laskar rakyat yang tak pernah sekolah dan hanya bermodal keberanian itu tersingkir. Apalagi mereka banyak yang berafiliasi pada kelompoknya kaum komunis. Mereka ada yang pengikut Muso, pengikut Tan Malaka, dan beraliran Kiri. Mereka tersingkir, dan mungkin juga disingkirkan.

Beda dengan pasukan yang rerata anak-anak orang kaya dan elit. Mereka memang mendapatkan kesempatan latihan militer dari Belanda dengan masuk KNIL atau Jepang dengan masuk sebagai pasukan elit PETA. Mereka yang hasil didikan militer penjajah (Belanda dan Jepang) inilah yang kemudian justru banyak yang lolos sebagai tentara regular.

Sejak laskar-laskar radikal di kubu Kiri dan Islamis merasa tersingkirkan, merekapun membangun basis perjuangan. Karena mereka mengaku tidak setuju dengan pemerintahan pusat, merekapun dianggap sebagai kaum pemberontak.

Sejak laskar-laskar radikal di kubu Kiri dan Islamis merasa tersingkirkan, merekapun membangun basis perjuangan. Karena mereka mengaku tidak setuju dengan pemerintahan pusat, merekapun dianggap sebagai kaum pemberontak. Laskar-laskar rakyat yang membangun basis di Madiun itu mendeklarasikan “Negara Madiun” yang hendak dibangun seperti Soviet. Sedangkan yang membangun basis di Malangbong, laskar-laskar Islamis yang semangatnya melawan penjajah adalah bagian dari Jihad, membangun Daulah Islam dan Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Tragis memang. Perjuangan mempertahankan NKRI memakan anak-anaknya sendiri. Jejak-jejak perlawanan melawan penjajah yang peristiwanya banyak, yang punya banyak dimensi yang beranekaragam, dari sudut ruang dan waktu di berbagai wilayah itu, harus ditinjau dari berbagai macam sudut pandang. Biar kita kaya dalam menilai sejarah. Kita gali sejarah sedalam-dalamnya, seluas-luasnya, biar kita generasi sekarang ini mampu melihat begitu kayanya perjuangan bersejarah bangsa ini melahirkan Indonesia dan mempertahankannya.

Sejarah memberikan pelajaran pada kita tentang karakter dan perilaku manusia. Membekali kita bahwa ia akan terus berjalan bersama pergolakan-pergolakan masyarakat

Apakah kemudian pertanyaannya hanyalah: Siapakah yang paling berjasa dan siapakah yang layak dipahlawankan? Urusan itu bukanlah kepentingan saya. Kepentingan saya adalah belajar sejarah dari berbagai sumber, dengan menggunakan pikiran yang tidak melulu apa kata kekuasaan—apalagi kekuasaan yang terkenal memanipulasi sejarah. Sejarah memberikan pelajaran pada kita tentang karakter dan perilaku manusia. Membekali kita bahwa ia akan terus berjalan bersama pergolakan-pergolakan masyarakat karena berbagai kepentingan-kepentingan individu dan kelompok manusia yang diekspresikan—yang di antaranya bisa mempengaruhi perjalanan sejarah, baik dalam kekuatan kecil atau besar. Baik yang bisa dicatat dengan baik atau yang diabaikan—atau yang bahkan disembunyikan.

Siapapun yang telah berkorban mengorbankan harta, benda, dan nyawa dengan seungguh-sungguhnya dan seikhlas-ikhlasnya—Kalianlah pahlawan sejati! Meskipun kalian bahkan tidak sempat diangkat dalam sejarah…!

Pahlawan tidak semata berpihak pada yang menang atasnama selera istana. Beberapa tokoh masyarakat lain yang terdeteksi oleh istana, boleh jadi masih menyisakan aneka peran penting yang turut serta memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Oleh karena itu, jika tahu peran penting perjuangan ini, belajar sejarah kepahlawanan menjadi lebih longgar untuk bisa menemukan peran-peran penting membangun bangsa ini.

TANCEP KAYON!
Kaki Gunung Jabung, Trenggalek, 10/11/2019.