Orangtua di Desa, Jangan Pasrah “Bongkokan” pada Sekolah

0
148

Celakanya, masih ada juga orangtua yang anaknya terbelakang dalam belajar, tapi mencari solusi dengan dicarikan dukun. Anaknya nakal juga dicarikan dukun. (Mana ada dukun yang bisa mengobati anak nakal dan membuat anak pintar? Wong dukunnya saja gak perah ketemu anaknya).”

Suatu sore yang indah, meskipun hari mulai beranjak gelap. Sepulang dari kota Trenggalek menuju rumah yang ada di pinggir Gunung saya melewat perbatasan desa yang berupa “bulak” atau jalan yang kanan kirinya persawahan. Perbatasan desa Salamrejo dan Kedungsigit, Kecamatan Karangan (Kabupaten Trenggalek).

Tampak anak-anak usia SMP sedang berkerumun bersama sepeda motornya. Anak-anak itu, kira-kira jumlahnya ada delapan orang. Dari jauh jelas sekali bahwa mereka saya lihat sedang balapan motor. Semakin saya mendekat akan lewat, mereka menghentikan motornya bergerumbul. Tampak anak-anak berkulit hitam legam bertubuh kecil, berambut ala vokalis Kangen Band, sedang menikmati rokoknya.

Melihat anak itu menghembuskan rokok dengan wajahnya yang sombong, saya seperti melihat anak-anak itu mirip orang dewasa yang ada di sebuah casino tempat perjudian. Ada anak lain yang merokok, tapi tak bisa saya hitung karena saya lewat di atas motor saya yang hanya memberikan pandangan sekelebat. Fokus pada pandangan anak merokok yang rambutnya agak kemerahan itu, saya tak bisa mengamati semuanya karena gerak motor melaju.

Pertanyaan tentu saja muncul dalam hati saya: Anak orang mana mereka? Anak-anak di desa kami kah? Atau anak-anak dari desa sebelah?

Anak siapapun mereka, apakah bocah bocah usia di bawah tujuh belasan tahun itu tidak dicari oleh orangtuanya? Saya yakin tidak semua dari sekitar delapan anak itu adalah anak-anak yang tak punya orangtua. Katakanlah ada anak-anak yang orangtuanya meninggal, atau kedua orangtuanya cerai atau merantau (semisal jadi pekerja migran), tapi tentu tidak semua.

Kesimpulan muncul lagi di benak saya: ternyata masih banyak orangtua yang membiarkan anaknya tanpa kontrol. Tidak peduli anaknya bermain ke mana, dengan siapa, dan bagaimana permainan atau pergaulan membentuk cara berpikir dan tingkahlaku anak. Dan, di antara orangtua tipe ini, bahkan tak peduli “ngapain” saja anaknya jika tidak sedang bersamanya. Bahkan mungkin terbiasa dibohongi anak sudah biasa.

Pagi hari orangtua ini membangunkan anaknya untuk dimasukkan ke sekolah. Pokoknya sekolah. Sebab kalau tak sekolah, di rumah tak ada temannya yang sebaya. Sebab sekolah itu adalah tradisi yang harus diikuti. Bahkan tak sedikit orangtua yang tak peduli bagaimana anaknya di sekolah.

Yang penting lulus. Tak ada motivasi belajar di rumah. Bahkan ada orangtua yang anaknya tertinggal dalam hal belajar dan nilainya buruk, tidak masalah dan tak berusaha mencari solusi. Sekolah itu pokok dapat ijazah, lalu setelah itu kerja.

Ada orangtua yang melihat bahwa sekolah adalah lembaga yang secara total menganggap akan bisa memperbaiki anak. Mereka pasrah saja pada sekolah. Sedangkan pendidikan dalam rumah atau di luar sekolah tak begitu penting.

Sepulang sekolah, anaknya akan “dolan” entah kemana, orangtua inipun tak peduli. Kalau nilai anaknya buruk di sekolah dan anaknya “nakal”, bahkan tak pernah konsultasi dengan guru. Dan ketika anaknya terbelakang dalam hal belajar, iapun mengambil motivasi diri yang amat rendah: “Nyatu anakku ki keturunan e wong goblog… “.

Orangtua jarang yang tahu bahwa motivasi belajar itu lahir dari lingkungan, bukan takdir. Celakanya, masih ada juga orangtua yang anaknya terbelakang dalam belajar, tapi mencari solusi dengan dicarikan dukun. Anaknya nakal juga dicarikan dukun. (Mana ada dukun yang bisa mengobati anak nakal dan membuat anak pintar? Wong dukunnya saja gak pernah ketemu anaknya).

Anak-anak kita itu butuh lingkungan yang baik. Anak-anak tak bisa dibiarkan dengan teman-temannya tanpa kontrol. Apa kita pernah tahu apa yang diobrolkan anak-anak kita ketika kumpul bersama anak-anak yang lain. Apa mungkin sumber motivasi dan penambah wawasan anak kita adalah anak-anak lainnya.

Ya kalau mereka sedang bermain yang edukatif. Bagaimana kalau mereka saling bertukar obrolan-obrolan sekenanya yang justru merusak cara pandang mereka. Membiarkan anak berpikir liar tanpa pendampingan adalah hal buruk bagi anak. Anak memang punya dunianya sendiri, punya analisa-analisa dan pemahaman-pemahaman yang dikembangkan dari pikiran bawah sadar dan obsesi-obsesi infantilnya, tapi justru pendidikan adalah sarana mengarahkan naluri-naluri bertanya dan bepikir liar itu menuju suatu pemahaman yang terarah yang positif bagi perkembangannya.

Orangtua yang tak pernah mengontrol anaknya, yang hanya memasrahkan anaknya pada sekolah, dan tidak mengawalnya ketika mereka berada di luar sekolah, akan kehilangan harta yang berharga yang seharusnya dikawal, yaitu anak.

Orangtua yang tak pernah mengontrol anaknya, yang hanya memasrahkan anaknya pada sekolah, dan tidak mengawalnya ketika mereka berada di luar sekolah, akan kehilangan harta yang berharga yang seharusnya dikawal, yaitu anak. Tidak pernah memotivasi, hanya memarahi kalau anak salah. Tak memberi pemahaman pada anak… Berarti memang tidak memahami bahwa pendidikan paling penting adalah keluarga.

Pendidikan keluarga sebagai pilar perkembangan anak ini yang amat penting, yang masih belum banyak disadari oleh para orangtua. Penyadaran tentang pendidikan keluarga ini penting untuk secara massif dilakukan mulai dari basis terkecil kumpulan orang tua. Ibu-ibu yang berkumpul tiap minggu dalam Jamaah Yasin, harus menjadi sasaran penyadaran.

Pemerintah desa juga harus menjadikan isu anak ini sebagai kegiatan pemberdayaan dan penyadaran bagi para orangtua. Sebab, menyiapkan generasi dari desa itu penting untuk dilakukan. Masalah-masalah yang dialami anak banyak melanda di daerah pedesaan.

Belum lama, ada kasus yang ditangani Bidang Perlindungan Anak Pemda yang menemukan anak perempuan usia SMP mengirimkan foto bugilnya ke pacarnya. Ini terjadi di desa kita. Pertanyaannya: Apakah kita akan selamanya cuek pada anak kita, memahami cara komunikasinya dengan orang lain, memahami apa yang sedang dipikirkannya dan tingkahlakunya sehari-hari?

Kaki Gunung Jabung, Subuh Hari 24/08/2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here