Orang Tua Biologis Tidak Menentukan Faktor Kesuksesan Pembentukan Identitas Diri Remaja

0
372

Saat menguji skripsi, ada temuan sementara yang patut direnungkang. Terlepas dari sempurna dan belumnya metode yang diambil, bahwa peran orang tua sebagai faktor eksternal bisa digantikan oleh orang lain bagi pembentukan identitas diri.

Siapa orang lain itu ? Yakni orang tua angkat dan peran orang tua asuh di panti. Orang tua angkat yang berfungsi sebagai orang tua pengganti akan berkonstribusi terhadap pembentukan identitas diri remaja. Lebih spesifik, faktor tersebut berbentuk kuatnya pemenuhan dukungan emosional yang diterima oleh remaja tersebut.

Saya lantas berpikir dan mencoba melakukan pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan bukti yang berbobot dari penelitian ini. Yah, jikalau orang tua ditempatkan sebagai faktor eksternal dari pembentukan identitas diri, itu artinya bisa digantikan peran orang tua. Asalkan orang tua pengganti itu memerankan pengasuhan yang baik, maka anak-anak itu akan mampu menemukam identitas dirinya dengan baik pula.

Jadi, orang tua biologis tidak menjadi jaminan sebagai faktor pembentuk identittas diri anak ? Jelas tidaknya jati diri (identitas diri) anak tidak serta merta ditentukan adanya orang tua biologis karena yang berfungsi justru orang tua angkat dan berfungsinya pengasuhan dari orang tua pengganti di panti. Sayang, skripsi ini tidak terlalu kuat membuktikan temuan itu. Apalagi data kualitatifnya belum digali dengan data exhausted, khusus seperti apa fungsi orang tua pengganti ini.

Saya berandai-andai, mengapa kita perlu menyantuni anak yatim, lebih spesifik menjadi orang tua angkat bagi anak yatim. Berdasarkan logika di atas jika orang-orang terdekat anak yang mampu memerankan fungsi pengasuhan yang baik, khususnya mampu memberikan dukungan emosional maka orang-orang terdekat tersebuh benar-benar bisa menggantikan orang tua.

Artinya orang tua akan bermakna bagi anak dalam memberikan pembentukan jati diri bukan pada hubungan darah dengan anak (orang tua biologis) tetapi lebih pada pemberian fungsi psikologisnya, yakni berjalannya pengasuhan tersebut. Jadi pengasuhan itu dengan demikian bernilai netral. Siapapun bisa memerankan, tidak semata dibatasi oleh orang tua bilologis.

So. Jangan khawatir jikalau ada anak-anak yang hari ini banyak yang tidak lengkap orang tuanya, seperti anak yang lahir dari kehamilan tidak dinginkan maka dia akan menjadi baik jikalau ada peran pengganti yang mampu menumbuhkan fungsi psikologis pengasuhan. Jika demikian, masih ada solusi dalam menghadapi anak-anak yang ditinggal orang tuanya atau anak-anak yang mengalami diskriminasi dan korban.

Dan logika ini menjadi peringatan penting bagi orang tua biologis, tidak cukup memberikan garansi bahwa kita sebagai orang tua biologis akan menjamin anak bisa tumbuh identitias dirinya baik mana kala secara psikologis orang tua biologis tersebut tidak menjalankan peran-peran pengasuhan, utamanya kemampuan memberikan dukungam sosial yang baik.


Rabu, 14.56 WIB. Live dari dalam ruang ujian Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Tulisan di atas sebatas opini penulis dan pandangam pribadi sesaat setelah menguji skripsi atas nama Rizda Armi Mitasari, 2017, Strategi pembentukan identitas diri remaja di Panti Asuhan Putri, Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here