Omah Hijau, Sebuah Semangat Dalam Hidup Berkeluarga

0
214

“Bagaimana caranya ikut komunitas Omah Hijau?”

“Produknya Omah Hijau apa saja? Omsetnya berapa?”

Dua buah pertanyaan, serta beberapa lainnya yang senada, kerap ditujukan kepada kami, saya dan suami. Biasanya kami hanya menjawab dengan seulas senyuman.  Lalu, apa makna Omah Hijau? Rumah yang dicat hijaukah? Jawaban itu agak tepat, sesungguhnya.

Pertanyaan itu mengingatkan saya pada lahirnya semangat Omah Hijau, di awal kami menempati rumah sendiri.

Kira-kira lima tahun yang lalu, kami diijinkan-Nya untuk memiliki rumah. Rumah sendiri, bukan kontrakan. Ketika menyiapkan rumah tersebut, hal pertama yang langsung terpikirkan adalah tempat untuk menanam aneka tanaman dan sayuran.

Bagi saya, kegiatan berkebun sayur secara organik adalah suatu keterampilan yang terbilang baru. Sebelumnya hanya sekadar pengetahuan yang diselingi rasa penasaran dan keinginan kuat untuk bisa –suatu waktu nanti- menikmati bahagianya panen sayuran sehat.

Dan saat bahagia itu akhirnya datang, tatkala sungguh-sungguh bisa menyaksikan proses tumbuhnya aneka sayuran, dari lahan yang amat sempit di rumah kami. Seperti menang undian ratusan juta. Sayuran yang tumbuh subur menjadi sarana ‘cuci mata’ bagi tetangga yang melewati rumah kami. Mereka pun bisa turut mencicipi hasil panennya.

Secuil keberhasilan itu, menjadi semacam euforia yang selanjutnya melahirkan semangat untuk melakukan langkah lain, yang bisa kami lakukan, untuk menjaga dan merawat lingkungan hidup. Langkah satu dilanjutkan langkah lainnya. Dimulai, ditekuni, dan dinikmati sendiri. Tanpa keramaian.

Lalu lahir sebuah keinginan untuk membagikan semangat ini, semacam ‘virus’ peduli lingkungan yang bisa dilakukan secara sederhana dari rumah sendiri. Dan, media sosiallah yang dijadikan sebagai sarana. Bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk berbagi semangat dan pengalaman.

Pertanyaan yang muncul kemudian, diberi nama apakah ruang untuk berbagi itu? Dan tercetuslah nama Omah Hijau.

Keberanian melahirkan sebuah nama, tentu tidaklah boleh mengabaikan makna dan semangat yang mengiringinya. Ya. Seketika itu pula, saat menjadikan rumah kami sebagai Omah Hijau, kami berupaya untuk menghidupi segala aktifitas di rumah pada rasa cinta kami pada ibu bumi.

Upaya itu tentu tidaklah seringan mengayunkan langkah kaki. Bahkan, sejatinya menjadi awal bagi kami untuk bereksplorasi –mencari tahu, mencobanya, mencari tahu lagi- terkait tindakan peduli lingkungan dari rumah sendiri. Pun belum sempurna adanya, hingga hari ini. Tetapi nama “Omah Hijau” yang telah kami pilih, bahkan sekarang mulai dikenal di media sosial, selalu menjadi pemantik dalam helaan nafas kami untuk memikirkan dampak tindakan kami bagi lestarinya ibu bumi.

Tatkala ada lontaran terucap, “Kenapa bersedia melelahkan diri untuk lingkungan hidup? Hasilnya tidak akan nyata. Apalagi jika hanya secuil tindakan dari rumah.” Inilah semangat yang selalu kami katakan dan bagikan, “Kami sudah terlalu banyak meraup kenikmatan dari semesta ini, bahkan memperkosa ibu bumi. Maka saatnyalah, meski lewat tindakan sederhana, kami mengasihi ibu bumi dengan mengurangi beban deritanya.”

Kristien Yuliarti. Penggagas Omah Hijau dan Motivator untuk reproduksi pembelajaran ramah lingkungan Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here