Narasi Alternatif Masjid yang Terkubur

0
146

Saat kecil menginjak remaja, masjid menjadi bagian dari rumah kedua. Saban malam kami saling bertemu di masjid dan menghabiskan mimpi di dalam masjid. Saya mendengar aneka kisah-kisah sempalan yang membekas. Masjid tempat storytelling, mengisahkan pengalaman atau fiksi di luar ubudiah. Di pojok dan sisi pinggir, masjid menjadi reproduksi kisah-kisah imajiner seputar perdemitan. Asyik dan bikin rindu akan suasana masjid yang lebih longgar dimaknai.

Kampusdesa.or.id — Di sudut masjid itu bergerombol anak-anak berkalung sarung. Semua kewajiban solat sudah diikuti dengan baik, atau bahkan kurang baik. Meskipun begitu, kurang baiknya tidak mereka pikir panjang karena mereka anggap sebagai kesenangan. Anak-anak ini tak tanggung karena masjid seperti rumah keduanya. Anak-anak ini mulai memojok bergerombol, mencari tempat yang istimewa.

Nampaknya bukan ingin mengaji membaca Alquran, tetapi mojok untuk memasrahkan menjadi audiens penceramah. Seusai solat, penceramah itu mendekati bocah yang bergerombol berkalung sarung dan terkesan ingusan. Terkesan bocah-bocah itu rindu dengan penceramah lokal itu.

“Bagaimana le, kabarmu, sudah makan kan.”

“Sudah pak,” sahut bocah itu dengan cepat yang seolah ingin mempercepat pembicaraan. Bocah-bocah ini tidak ingin pertanyaan itu sebagai basa-basi. Mereka hanya ingin ceramah itu yang segera didengar. Wow, sepertinya mereka sangat antusias. Taat betul bocah ini.

Sosok bapak ini mencoba berdialog ringan untuk masuk dalam sesi ceramahnya. Dia tidak ingin langsung masuk ke inti ceramah. Padahal bocah-bocah ini super menahan agar tidak ada basa-basi, tetapi bapak ini harus menerapkan situasi agar si bocah tersebut dipastikan punya perhatian, sehingga isi ceramahnya tidak ingin lepas dari perhatian.

Setelah terjalin komunikasi dan perhatian, bapak ini langsung memulai ceramah.

Namanya anak-anak, ternyata bapak tersebut justru mendakwahkan sebuah cerita.

“Saya itu pernah berjalan malam dalam kegelapan. Hanya berdua dengan pak Rido. Waktu itu saya melewati sebuah jalan yang disamping kiri kanan jalam sebuah tegal yang sepi. Jarak tegal itu kira-kira 200 meter baru ada rumah. Kira-kira ada di sekitar rumahnya pak Sonan.”

Suasana menjadi hening, Bocah-bocah itu mengencangkan sarungnya. Ada yang bergeser merapat ke teman sebelahnya. Ada yang menyangga dagu. Semua hanya terpana menatap bapak yang sedang bercerita itu. Tidak ada suara. Hanya suara jangkrik yang terdengar. Maklum, di masjid desa itu memang sudah sepi kalau sudah selesai solat isya’. Hanya jeritan bocah-bocah itu saja yang menjadikan masjid lebih hidup saat malam hari.

“Saya kaget dan terdiam le,” lanjut bapak itu menyambung ceritanya.

“Dalam kesunyian dan kegelapan itu, sayup-sayup ada suara dokar dan kaki kuda. Saya terdiam dan berjalan pelan di samping pak Rido. Tapi pak Rido seolah tak mendengar dan santai saja jalannya. Tidak memperlambat jalan. Sementara saya agak tertinggal di belakang. Saya aneh saja rasanya. Mana mungkin malam begini ada dokar dan kuda berjalan di malam gulita begini,” gumam bapak ini sembari menurunkan suaranya ketika bercerita di hadapan bocah-bocah tersebut. Bocah-bocah itu semakin merapat karena merasa suara dokar itu ada di sekitarnya karena memang di masjid ini sudah sepi. Seolah malam semakin mencekam. Tak ada yang bersuara.

Bapak ini melanjutkan ceritanya. “Saat saya semakin tertinggal langkah dengan pak Rido, dokar dan kuda itu mendskat dan semakin nyata di pandangan saya. Semakin dekat saya semakin terasa aneh dan penuh ketakutan. Sementara pak Rido mencuekin saya hingga jarak saya dengannya kira-kira 10 meter.”

“Bulu kuduk saya merinding. Meski tidak befitu jelas, suara dokar dan kuda semakin dekat dari arah belakang. Semakin dekat di belakang saya. Saya tidak berani menoleh saking takutnya. Perlahan dokar dan kuda iti melintasi saya. Saya tercengang dan tidak bisa bicara apa-apa. Dokar dan kuda itu menyalip saya tetapi saya merasa aneh. Seharusnya dokar itu kan ada kusirnya. Tetapi kok dokar ini tanpa kusir. Meski terlihat remang-remang karena memang di desa ini belum ada listrik, maka dokar itu tidak begitu kelihatan. Cuma ada penerangan di dokar itu yang juga remang-remang. Tetapi saya yakin jika dokar itu melaju tanpa kusir.”

Bruak. Bocah-bocah itu kaget dan saling merapat, dan ada yang berpelukan, ada yang tengkurap dengan sarungnya. Suara kursi yang jatuh karena didesak oleh salah satu bocah yang agak ketakutan.

“Sudah-sudah, begitu saja kok takut,” sahut bapak sembari melanjutkan cerita.

Setelah dokar itu berlalu. Saya mendekati pak Rido dan bertanya pak Rid, kok bapak ini santai dan meninggalkan langkah saya. Eh pak, itu tadi dokarnya siapa kok tidak ada kusirnya. Malam begini mau kemana,” sahut saya lirih sambil memegang lengan pak Rido sembari berjalan lebih cepat.

“Itu tadi hantu dokar (medi dokat),” sahut pak Ridho yang sudah sering ditemui medi dokar di jalan tersebut.

‘Saya semakin ngeri mendengarnya. Saya akhirnya lari meninggalkan pak Ridho untuk segera pulang ke rumah duluan,” sembari bapak ini mengakhiri cerita. Sudah ya tidur sana, seru bapak penceramah ini ke bocah-bocah tersebut yang setiap malam tidur di masjid tersebut.

Penceramah itu bernama bapak Ahad. Sia ramah pada anak-anak yang suka tidur di masjid. Pak Ahad sangat senang dengan anak-anak yang menyukai tidur di masjid. Pak Ahad adalah bagian dari narator handal tentang perhantuan di masjid ini. Dia dikenal sebagai penceramah hantu. Dia memang sangat peduli pada anak-anak di masjid ini sehingga dia memikat anak-anak ini bukan hanya dengan aneka instruksi mengaji, tetapi dia warnai kegembiraan bocah-bocah itu dengan aneka cerita tentang dirinya.

Pak Ahad menjadi populer dan sisukai narasi-narasi horornya oleh anak-anak. Sebuah ceramah alternatif yang dirindukannya dari kejenuhan mengaji dan beribadah mahdah di masjid Al Anshori. Pertanyaannya, apakah kisah di sudut masjid ini masih hidup sekarang di tengah masjid yang bergerak semakin tertutup? Apakah ruang narasi alternatif tersebut masih hidup hingga sekarang, yang dulu di antara spirit lain masjid dihidupi oleh story telling lokal yang melengkapi daya pikat anak-anak seamngat bermalam di masjid.

Entahlah. Bagi saya, cerita tersebut menjadikan saya sendiri mengingat bagaimana kehidupan saya di masjid saat kecil dulu memberikan kesan masjid menjadi rumah kedua saya, bagian mendapatkan pengakuan sosial pertemanan dan tempat belajar saya membangun kisah hidup, tidak hanya ikhwal solat dan mengaji. Saya menemukan seni terhubung dengan orang lain.

Apakah narasi masjid ini sudah terkubur? Saya kira evolusi budaya dan pola Islamisme yang lebih eksklusif semakin meminggirkan narasi tersebut. Bahkan saat masjid tidak lagi menjadi rumah kedua bagi anak-anak, niscaya daya tarik eksotis ala desa tersebut-pun tidak lagi bisa hidup di masjid, karena, barangkali, sudah banyak tulisan di berbagai masjid bertuliskan, “dilarang tidur di dalam masjid.”