Munggahan Di Rumah Sakit

0
62

Tidak banyak orang yang tahu bagaimana suka dukanya menjadi bagian dari tenaga kesehatan. Saat itu kami tengah mengadakan acara Munggahan di Rumah Sakit, namun lagi-lagi ada saja yang menggelitik hati kami. Salah satu pasien yang rewel membuat kami geleng-geleng kepala, bahkan saat dia memilih sendiri bagian mana yang harus diinfus.

KampusDesa–Salah satu keluarga pasien datang ke tempat Nurse Station. Berharap ada perawat yang melihat dirinya dan mengakui keberadaanya. Harapannya sesuai, perawat yang berada tepat di depannya bertanya, “Ada apa Bu?”

“Suami saya kan udah boleh pulang ya, Sus. Boleh dilepas infusannya?”

“Oh ya.. Sebentar ya, tunggu Administrasinya, kalau semua berkas sudah rapi, baru kami lepas ya Bu.” Jelas perawat dengan senyum manisnya.

Ibu itu berlalu meninggalkan tempat berdirinya. Tak lama perawat lelaki mengajak Suster untuk masuk ke dalam, karena makanan telah siap di santap.

“Kak, makan yuk. Ayo cepat.” Ajaknya

“Ayo bro, pasien sudah diamankan.”

Keduanya saling membalas senyum. Perawat lelaki masuk ke dalam kamar yang di dalamnya berisi kepala ruang inap, rekan-rekan teman sejawat dan sebagian makanan yang berada di tengah-tengah kumpulan orang. Sedangkan suster menuju wastafel untuk mencuci tangan sebelum makan. Setelah selesai, baru beberapa langkah meninggalkan wastafel, salah satu keluarga pasien kembali datang dan membutuhkan bantuan.

“Sus, infusannya habis.” Kata lelaki muda dengan wajah datar

“Matiin saja dulu ya, nanti kami ganti, lagi pada mau makan soalnya.”

Kemudian lelaki itu berlalu dengan wajah datarnya.

kebersamaan ketika di Rumah Sakit

Tatkala sang suster baru menempelkan pantatnya ke lantai, lagi-lagi seorang keluarga pasien datang.

“Ada apa, Bu?”

“Eh nggak jadi, ya udah susternya lagi pada makan dulu, gapapa, maaf ya.”

###

“Wah, keluarga pasien siapa tuh? Coba kalau semua pasien kaya begitu.”

Suasana pecah dengan gemuruh tawa yang saling susul menyusul.

“Iya yah bener, ih aku mah masih kesel bae tau sama pasien yang cuci darah tuh.”

“Oh yang bawel banget ya?”

“Iya, apa coba. Kan aku tuh mau nginfus ya, eh masa dia bilang begini, sus di sini aja ya.

Aku jawab iya, sebentar ya Bu, kita cari dulu pembuluh darahnya. Nah pas aku cari kan nggak ada, akhirnya aku dari di tempat lain.

Eh dia ngomong lagi begini, sus di sini aja, kalau di tempat lain mah sakit. Okeh dua kali ya, kataku dalem ati, sabar.. sabar..

Karena aku diemin ya, eh dia ngomong lagi bae, katanya gini, sus di sini ni, jangan di situ. Udah hilang tuh kesabaranku, aku langsung jawab aja begini, ya udah kalau begitu ibu aja yang nginfus, ni alatnya, sok atuh infus sendiri ya, kan ibu yang lebih pinter.

Eh dia narik-narik tanganku, ih suster kok marah sih, iya deh iya di infus di mana aja deh, terserah suster.

Akhirnya aku bilang begini, ya udah atuh ibunya diem jangan bawel, udah tenang aja, saya paham ibu panik. Tapi kalau begini caranya membuat kerjaan kami nggak selesai-selesai.

Terus katanya, eh iya deh sus iya, maaf ya”

Semuanya tertawa, entah menertawakan orang yang membawakan ceritanya atau pada ceritanya. Namun, seorang perawat lelaki langsung memimpin doa sebelum makan.

Editor: Haniffa Aulia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here