Mundurnya Belva dan Potensi Politik Milenial

0
93
belva, milenial, staf khusus
Sumber gambar: https://www.instagram.com/belvadevara/

0Shares
0

Mundurnya Belva Devara ini membuat pertanyaan baru. Bisakah milenial yang ditulis oleh Raka Ibrahim sebagai generasi yang kelewat serius memandang diri sendiri, optimistik, dan berjarak dari kenyataan sehari-hari masyarakat itu bisa memberi kontribusi positif dan signifikan dalam pemerintahan. Belva bisa dikatakan mewakili generasi ini.

Kampusdesa.or.id–Untuk kesekian kali, Istana mendapat perhatian publik. Belva Devara, salah satu Staf Khusus Presiden resmi mengundurkan diri. Hal itu bisa dilihat dari unggahan akun Instagramnya yang menyatakan dirinya mengajukan pengunduran diri dalam bentuk surat kepada Presiden tanggal 15 April lalu.

Mundurnya Belva Devara ini membuat pertanyaan baru. Bisakah milenial yang ditulis oleh Raka Ibrahim sebagai generasi yang kelewat serius memandang diri sendiri, optimistik, dan berjarak dari kenyataan sehari-hari masyarakat itu bisa memberi kontribusi positif dan signifikan dalam pemerintahan. Belva bisa dikatakan mewakili generasi ini.

Pengakuan Belva yang tidak diajak dalam proses penunjukan Mitra Pelatihan program Prakerja memantik kegaduhan. Hal ini yang membuat publik kuatir adanya konflik kepentingan. Seperti diketahui, Belva Devara masih menjabat CEO Ruangguru, salah satu Mitra Pelatihan yang ditunjuk pemerintah dalam program kartu Prakerja. Dua jabatan itu masih dijabat Belva dalam waktu yang sama. Publik beranggapan ada peluang agar perusahaan yang dimilikinya mendapat keuntungan dari penunjukan langsung tersebut.

Banyak tulisan berseliweran di media daring maupun luring tentang milenial dan politik. Evio Tanti Nanita pernah membahas tentang pergumulan generasi baby boomers dan generasi milenial dalam bidang politik. Saat ini, bisa dikatakan secara umur memang sudah saatnya generasi milenial memegang posisi strategis dalam sebuah organisasi, dan tinggal menunggu waktu bagi mereka untuk mencapai posisi teratas.

Pergumulan dua generasi diatas menarik untuk diselami lebih dalam lagi. Selama ini generasi boomers dianggap lamban atau tidak responsif, cenderung tertutup, tidak menyukai perubahan mendadak meski kadang matang dalam mengambil keputusan. Generasi itu berhadapan dengan milenial yang suka perubahan, cepat beradaptasi, ekspresif meski terkesan indivisualistis.

Saat kaum milenial itu mencoba masuk dalam posisi strategis bahkan teratas, mereka akan menghadapi tantangan dari generasi boomers. Generasi yang mempunyai gaya kepemimpinan dan cara penyelesaian solusi yang sangat berbeda dengan kaum milenial. Pada titik ini kemampuan milenial mendapat ujian serius.

Bila boomers harus dibilang legowo agar memberi peluang kepada milenial untuk menduduki posisi strategis, maka hal itu perlu mendapat koreksi. Kasus Andi Taufan Garuda Putra, salah satu Staf Khusus Presiden yang sempat berkirim surat berkop Sekretariat Kabinet (Setkab) Republik Indonesia kepada camat di Indonesia bisa dijadikan bahan pertimbangan. Surat tersebut menimbulkan kontroversi karena dianggap maladministrasi. Selain itu, teknis penulisan dalam surat itu mendapat kritikan tajam dari warganet.

Akhirnya Andi Taufan Garuda Putra meminta maaf serta mencabut surat diatas. Namun ia mencabut surat resmi berkop Sekretariat Kabinet (Setkab) Republik Indonesia dengan surat biasa, tanpa menggunakan kop apapun, alih-alih kop resmi milik negara. Hal ini menyisakan kegaduhan baru di masyarakat bahkan pejabat publik lainnya pasca keributan yang telah dia buat sebelumnya. Soal sanksi dan program yang ia buat pun belum ada kejelasan hingga saat ini.

Publik sempat memberi perhatian pada optimisme milenial. Optimisme itu seakan jadi ciri khas milenial saat ini. Namun rasa optimis itu sering dibarengi dengan perasaan merasa terpanggil untuk berkontribusi bagi bangsa dan menginspirasi kawula muda. Rasanya, itu sebuah ungkapan klise seperti janji calon wakil rakyat yang terpasang di banner atau baliho pada masa kampanye pesta demokrasi.

Profil Generasi Milenial Indonesia terbitan Komisi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak membagi pola pikir kelompok milenial dalam tiga tipe, yaitu tipe apatis bagi mereka yang alergi terhadap politik, bahkan menarik diri dari proses politik yang ada; tipe spektator, bagi mereka yang kurang tertarik dengan politik, tetapi masih kerap menggunakan hak pilihnya; dan tipe gladiator, yakni yang sangat aktif dalam politik (seperti aktivis partai, pekerja kampanye, dan aktivis organisasi).

Dari laporan diatas, kecenderungan kaum milenial Indonesia saat ini apatis namun kritis. Mereka berusaha berjarak dari politik namun tetap berupaya memberi partisipasi. Bentuk partisipasi mereka banyak berupa perbincangan di media sosial atau ikut mengisi petisi dalam isu-isu politik terkini. Hal ini menunjukkan bahwa milenial Indonesia berupaya mempengaruhi suatu kebijakan lewat penggunaan media sosial.

Melihat fenomena Belva dan Andi diatas dan laporan Komisi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak agaknya perlu dikaji ulang. Utamanya tentang potensi milenial dalam dunia politik saat ini. Satu sisi milenial punya peluang merubah wajah politik saat ini, sisi lainnya milenial perlu belajar banyak tentang bagaimana merumuskan kebijakan yang berdampak positif bagi khalayak umum.

Baik boomers maupun milenial punya keunggulan masing-masing. Satu sama lain bisa menjalankan fungsi mereka dalam level teratas kepemimpinan. Bila berjalan beriringan, diharapkan muncul kebijakan-kebijakan yang lebih inklusif sesuai kecakapan masing-masing.