Muhasabah Diri Di Bulan yang Suci

0
257

“Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka teruslah beribadah dengan sebaik-baiknya, karena Dia melihatmu” (Imam Nawawi).

Alhamdulillah, tidak terasa kita sudah melewati sepuluh hari pertama bulan Ramadan, tepatnya sudah memasuki separuh bulan Ramadan tahun ini. Hari demi hari tentunya kita lalui dengan berusaha untuk senantiasa mengantongi sedikit demi sedikit butiran cinta dari-Nya. Sudah selayaknya menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk memaksimalkan ibadah kita di bulan suci nan berkah ini. Akankah kita melewatkan ladang amal yang begitu lapang atau akan menanam seribu kebajikan dengan sebanyak-banyaknya. Semua pilihan ada di tangan kita.

Akan sangat disayangkan sekali jika kita tidak bisa bermuhasabah diri di bulan yang mulia ini. Muhasabah ialah introspeksi, mawas, atau meneliti diri. Yakni menghitung-hitung perbuatan pada tiap tahun, tiap bulan, tiap hari, bahkan setiap saat. Oleh karena itu muhasabah tidak harus dilakukan pada akhir tahun atau akhir bulan. Namun perlu juga dilakukan setiap hari, bahkan setiap saat (Syukur, 2006). Pada intinya, muhasabah diri adalah bagaimana cara kita menelaah diri kita sendiri terhadap segala yang kita lakukan selama ini.

Seringkali kita berfikir orang lain lebih rendah dari kita padahal kita tidak pernah tahu bagaimana kedudukannya di hadapan Tuhan

Instropeksi diri tentunya bukanlah hal yang mudah, apalagi jika ‘ego’ dalam diri masih sepenuhnya berkuasa. Dengan mudahnya, kita bisa menilai orang lain tidak baik, orang lain lebih rendah daripada kita, padahal kita tidak pernah tahu bagaimana posisi kita sendiri di hadapan Sang Maha Pemilik Hati.

Menjelang hari-hari terakhir di bulan penuh berkah ini, tidak ada salahnya jika kita memaksimalkan ibadah kita yang hanya bisa kita lakukan pada bulan ini. Selain itu, di bulan suci ini tentunya Allah membuka pintu maaf seluas-luasnya. Alangkah baiknya jika kita bisa bernaung di dalamnya tanpa ada rasa gundah. Muhasabah diri tentunya memiliki banyak sekali manfaat. Diantaranya adalah kembalinya seluruh jiwa dan raga pada satu titik yaitu Tuhan. Jika kita sudah berada pada satu titik itu, maka tiada lagi yang perlu kita banggakan, karena kita hanyalah sebuah debu di padang pasir.

“Tanda taubat adalah bersedih dengan maksiat yang pernah dilakukan, khawatir terjerumus dalam dosa yang sama lagi, menjauhi teman yang buruk dan bergaul dengan teman yang baik.” ( Syaqiq Al-Balkhiy )

Apalah arti diri ini di hadapan Dzat Semesta Alam? Apalah daya diri ini di hadapan dengan Dzat Yang Maha Segalanya? Lalu masih pantaskah kita berjalan di muka bumi ini dengan keadaan sombong? Semua kembali pada diri kita sendiri. Namun akankah kita harus menunggu waktu taubat pupus hingga nestapa hati menjadi sirna? Tidak bukan? Karenanya, di bulan suci penuh berkah ini, marilah kita bermuhasabah diri dengan memohon keselamatan, keberkahan, dan kebahagiaan dunia akhirat. Amin.

Saatnya kita menghapus perlahan segala gejala yang mungkin bisa menjadi penyakit hati bagi kita semua. Candra Malik, dalam salah satu taujihnya menjelaskan bahwa tujuan berpuasa dalam Surat Al-Baqarah adalah la’allakum tattaqun, agar kamu bertaqwa. Lantas selama ini sudah berapa kali kita melewati bulan Ramadhan? Sudahkah kita mencapainya? Siapa yang paling tahu jawabannya melainkan diri kita sendiri? Wallahu a’lam bisshowab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here