Moving Class dan Outing Class: Alternatif Efektif Pembelajaran Aman Saat Belajar Bersama COVID-19

1
278
Peserta Didik Sekolah Garasi Menikmati Outing Class (Sumber: shorturl.at/ipVX5)

0Shares
0

Belum kunjung meredanya pandemi COVID-19, membuat kita mau tidak mau harus beradaptasi. Kita harus mulai terbiasa hidup berdampingan dengan COVID-19. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan. Menyelenggarakan proses pembelajaran yang aman menjadi kebutuhan yang tak terelakkan saat-saat ini. Moving Class dan Outing Class laik untuk diketengahkan sebagai solusi. Sehingga, meski di tengah Corona, pembelajaran tetap tak kehilangan makna.

Kampus.or.id-Berdasarkan kajian ilmiah, tampaknya kita memang harus hidup berdampingan dengan COVID-19. Mahluk Allah yang satu ini memiliki sifat yang tidak dimiliki saudara-saudaranya di keluarga Virus, bahkan di keluarga kecilnya Virus Corona. Sebenarnya mortalitas akibat serangan ini akan kecil bila tubuh memiliki ketahanan tubuh dan imun yang tinggi. Bahkan, angka kesembuhan juga tinggi, banyak kasus tanpa diobatipun bisa sembuh sendiri bila ketahanan tubuh kita tinggi, baik dilihat dari ketahanan fisik maupun ketahanan kekebalan terhadap virus. Namun, daya sebarnya yang sangat cepat menjadikan serangan ini seperti tsunami yang meluluhlantakkan semua yang dilewati. Baru kali ini ada pageblug yang bisa menyerang 4 juta lebih penduduk dunia dan menyebabkan kematian ratusan ribu dalam jangka waktu hanya 4 bulan lebih beberapa, mulai awal Januari sampai Mei 2020.

Di sisi lain, dalam bidang pendidikan, telah kita alami bersama, bagaimanapun pembelajaran jarak jauh (distance learning) tidak akan bisa menggantikan sepenuhnya pembelajaran tatap muka, khususnya untuk tingkat PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Hal ini diperparah dengan kondisi topografi geografi serta tingkat kemajuan yang beragam sehingga bila kita teruskan hanya belajar dari rumah maka pembelajaran tidak akan berjalan dengan efektif.

Atas dasar itulah maka Pemerintah berencana membuka kembali sekolah konvensional Juli mendatang. Pertanyaannya, sudah siapkah kita?

Guillemet-04 - Veillées pour la VieKita harus merombak hidup dengan pola kehidupan baru, yang sama sekali berubah dibanding dengan pola kehidupan yang selama ini kita lakukan

Untuk bisa melaksanakan pembelajaran yang aman maka seperti yang diviralkan pemerintah dan ilmuwan, kita harus merombak hidup dengan pola kehidupan baru, yang sama sekali berubah dibanding dengan pola kehidupan yang selama ini kita lakukan, atau lebih dikenal dengan jargon “NEW NORMAL.”

Seperti yang sudah saya paparkan, syarat untuk bisa hidup berdampingan dengan COVID-19, pertama kita harus memiliki kesehatan yang prima. Kedua, kita harus menjaga jarak, dan ketiga kita berperilaku sehat.

Syarat ketiga, yaitu berperilaku sehat saya uraikan dulu karena ini yang paling mudah dilakukan. Menyediakan tempat cuci tangan dan memakai masker bisa dilakukan meski di daerah-daerah sulit air di musim kemarau yang diramalkan lebih kering di tahun 2020 ini menyediakan air cuci tangan di beberapa daerah akan menghadapi kesulitan. Ketentuan yang membolehkan penggunaan dana BOS untuk pengadaan sarana cuci tangan memudahkan sekolah untuk menyediakan sarana kebersihan ini seperti masker dan sarung tangan untuk anak, cairan hand sanitizer, lap bersih dan sabun disinfektan.

Guillemet-04 - Veillées pour la Vie

Sekolah harus menyiapkan kembali ruang UKS yang memenuhi standar untuk penanganan anak sakit, terutama COVID-19, termasuk juga APD saat melayani anak yang sakit. Gurupun harus dilatih untuk penanganan pertama COVID-19

Sekolah juga harus menyediakan temp-gun, alat untuk mengukur suhu tubuh yang harus dilakukan pada saat penyambutan anak di pagi hari dan kondisi situasional dimana ada anak yang paginya sehat siangnya suhu tubuhnya meningkat. Karena itu, sekolah harus menyiapkan kembali ruang UKS yang memenuhi standar untuk penanganan anak sakit, terutama COVID-19, termasuk juga APD saat melayani anak yang sakit. Gurupun harus dilatih untuk penanganan pertama COVID-19

Masalah menjaga agar anak-anak memiliki kesehatan yang prima ini, selain menyangkut masalah kemampuan ekonomi juga pola kebiasaan makan di keluarga anak. Di Sekolah Garasi, paguyuban wali siswa menyediakan snack sehat dan makan siang anak tidak menjadi masalah karena bisa dikelola secara sehat oleh wali siswa. Namun, untuk sekolah yang membiarkan anak-anak jajan sesukanya, akan kesulitan menyediakan makanan sehat untuk anak. Penyediaan makanan oleh kantin sekolah yang dikelola oleh paguyuban orangtua siswa merupakan jalan keluar yang baik.

Baca Juga:

Masalah yang paling berat dalam menyelenggarakan pembelajaran yang aman adalah menjaga jarak fisik antar anak. Dalam pembelajaran konvensional, satu kelas biasanya terdiri dari sekitar 30 an anak dan duduk di kursi dan meja siswa yang tertata rapi dan rapat. Untuk menjaga jarak fisik anak dengan menyediakan ruang kelas baru dalam waktu ini adalah tidak mungkin.

Untuk memenuhi syarat menjaga jarak ini maka pola pembelajaran harus diubah dengan mengatur pola duduk anak. Pertanyaannya, untuk sekolah yang memiliki ruang terbatas bisakah dilakukan?Terutama untuk sekolah-sekolah dengan gedung bertingkat yang membuat space anak sangat terbatas.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Guillemet-04 - Veillées pour la Vie

Sekolah Garasi dari dulu sudah menerapkan Merdeka Belajar dengan konsep belajar itu bisa dimana saja dan kapan saja

Insyaallah meski Sekolah Garasi memiliki keterbatasan “ruang kelas” tetapi tidak mengalami kesulitan, karena Sekolah Garasi dari dulu sudah menerapkan Merdeka Belajar dengan konsep belajar itu bisa dimana saja dan kapan saja. Dengan saat ini memiliki 260 lebih siswa tahun ajaran depan, dengan 24 guru dan rombel yang fleksibel, tidak mengalami kesulitan, dengan melakukan kegiatan belajar secara moving class.

Sebagian anak belajar di ruangan dan sebagian di luar ruangan (outing class). Belajar di luar ruangan (outing class) bisa dilakukan di halaman, di bawah pohon, di obyek-obyek belajar di kampung dan lokasi-lokasi di mana anak bisa belajar secara aman dan nyaman. Dengan demikian, jarak antar anak saat pembelajaran bisa diatur sesuai SOP penanganan belajar bersama COVID, minimal jarak antar anak 1,5 – 2 meter.

Masalahnya, kebanyakan dari kita sudah terbiasa menerapkan pembelajaran dengan fixed class, bukan moving class yang anak bisa belajar di mana saja, sulit mengubah pola kebiasaan dengan merdeka belajar di mana saja. Inilah tantangan kita yang terberat di dunia pendidikan kita. Bila intensitas dan potensi serangan COVID-19 seperti saat ini, maka pembelajaran fixed class dengan tempat duduk yang rapat dan mengabaikan jaga jarak fisik, maka akan terjadi outbreak serangan COVID-19 di sekolah-sekolah kita.

Akahkah kita korbankan anak-anak kita? Mari, mumpung sekolah belum masuk, kita rancang pembelajaran yang aman, nyaman, dan efektif untuk anak-anak kita.

1 KOMENTAR

Comments are closed.