Motivasi Tetap Segalanya Bagi Pencari Beasiswa LPDP

0
252

Memiliki wawasan mendapatkan beasiswa menjadi modal penting bagi calon sarjana yang ingin melanjutkan studi S2 atau S3. Wawasan tersebut dapat dijadikan pertimbangan untuk mengukur kualifikasi kita secara mandiri apakah sudah sesuai kriteria atau perlu membenahi diri agar mendekati kriteria yang diinginkan oleh pemberi dana (sponsor).

Memahami kebutuhan para pemburu beasiswa, Sabilillah Enterpreneur Institute (SEI) memfasilitasi dengan menjembatani komunikasi antara pemburu beasiswa dengan orang-orang yang sukses mendapatkan beasiswa. Atika Mustaghfiroh selaku penggagas dari SEI telah berbagi untuk memudahkan pemburu beasiswa berkomunikasi langsung dengan penerima beasiswa melalui Kuliah Online Beasiswa (KulOnBe), dia mengatakan,
“Mengapa ada KulOnBe ? arena kami melihat banyak potensi yang dimiliki generasi bumi pertiwi, namun kadang kurang informasi. Untuk itu KulOnBe hadir sebagai solusi, apalagi anak yang jauh dari jangkauan Sosialisasi Beasiswa yang Offline.”

Kuliah Online Beasiswa sudah usai diselenggarakan menggunakan layanan group whatsapp pada Rabu 31 Mei 2017. Kuliah ini diikuti oleh 200 peserta yang terdaftar secara online. Saya sedikit berbagi apa saja tips yang disampaikan narasumber terkait modal bagi pemburu sukses beasiswa.

Narasumber pertama berasal dari awardee yang masih aktif kuliah menyelesaikan Ph.D (setingkat kuliah S-3) di Universitas Tempare negara Finlandia, bernama Satia P Zen.

Satia menuturkan, tips pertama yang perlu dicamkan adalah kesesuaian visi diri dengan pemberi beasiswa. Hal ini penting karena pemberi beasiswa harus terwakili dalam visi hidup dari seorang calon. “Karena apapun beasiswanya, yang memberikan beasiswa punya tujuan berbeda-beda, jadi sesuaikan dengan visi misi pribadi juga, jelas seorang ibu yang seorang Direktur Sekolah Sukma Bangsa Bireuen.

Terutama ketika Anda ingin melamar beasiswa LPDP. Anda perlu melihat apakah memiliki rekaman pengalaman pengabdian untuk negeri baik sebelum mendaftar atau setelah Anda mendaftar. LPDP menuntut keterlibatan Anda dalam berbakti untuk negeri. Jadi, LPDP akan lebih condong melihat rekam jejak apakah Anda aktifis yang berkonstribusi terhadap negeri ini atau tidak. Menurutnya, pengalaman ini akan membantu menambah poin penilaian. Jadi, LPDP semacam diikat oleh kerja pengabdian bahkan setelah Anda lulus dari kuliah.

Ketika para pelamar memiliki segudang pengalaman pengabdian maka akan sangat memudahkan membuat essay dan wawancara karena memang pengalaman praktis di lapangan sangat menentukan nilai tambah bagi seorang kandidat.

Berdasarkan sejumlah amatan dari para alumni yang saya kenal, nampaknya peran-peran masa lalu di dunia sosial sangat menentukan pertimbangan terhadap calon pemburu beasiswa LPDP. Bahkan, peran ini dilihat juga dari nilai keberlanjutan setelah calon selesai studi. Bahkan ada yang mengatakan jika peran ini berlanjut, maka akan bisa langsung seorang calon mengambil studi lanjutnya, misalnya dari S-2 ke S-3. Sebagaimana dikatakan oleh Satia, yang langsung dari Finlandia, sebuah negeri terkenal dengan pendidikan yang sangat baik, menganjurkan agar peran pengabdian ini harus jelas bagi setiap pelamar.

Bekal lain tentu adalah bahasa Inggris dan wawasan yang luas. Bagi pelamar setidaknya tidak hanya paham tentang kuliahnya, tetapi memilik berbagai pengetahuan yang diambil dari buku-buku terkini, opini dan berbagai perkembangan mutakhir tentang peristiwa yang berhubungan dengan peristiwa nasional dan internasional.

“Jika lulus ke tahap substantif, latih wawancara dengan teman, banyak membaca berita-berita terkini, mulai punya opini dan argument yang baik untuk topik-topik hangat. Pastikan opini tersebut orisinil dan jika memungkinkan pakai data, biasakan berdiskusi dan lihat kecenderungan kamu (apakah cenderung dominan, pasif, terlalu lama mikirnya) dan dilatih lagi, kata Satia yang tinggal di Finlandia bersama keluarganya. Jadi, seorang pencari beasiswa LPDP memang harus super aktif, baik di bidan prestasi akademik maupun di luar akademik.

Selain kemampuan akademik tersebut, sebenarnya yang paling kunci adalah semangat yang kuat dan pantang menyerah. Sebagaimana yang dituturkan oleh Satia, pencarian beasiswa ini baru sukses setelah dia mencari dan mencoba yang kelima. Jadi, janganlah putus asa ketika para pemburu beasiswa tidak lolos untuk yang pertama.

Oleh karena itu, agar lebih siap, sebaiknya persiapan kemampuan di akademik, bahasa Inggris dan peran-peran sosial kemasyarakatan dapat dirintis oleh pemburu beasiswa sejak masuk kuliah sarjana sehingga Anda sudah benar-benar memiliki modal yang cukup. Jangan sadari kemauan itu saat di akhir-akhir menjelang lulus, tentunya jauh akan merugi.

Persiapan itu dapat dimulai saat masih kuliah. “Coba mulai dijajaki apa minat spesifik teman-teman dalam bidang yang sekarang. Baca penelitian-penelitian di bidang tersebut dan juga kalau ada kesempatan untuk membantu penelitian dosen, jangan malu-malu untuk mengajukan diri,” pungkas Satia yang memiliki moto hidup, “do small things with great love.”

Itu sekelumit tips yang bisa saya resum dari Kuliah Online Beasiswa pertama yang kemudian disingkat KuLonBe yang dimoderatori oleh Atika Mustaghfiroh, seorang penerima beasiswa LPDP yang masih aktif kuliah pada semester tiga di S-2 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Atika yang biasanya dipanggil Awik, juga aktif sebagai relawan untuk pendamping usaha mustahiq di Sabilillah Entrepreneur Institute (SEI) Malang.

Sampai di sini dulu ya penggalan tips mendapatkan beasiswa LPDP yang diambil dari sebagian materi di kuliah KuLonBe SEI Malang. Tips berikutnya silahkan diikuti pada tulisan berikutnya ya karena tips ini masih disarikan dari pertemuan KulOnBe perdana secara online melalui kelompok whatsapp.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here