Modernisasi dan Kearifan Lokal, Bisakah Beriringan?

0
66
Pengrajin Jala Ikan di Pasar Blawi, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan

Derasnya laju modernisasi di satu sisi memang memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia. Derap inovasi teknologi yang setiap hari membanjiri dunia kian memanjakan manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Namun, pada saat bersamaan modernisasi menimbulkan dampak yang tidak sederhana. Tidak sedikit kearifan lokal warisan leluhur yang kian tergerus dan hilang ditelan zaman. Haruskah demikian? Tidak bisakan keduanya berjalan beriringan?

KampusDesa-Kenyataan bahwa hidup terus berjalan memang tak bisa dinafikan. Dan setiap perjalanan pasti di dalamnya ada proses meninggalkan dan menemukan. Meninggalkan yang lama yang sudah tidak sesuai dengan konteks yang terus berkembang. Menemukan hal-hal yang baru yang relevan untuk masa sekarang dan masa depan. Tapi bisakah kita memadukan keduanya? Menemukan tanpa harus meninggalkan.

Beberapa waktu lalu saya diajak rekan mengunjungi mahasiswa yang sedang PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) di Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan. Kecamatan ini seperti wilayah utara Lmaongan yang lain, dipenuhi dengan tambak-tambak udang, lele, dan bandeng. Sepanjang perjalanan menuju lokasi, mata dimanjakan dengan hamparan kolam-kolam air di kanan-kiri jalan.

Usai berkunjung ke madrasah tempat mahasiswa PPL, kami singgah di sebuah pasar sekadar untuk melepas dahaga. Makan bakso dan minum es degan. Pasar itu bernama Pasar Blawi. Sebuah pasar tradisional seperti pada umumnya. Sambil menikmati bakso, rekan saya bercerita tentang masa kecilnya.

Semasa kecilnya, untuk sampai di pasar ini masyarakat menggunakan perahu sebagai alat transportasi. Mereka memanfaatkan sungai yang membentang membelah wilayah Kecamatan Glagah dan sekitarnya. Bahkan katanya, perahu-perahu yang berlalu-lalang di sepanjang sungai ini tidak hanya perahu pribadi warga. Tapi juga perahu untuk angkutan umum. Bisa dibayangkan betapa sibuknya sungai ini.

Selain sebagai prasarana transportasi, sungai ini juga menjadi tumpuhan hidup masyarakat. Seperti mandi dan mencuci, mengairi tambak atau membuang air tambak ketika panen tiba, menjala atau memancing ikan, dan sebagainya. Anak-anak pada masa itu juga sangat gembira bermain di sungai.

Sekarang ini hampir tidak ada lagi masyarakat yang memanfaatkan perahu sebagai moda transportasi.

Namun, seiring berkembangnya zaman dan berputarnya roda kehidupan. Berbagai kearifan lokal masyarakat sepanjang sungai ini, perlahan mulai mengalami pergeseran. Lebih-lebih ketika kendaraan bermotor mulai memenuhi desa. Sekarang ini hampir tidak ada lagi masyarakat yang memanfaatkan perahu sebagai moda transportasi. Mereka lebih memilih motor karena alasan efektivitas dan efisiensi. Perahu kini hanya digunakan sebagai sarana untuk memberi makan ikan tambak saja. Hanya sedikit masyarakat yang masih bertahan menggunakan perahu.

Sedikit cerita dari rekan saya ini menggambarkan dinamika yang kita alami dalam hidup ini. Ketika budaya dan peradaban semakin berkembang dan maju, akan selalu ada budaya yang ditinggalkan. Hal ini memang sebuah keniscayaan yang tak terelakkan. Dan tak menjadi soal. Yang menjadi persoalan adalah ketika nilai-nilai adiluhung yang menjadi dasar filosofis budaya warisan leluhur turut pula ditinggalkan.

Kita justru bangga dan mengagung-agungkan apa-apa yang datang dari luar, yang sebenarnya kurang sesuai dengan jati diri kita.

Kita yang mengklaim diri sebagai manusia modern ini semakin hari semakin asing dengan nilai-nilai yang sebenarnya merupakan identitas diri kita sendiri. Kita justru bangga dan mengagung-agungkan apa-apa yang datang dari luar, yang sebenarnya kurang sesuai dengan jati diri kita.

Kearifan lokal masyarakat Glagah yang kini mulai tenggelam sebagaimana diceritakan oleh rekan saya tersebut, semestinya menjadi perhatian pemerintah, masyarakat, dan pihak-pihak terkait lainnya. Pemanfaatan sungai dengan perahu sebagai moda transportasi bukan hanya sekadar persoalan infrastruktur. Melainkan ada berbagai aspek sosial-budaya di dalamnya. Melalui sungai inilah dialektika masyarakat terbentuk. Ikatan komunal sebagai ciri khas masyarakat pedesaan akan menguat.

Pembangunan berbagai infrastruktur seperti jembatan, jalan, penggunaan kendaraan bermotor serta berbagai modernisasi lainnya tak perlu menjadi faktor penenggelam kearifan-kearifan lokal yang ada. Justru harusnya mampu disinergikan.

Dalam hal ini kita dapat mencontoh negara Jepang. Negara tempat asal bunga Sakura ini begitu maju dengan modernitas dan teknologinya namun tidak membunuh kearifan-kearisfan lokal warisan leluhur. Justru hal tersebut mereka jaga dan lestarikan hingga menjadi identitas di mata internasional.

Kearifan lokal bukan sekedar warisan budaya, melainkan juga sebagai identitas masyarakat. Dan sudah barang tentu perlu untuk dilestarikan supaya kita tidak lupa dari mana kita berasal dan kemana kita akan melabuhkan bahtera kehidupan.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here